AKU DAN SETENGAH PERJALANANKU DI FORMADIKSI UM 2019

–Sebuah kisah setelah Upgrading Pengurus Formadiksi UM 2019 –

FEATURE, Formadiksi UM News – Merangkak kembali aku pada klise masa lalu. Bayang-bayang kecil sedang asyik berlarian dari satu bilik kamar ke kamar lainnya. Mengejar dan menangkap seekor cicak untuk temaniku habiskan hari hingga sore menjelang. Hingga ayah dan ibu datang mengajakku ibadah di akhir surup.

Saat itu terasa masih terlalu dini aku untuk berhenti bermain-main. Sampai jenjang sekolah menengah tiba, tak kujamah dunia di luar sana. Mereka nampak tidak menggoda, tidak mengasyikkan, tidak seperti cicak-cicak yang merayap cepat saat kukejar dan coba kugapai dengan sapu. Sama sekali tidak menantang. Hal-hal tentang masa depan adalah suatu ketabuan yang berarti bagiku. Apalagi aku telah mempelajari bahwa dunia itu fana, tidak abadi. Seakan tak perlu ada yang harus kucari-cari lagi.

Seorang yang pasif, pemalu, berkepribadian introvert, dan tidak bersemangat mengejar mimpi. Boro-boro mengejar mimpi, mimpi apa yang akan kukejar saja aku tak tau. Sifat-sifat itu cukup mewakilkan bagaimana seorang aku. Terus seperti itu hingga dunia menuju perkuliahan akhirnya menjadi gerbang terakhir bagiku hidup tanpa mimpi. Mengawali masa perkuliahan memanglah penuh dengan arahan dan bimbingan dari orang tua. Bagiku, persiapan untuk masa perkuliahan berbeda adanya dengan sekolah-sekolah sebelumnya. Entah apa hal krusial yang membedakannya, tapi gambaran di televisi seperti tidak perlu mengenakan seragam saat kuliah, membawa buku di tangan, gambaran-gambaran tentang senior dan dosen, sudahlah cukup untuk membuatku berpikir bahwa gerbang menuju perkuliahan harus dilewati dengan penuh pembekalan berupa pengarahan dari orang tua.

Waktu begitu cepat berlalu. Sesampainya aku di gerbang perkuliahan, tak kulihat lagi berkas bayang orang tuaku.  Sejak saat itulah duniaku berubah. Hal-hal yang mulanya tidak seasyik mengejar cicak-cicak yang berlarian di dinding rumah, kini kian ingin kugenggam saja dengan cepatnya. Berbagai hal kemudian kudapatkan, berbagai hal juga kemudian kupertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu membuat diriku lebih berani untuk mengeksplorasi sesuatu, memiliki gambaran untuk kuliah di luar negeri tanpa harus lagi bergantung dengan informasi dari orang tua, membangun koneksi dengan banyak kawan, dan pastinya berbagai pengetahuan serta pengalaman menjadi bekal tersendiri untukku dalam melangkah di perkuliahan ini.

Di luar perubahan-perubahan yang terjadi padaku itu, sebagai penerima Bidikmisi aku merasa berkewajiban agar dapat selalu berkontribusi untuk masyarakat, contoh sederhananya adalah untuk kampusku sendiri, Universitas Negeri Malang. Semangat berorganisasiku pun muncul beriringan dengan semangat-semangat mengembangkan diri. Forum Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang atau yang biasa disebut Formadiksi UM merupakan salah satu organisasi yang kuikuti. Di sana aku beserta jajaran pengurus lainnya memiliki tanggung jawab untuk mengurus berbagai hal terkait kebidikmisian sebagaimananya tugas Formadiksi UM.

Berada di sana bisa membuat aku seakan benar-benar keluar dari zona introvert-ku, aku lebih terbuka untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan iklim yang kurasa sangat berbeda dengan organisasi lainnya, aku mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan pengalaman. Di luar itu, aku juga mendapatkan sebuah keluarga di Formadiksi UM. Menurutku iklim kekeluargaan ini memang benar-benar ditumbuhkan sejak masa awal pendirian Formadiksi UM. Sebab tidak hanya antarpengurus saja aku dapat menjalin komunikasi bahkan silaturahmi, alumni pengurus juga senantiasa sangat mudah untuk dihubungi terlebih apabila ingin melakukan sharing terkait apapun.

Jika ditanya bagaimana aku menemukan Formadiksi UM, akan menjadi cerita yang cukup panjang untuk disampaikan. Akan tetapi singkatnya, Formadiksi UM telah kukenal sejak aku menjadi calon penerima Bidikmisi. Surveyor yang saat itu melakukan visitasi ke rumahku (sebagai salah satu alur seleksi penerima Bidikmisi) merupakan salah satu pengurus pula. Setelah wawancara dan visitasi rumah, ia memberikan informasi-informasi kebidikmisian dengan detail. Ia juga memberikan alamat situs media sosial untuk mengetahui informasi-informasi yang valid mengingat kesimpangsiuran sangat banyak terjadi.

Dari sanalah kemudian aku mengenal Formadiksi UM secara lebih dekat mulai dari melihat-lihat akun-akun media sosialnya hingga dipertemukan kembali dengan beberapa Pengurus Formadiksi UM, namun kali ini berbeda dari sebelumnya. Aku mengenal mereka dengan sangat baik. Keramahan dan kesabaran dalam menjawab semua pertanyaanku yang masih saja menganga dan memerlukan jawaban, dijawabnya dengan sangat baik dan lagi-lagi detail. Ritme apik ini kutangkap sebagai suatu budaya dan ciri khas dalam Formadiksi UM. Aku berhipotesis bahwa di Formadiksi UM akan kutemui sebuah keluarga.

Ya! Hipotesis itu terbukti benar setelah aku benar-benar resmi menjadi bagian dari pengurus. Walau sempat tidak yakin dapat lolos, tapi aku berusaha melakukan yang terbaik dan aktif ketika mendapatkan kesempatan berbicara saat Focus Group Discussion (salah satu rangkaian seleksi pengurus). Hingga kini aku bersyukur telah bersama-sama merajut pengalaman di Formadiksi UM.

Enam bulan menuju tujuh bulan usia kepengurusan 2019, membuat aku semakin mengerti sedang di mana aku mengabdikan diri. Di suatu organisasi yang bukan sekadar perkumpulan biasa, bukan hanya mengurus kebidikmisian dan kesejahteraan Mahasiswa Bidikmisi UM, namun aku kini berdiri di tengah-tengah keluarga kokoh Formadiksi UM. Banyak program kerja besar di sini. Namun yang membuat semua terlihat besar di mataku bukanlah cakupan program kerja itu, yang membuat Formadiksi UM nampak besar ialah kedetailan, ketelitian, dan kehati-hatian yang selalu berusaha dihadirkan dalam setiap kompleksitas kegiatannya. Program kerja tidak hanya dikonsep sebagai suatu kegiatan yang elegan, namun juga mengalirkan rasa kekeluargaan dan kebermanfaatan. Hal itulah yang kemudian di dalam setengah kepengurusan ini menghadirkan banyak pengalaman bagiku dalam berbagai sie di berbagai kegiatan.

Enam bulan bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui. Bagaimanapun suatu organisasi memiliki eksistensi, pasti di dalamnya ditemui tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Kejenuhan adalah musuh pribadiku dalam melangkah. Akan tetapi tak semudah datangnya kejenuhan kemudian aku harus menghengkangkan diri dari tanggung jawab untuk sekadar menuruti kejenuhan. Saat jenuh, aku selalu mengingatkan diri “Kenapa aku dulu memulai?”. Dari situlah aku semangat kembali untuk melanjutkan tanggung jawab. Kawan-kawan pengurus yang juga telah membersamaiku adalah pengalaman yang tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja, juga koordinator divisiku yang senantiasa memberikan motivasi untuk tidak mengenal kata letih.

Istimewa, kawan-kawan pengurus yang lengkap dari empat angkatan membuat cerita-cerita menginspirasi semakin beragam dan sayang untuk dilewatkan. Jangankan dari pengurus yang berbeda angkatan, dari pengurus yang satu angkatan denganku pun memiliki beragam cerita dengan semangat menginspirasinya masing-masing. Sungguh iklim yang sangat baik bagiku untuk memacu semangat belajar. Mereka sangat semangat dalam menempuh pendidikan lebih tinggi lagi tanpa menitikberatkan keadaan ekonomi yang saat ini. Sebab mereka yakin pasti ada jalan untuk orang-orang yang ingin menuntut ilmu, toh juga banyak beasiswa, tinggal bagaimana kita mau berusaha untuk menciptakan peluang agar meraih beasiswa tersebut.

Begitulah kisah singkat setengah perjalanan kepengurusan di Formadiksi UM tahun 2019. Sebenarnya tak ada ungkapan atau jajaran kalimat terbaik untuk mengungkapkan betapa berharganya Formadiksi UM dalam hidupku. Hanya saja yang kuyakini dari sebuah tulisan, ialah pancaran energi positifnya yang pasti dapat menciptakan berbagai inspirasi dan semangat diri utamanya dalam mengabdi. Semoga tulisan ini senantiasa bermanfaat dan selalu mengingatkan bahwa letak perjuangan bukanlah saat kita memenangkan sesuatu, tapi letak perjuangan yang sesungguhnya adalah saat kita mampu mempertanggungjawabkan kemenangan itu.

Formadiksi UM adalah keluarga utuh yang tidak serta merta berlabuh. Awak kapalnya dulu dibangun dengan perjuangan, dari suatu ketiadaan menjadi suatu langkah awal menuju kebermanfaatan yang hingga kini mampu besar dan memiliki eksistensi untuk Mahasiswa Bidikmisi. Mempertahankan jauh lebih sulit dari mendapatkan. Jika amanah tak pernah salah memilih pundak dan memang tidak akan pernah salah, maka tanggung jawab adalah sebuah hak baginya untuk kemudian dipersuarakan di akhir masa jabatan. Bukan hanya akhir masa jabatan, namun juga kelak akhir amalan masing-masing dari kita. 

Narasumber     : Dewangga Andhika Yuda

Penulis             : Amanatul Haqqil Ibad

Editor              : Nanda Ayu Luthfi Khofifah dan Nadya Erawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *