Ade Gunawan: Prestasi Anak Buruh Bangunan dari Wingko Cinta Hingga Studi di Istanbul, Turki

Imam Ghazali pernah mengatakan,“Jika engkau bukan anak seorang raja ataupun ulama, maka jadilah penulis.” Itu sangat cocok bagi saya yang hanya anak seorang buruh bangunan untuk menjadi penulis yang hebat

 

Ade Gunawan adalah salah seorang mahasiswa penerima Bidikmisi dari Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta. Mahasiswa asal Depok ini berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bapaknya hanya seorang buruh bangunan dan ibunya sehari-hari di rumah. Namun hal tersebut tak membuatnya putus asa.

Alhamdulilah dengan bantuan biaya Bidikmisi ini sangat terbantu untuk bisa kuliah karena dalam keluarga saya dari kakek dari ayah maupun ibu saya merupakan orang pertama yang bisa kuliah. Ayah hanya S2 (SD dan SMP) dan ibu hanya SD bahkan hampir tidak lulus SD waktu itu.”

AWAL MASUK KULIAH
Awalnya, Ade tidak ada niatan untuk kuliah karena faktor ekonomi. Ia bersekolah di SMK Negeri 1 Depok Jurusan Teknik Kendaraan Ringan karena ingin langsung bekerja setelah lulus.

“Awalnya, nggak ada keinginan untuk kuliah. Beberapa waktu sebelum kuliah ada keinginan untuk kuliah. Akhirnya ikut daftar SNMPTN, namun gagal. Kemudian ikut SBMPTN ngambil Pendidikan Agama Islam yang itu bener-bener insyaf dari otomotif ke agama. Dan itu bener-bener gak mudah dari IPA ke IPS. Beberapa bulan belajar tentang IPS dan SOSHUM kerena keinginan untuk kuliah tinggi. Sempat gak boleh karena gak bisa membiayai. Ada saudara yang menyarankan kuliah dengan Bidikmisi. Waktu itu tepat bulan Ramadhan alhamdulillah lulus di pilihan pertama, Prodi Pendidikan Agama Islam,” cerita Ade saat diterima kuliah di Universitas Negeri Jakarta.

PERJUANGAN SETELAH DITERIMA KULIAH
Awal menjalani kuliah, banyak hal-hal sulit yang harus Ade hadapi seperti mata kuliah yang tidak sesuai dengan jurusannya saat di bangku SMK. “Karena pada saat itu kan basic-nya kendaraan, jadi harus bener-bener serius kuliah dan belajar sungguh-sungguh.” Ia sempat minder dengan teman-temannya yang kebanyakan lulusan dari pondok pesantren. Namun ia tak gentar.

“Apabila mereka berjalan, maka saya harus berlari.” Begitu motivasi Ade untuk terus berusaha.

Ade mencari domisili yang dekat dengan kampus dan menemukan pondok pesantren dimana ia bisa belajar Agama Islam dan Bahasa Arab.
Mengingat IPK minimal yang harus didapat mahasiswa Bidikmisi adalah 2,75, maka ia harus benar-benar belajar supaya Bidikmisinya tidak diganti atau dicabut. “Karena kalau Bidikmisi saya diganti, saya tidak bisa kuliah lagi,” ungkap Ade.
Semester pertama ia mendapatkan IP yang mengejutkan yaitu IP 3,91, hanya terdapat satu mata kuliah yang mendapat nilai B, sedangkan lainnya murni A semua.

Alhamdulillah. Nah setelah itu saya menjalani kuliah seperti orang-orang biasanya.”

Ade Gunawan mengalami beberapa permasalahan seperti yang dialami mahasiswa Bidikmisi pada umumnya, yaitu masalahnya keuangan yang tidak stabil. Ia mencoba berwirausaha dengan menjual makanan, pulsa, dan sebagainya.
Salah satu makanan yang ia jual dan menjadi favorit di kalangan mahaiswa adalah wingko babat. Wingko dari Jawa tersebut ia kreasikan menjadi wingko cinta yang berbentuk love dan bunga berwarna merah muda. Ia kemudian mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha UNJ dan didanai.

“Alhamdulillah, setelah ikut itu akhirnya tembus dan didanai UNJ sekian juta untuk penjualan dan sehari-hari. Karena upah orang tua gak sehari-hari ada, namanya buruh bangunan saya harus bekerja keras lagi.”
Untuk memanajemen keuangan, Ade juga menjadi sopir ojol (ojek online) Grab saat sebelum dan setelah kuliah atau saat waktu luang.

PRESTASI YANG DIRAIH
Rupanya, Ade Gunawan memiliki hobby menulis. “Seperti kata Imam Gozhali, kalau kau bukan anak ulama atau anak raja, maka jadilah seorang penulis,” begitu unggapnya.

Hingga akhirnya tulisannya tersebut ada yang didanai kemeneg, juga Dikti bersama dosen dan karya tulis dalam perlombaan yang menghasilkan predikat juara. Ade Gunawan menjadi salah satu mahasiswa yang menjadi tim peneliti tentang pesantren berbasis lingkungan. Penelitian ini terdapat di beberapa daerah seperti Kalimantan, Lombok, Palu, Bogor, dan Bandung.

Alhamdulillah, sambil belajar menulis, meneliti, dan jalan-jalan. Yang awalnya belum pernah naik pesawat terbang akhirnya bisa naik juga.”

Semenjak itu, seminar Nasional maupun Internasional sudah sering ia ikuti dan dibiayai.

Puncaknya, saat itu ia bisa pergi ke Malaysia dan Singapura dengan dibiayai dalam rangka seminar İnternasional.

İmam Syafi’i Rahimakumullah pernah mengatakan :

حياة الفتى – والله – بالعلم والتقى

Hidupnya pemuda -Demi Allah- dengan ilmu dan ketaqwaan.

Disamping akademik dan artikel ilmiah yang Ade geluti, ia juga harus istiqomah dalam belajar Ilmu agama.

Alhamdulillah, setelah menyelesaikan skripsi dan lulus nanti, In Syaa Allah saya akan melanjutkan studi di Istanbul, Turki lewat jalur beasiswa dalam Program Tekamul.
Sebuah Impian yang belum saya impikan sebelumnya, namun saya yakin dengan Istiqomah dan Yakin dalam meniti hidup, semua akan mudah dan dapat diraih.” (Ifana Fitri Tazkia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *