Abai

Oleh : Chiti Rahayu

Panggil aku Elay, mahasiswa semester akhir yang sok handal mengatur waktu dan tak pandai bersyukur. Memang sudah sepatutnya aku menempuh skripsi namun masih saja aku merasa kurang dengan nilai dan IPK ku. Alhasil berbagai matakuliah yang sudah aman pun masih ku ulang di semester akhir, tak hanya itu berbagai rentetan kegiatan organisasi pun tak luput dari genggamanku.

Seperti biasa berangkat pagi untuk kelas lalu mengunjungi sekretariat dan di lanjutkan dengan rapat hingga petang menyerbu. Rutinitas harianku seperti itu, tentu tidak sama dengan teman teman sekelasku lainnya. Mungkin aku adalah salah satu mahasiswa yang sok handal dan sok mampu mengatur waktu. Di saat temanku sibuk mengerjakan proposal aku sibuk menghadiri kelas, di saat teman-temanku mempersiapkan seminar aku sibuk mempersiapkan proker (Program Kerja).  Pulang sedikit larut malam selalu membuatku kelelahan, selimut dan bantal selalu mendekapku dengan erat membuatku tak pernah ingat dengan kewajiban sebagai mahasiswa akhir.

“Lay, kau ini belum ngerjain proposal, bentar lagi mau seminar loh” suara batin yang selalu menjadi lagu pengantar tidurku.

Triinggg, triiiinggg, tringggg,,, tentu saja itu suara telepon.

“Hallo assalamualaikum, ibuk?”

Ku lihat jam di tembok masih pukul 23.00, lalu kulanjutkan bercakap panjang lebar dengan ibuku di telepon. Bukannya senang sebab habis bertukar kabar dengan ibu tercinta, namun kini aku semakin lemas semakin tak bersemangat, bagaimana tidak kabar yang dikirim kali ini membuatku kehilangan kepercayaan untuk lulus tepat waktu. Ibuku tak akan mampu menghadiri wisuda ku tahun depan, beliau ada dinas di Malaysia. Ibu baru pulang ke Indonesia 2 tahun lagi, kalau aku beruntung pasti aku sudah lulus bahkan wisuda atau bahkan sudah kerja saat ibuku pulang. Marah, tentu saja aku sangat marah pada ibuku, lalu siapa yang akan menghadiri wisudaku nanti?.  Langsung ku tutup telepon tanpa sepatah kata pun melampiaskan kemarahanku pada ibu.

Hari ini hari minggu dan aku harus rapat hingga larut malam, besok adalah hari dimana aku melaksanakan tugasku untuk seminar proposal. Tentu saja aku sudah menyelesaikan proposal, namun belum sempat membaca ulang apalagi memahami semua materi yang terkait. Berada di sekretariat membuatku tak pernah bisa fokus belajar presentasi untuk esok hari, belajar kini hanya sebuah reminder yang berkutat dalam benak ku saja.  Tepat pukul 10.00 malam aku baru mendaratkan kaki di kamar kos tersayang. Langsung ku buka laptop dan ku baca jurnal dan proposalku, namun apa daya setelah 3 jam di depan laptop aku hanya membaca berulang-ulang tanpa ada yang ku pahami. Kepala ku terasa pening dahiku terasa berdenyut denyut aku tahu aku kelelahan dan kurang tidur, sudah 3 hari aku kurang tidur demi menyelesaikan laporan pertanggungjawaban dan proposal seminar. Aku tak punya pilihan lain aku harus tergaja sampai pagi, belum ada materi yang benar-benar ku pahami. Berkali kali hp ku berdering tanda telepon dari ibu dan berkali-kali aku abai dengan dering tersebut.

Ah, aku menyerah ku angkat telepon dari ibuku rupanya beliau tahu whatsapp ku online terus.

“Kok belum tidur nak, dari tadi whatsapp mu online”

“Lay lembur buk, besok seminar dan Lay belum memahami materi bagaimana jika besok presentasi Lay jelek, bagaimana jika Lay tak dapat menjelaskan materi, bagaimana jika..”

Belum selesai bicara ibuku langsung memotong keluhanku

“Huss ndak boleh ngomong gitu, pasti bisa kamu nak, kalau tidak kuat jangan di paksa, istirahatlah walau sebentar tidur dulu nanti ibu bangunkan, kamu mau di bangunkan jam berapa?”

Kulihat sekarang sudah pukul 2.30 dini hari

“Iya buk, bangunin jam setengah 4 saja ya buk, lay belum banyak belajar”

“Iya nanti ibu telepon ya, sekarang tidur dulu”

Tumben sekali aku jadi anak yang penurut, langsung ku ambil selimut dan pergi tidur. Sesuai janji, ibuku membangunkanku jam setengah 4 lalu segera ku ambil wudhu dan menunaikan sholat subuh dan ku ambil lagi buku serta laptop kemudian ku baca dan ku tulis apa yang ingin ku sampaikan saat seminar. Tentu saja mataku masih terasa panas dan perih namun pening dan denyutan di dahi sudah mulai reda.

Teringat pesan ibu saat membangunkanku, “Jangan lupa baca bismillah dan kabari ibuk kalau mau berangkat”. Namun aku sudah kehabisan waktu, aku buru buru maaf ibu anakmu tak sempat mengabari. Hari ini aku akan melakukan seminar, teman temanku menyebut ini sebagai sempro alias seminar proposal. Salah satu pintu masuk mengerjakan skripsi. Setiba di ruangan semua audience sudah siap beserta dosen pembimbingku. Aku langsung menuju tempat pemateri dan melangsungkan seminar. Aku mengabaikan semua pesan ibuku, bahkan aku tak baca basmalah sebelum presentasi. Biasanya aku akan gugup dan kesulitan bicara di depan banyak orang kemudian tanganku akan bergetar saking gugupnya. Anehnya kali ini aku benar-benar tenang dan lancar menjelaskan materi. Aku sama sekali tak menyangka akan selancar ini, bahkan aku terlihat seperti sudah lama menyiapkan presentasi kali ini. Aneh sekali, aku bahkan tak percaya dengan pencapaian ini, dosen pembimbingku bahkan memuji hasil presentasiku dan semua audience bertepuk tangan.

“Ah aku bisa tidur dan istirahat sepulang seminar ini” dalam batinku bersuara. Tiba tiba ada yang memanggil namaku,

“Layy, layy…” Rupanya temanku si Aris yang memanggil ku

“Lay, ayo ngerjain tugas akhir deadline nya besok loh”

Anjir, aku lupa !” gagal sudah rencana rebahan di kos tersayang.

Berangkatlah aku ke kos Aris dan mengerjakan TA hingga senja berganti malam. Tepat saat adzan maghrib berkumandang kami telah selesai mengerjakan tugas dan saat ini pula aku baru sadar aku datang bulan!, anjir lengkap sudah penderitaan hari ini. Dering telepon kembali terdengar, kriiing…

“Ya dek, ada apa?” tanyaku pada Nur adik tingkatku yang satu organisasi denganku.

“Mbak, bisa bantuin ngerjain sertifikat di sekretariat sekarang?” pintanya yang tak pernah bisa kutolak.

Masih dengan keadaan kacau balau belum mandi dan baru datang bulan, semua wanita pasti paham betapa kacau hariku ini. Lalu aku berangkat ke sekretariat dan membantunya hingga selesai, pukul 20.00 malam aku baru beranjak untuk pulang ke kamar kos yang sangat kurindukan. Aku rebahkan kepalaku di atas ranjang, lalu air mata tiba tiba mengalir di pipi tanpa alasan yang jelas. Baru ku ingat kalau aku sama sekali tak menelfon ibuku, pasti beliau sangat khawatir. Lalu ku telfon ibuku.. tutt tutt… belum ada yang mengangkat..

“Halo assalamualaikum”

Rasanya ini bukan suara ibuku, ini suara bulek ku.

“Halo, bulek mana ibuk?”

“Ya Allah Elay, kemana saja kamu nduk. Ibumu sedang di ruang ICU, tadi pagi dia kecelakaan saat pulang dari rumah eyang kakung, eyang mu bilang ibumu kesana minta doa katanya kamu hari ini mau sempro”

Dheg, bibirku bergetar dan airmata tak henti menetes…

 

Aku baru paham alasan aku bisa lancar sempro hari ini

Dan aku paham betul atas berbagai macam kekacauan yang menimpaku hari ini

Berulang kali Tuhan memperingatkanku, namun seperti biasa aku selalu abai

Permintaan kecil untuk mengabari ibuku pun aku lalai

Seabai apapun aku dengan ibuku, beliau selalu mendukung dan mendoakanku

Maaf ibuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *