17 Agustus Tahun Ini Tak Lagi Lusuh

Suara mesin jahit menggema di sudut ruangan gubuk reyot yang menjadi tempat berteduh aku dan kakek. Pelan-pelan kudekati kakek yang tengah sibuk menjahit. Kuamati kerutan alami di wajahnya pertanda usianya yang senja, nampak serius menjahit kain bewarna merah putih berukuran 120 cm x 180 cm dengan mesin jahit yang telah usang.

Selalu, kegiatan kakek mendekati tanggal 17 Agustus ini kerap dihabiskan untuk menjahit. Sebuah bendera merah putih yang lusuh. Warna merahnya sudah pudar hampir mendekati oranye, semetara warna putihnya sudah tak lagi putih. Pada salah satu sudutnya terdapat sobekan yang cukup panjang karena diterpa angin pada 17 Agustus tahun kemarin. Penyebab kakek menjahit larut malam begini.

Kakek adalah salah satu dari ratusan veteran yang tak diakui oleh pemerintah. Tapi kakek tidak pernah menuntut pengakuan, karena dahulu ia berjuang demi kemerdekaan Indonesia bukan demi pengakuan negara. Padahal jika kakek dapat hak nya sebagai veteran, mungkin dapat memperbaiki taraf hidup kami saat ini.

Aku dan kakek hidup sangat sederhana. Tinggal di gubuk reyot di petak ukuran 4×6 meter. Kakek memiliki satu mesin jahit peninggalan almarhumah istrinya, yang kerap ia pakai untuk menjahit bendera kami yang sobek nyaris setiap tahun karena usia bendera yang cukup tua. Kata kakek bendera tersebut adalah saksi atas perjuangannya. Dahulu nenek menjahitkan bendera tersebut, kemudian di bawa kakek kemanapun saat ia berjuang melawan penjajah. Bahkan ketika kakek ditangkap oleh Kolonial Belanda, bendera tersebut menjadi rekannya di dalam penjara.

Yah, kami sangat miskin. Aku hanyalah kuli pasar dengan penghasilan yang tak seberapa. Uang hasil perasan keringatku terkadang tak cukup untuk makan sehari-hari. Di dunia ini aku hanya memiliki kakek, lelaki hebat yang tak pernah putus asa walau usianya telah senja.

Pukul 11 malam, deru mesin jahit telah berhenti. Kulihat kakek mengamati bendera lusuh dalam genggamannya dengan mata berkaca. Lalu dilipatlah dengan rapi bendera tersebut, dimasukkan ke dalam plastik bening kemudian diletakkan di lemari reyot pada tumpukan paling tinggi. Selama ini, ketika membuka almari tersebut yang kudapati adalah bendera lusuh kakek yang berada di tumpukan paling tinggi diantara baju-bajunya. Sebuah hal sederhana yang dilakukan sebagai bentuk cinta negeri ini.

“Apa impian kakek saat ini?” tanyaku dalam keheningan malam.

Perlahan kakek menuju tikar alas kami tidur, membaringkan tubuh rentanya di sana. Dengan sedikit bergetar kakek menjawab, “Aku sangat ingin bendera baru, Nak. Hatiku sakit saat melihat bendera itu sobek karena terpaan angin,” jawaban kakek yang hampir sama setiap tahunnya ketika kutanya demikian.

Tak ada lagi pembicaraan kami, kakek sudah terlelap dalam alam mimpi. Aku bangkit perlahan dari tikar ini, menuju lemari paling bawah. Kuambil sebuah celengan berbentuk ayam jago, yang sudah kuisi selama 5 tahun belakangan ini. Aku mulai menyisihkan sedikit dari penghasilanku bekerja walau itu hanya 500 rupiah. Kupecahkan celengan tersebut, kuambil pecahan pecahan rupiah di dalamnya.

Esoknya, segera aku ke toko membeli bendera baru. Setelah kudapat bendera di tanganku, aku bergegas pulang. Meletakkan bendera tersebut di tumpukan paling tinggi, di atas bendera lusuh milik kakek.

Pagi ini tanggal 17 Agustus. Kulihat kakek membuka lemari, mata sayunya berbinar seketika melihat apa yang berada dalam tumpukan paling atas. Sebuah bendera merah putih kebanggaannya. Warna merah cerah tanda berani dan putih perlambah suci. Gambaran jiwa kakek yang berani nan suci. Dengan bangga kakek mencium bendera tersebut, membuatku berkaca-kaca. Oh, betapa cintanya kakek pada negara ini.

17 Agustus tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bendera merah putih yang tak lagi lusuh bekibar dengan gagahnya di depan teras rumah, di pucuk paling tinggi tiang bambu berukuran 10 meter. Berkibarlah benderaku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *