Alas Biru

Kali ini aku bukanlah pemeran utama yang akan jadi pusat perhatian. Sekadar figuran yang ikut menari bersama naskah. Kisahku hanya akan terlewat dalam benang merah dan acap kali hilang kala matahari tiba.

Sudahkah paragrafku bak ocehan seorang anak manusia? Aku telah berusaha, silahkan  menilainya. Kalian akan terkejut  begitu tau siapa yang sedang mendongeng,  atau  mungkin  biasa saja bahkan tak suka. Tapi tetap kau harus menyimak sampai akhir agar kau dapat memberi angka. Sembari menebak, simaklah ceritaku tentang seorang anak manusia  bernama Biru. Itu adalah warna namun juga sebuah asma. Ia  gadis mungil tak berparas  cantik yang lugu, tapi yakinlah ia indah seperti namanya itu.

* * *

Jam di dinding usang rumah menunjukkan pukul setengah lima sore. Langitpun mulai memperlihatkan redupnya. Tak hanya langit, kamar sempit ini juga menyetting hal yang sama.  Dengan tempo yang cukup cepat Biru masuk ke kamarnya. Duduk di atas kasur,  memandangi ponsel di  tangannya. Secara tiba-tiba Biru berdiri tak tenang. Ia kesana kemari lalu lalang. Bergerak ke kanan, kiri, depan, belakang, berputar, sekali putaran, setengah  putaran, bersihkan sel kulit mati dan kotoran. Apakah kalian bernyanyi? Jika iya, mengangguklah.  Jika mengangguk, kalian pasti orangnya penurut.

Di pojok kamar berlatar merah bata, aku melihat Biru bersikap gelisah. Terlihat jelas raut mukanya yang cemas. Tak sekali aku melihatnya memandangi jam dan kalendar sambil  menopang dagu dan menggigit kuku jari-jarinya. Aku jadi tertular panik. Apa yang membuat ia segelisah ini. Lalu aku menggeserkan tubuhku sedikit agar mampu melihat kalendar yang dari tadi menyita perhatian Biru. Baru kuingat, ini adalah hari dimana hasil studi  semesternya mulai keluar. Pantas saja ia sangat gelisah.

Oh ya, aku belum memberi tahu. Biru adalah seorang mahasiswi. Sudah satu tahun ini ia berkuliah di Universitas Negeri Malang, salah satu perguruan tinggi terbaik di Kota Malang. Biru adalah satu dari banyak mahasiswa beruntung yang mendapat pembiayaan pendidikan dari pemerintah melalui program Bidikmisi. Program ini diperuntukkan bagi siswa berprestasi yang berasal dari keluarga ekonomi rendah. Kalian bisa menafsirkan sendiri kan?

Hari itu Biru cemas menunggu penilaian hasil studinya. Ini mungkin terjadi karena ia tak percaya diri atau bahkan memang ia kurang maksimal selama menjalani perkuliahan. Siapa yang tau, akupun bukan cenayang. Namun yang aku tau, Biru sebenarnya bukanlah anak yang sangat pintar dan rajin belajar,  bahkan sedikit  malas, hanya saja cerdas. Tapi tetap  saja  itu tidak cukup dan jangan dicontoh. Namun, akhir-akhir ini Biru cukup rajin dilihat dari  ukuran pemalas sepertinya. Sebagai mahasiswa penerima Bidikmisi sepertinya ia sedikit tertekan karena memang ada aturan mengenai nilai IPK (Indeks Prestasi  Kumulatif) yang tidak boleh rendah. Hal itu sepertinya menjadi beban tersendiri baginya.

* * *

Hari ini Biru bermalas-malasan lagi. Kulihat dari atas kardus, ia hanya berbaring di atas kasurnya. Padahal, ia harus mengerjakan laporan praktikum yang harus dilaporkan besok pada asisten praktikum. Anak itu  keterlaluan. Aku kesal melihatnya. Saking dongkolnya aku  melompat sekuat tenaga ke arah kepalanya.

”Aaaaww!” Teriaknya kesakitan. Ah! Biar tau rasa. Ini kulakukan agar ia terbangun dari posisinya dan melihat ke arah meja yang berada tak jauh dari tempatku. Yap! Tebakanku benar. Biru melihat ke arah mejanya yang penuh dengan kertas HVS 80 gram itu. Akan tetapi, setelah melihatnya dari dekat tadi, aku sedih. Kulihat garis wajah Biru sangat muram tak bersemangat. Apakah ia sakit? Atau mungkin kepikiran sesuatu? Ah! Tapi tetap saja Biru  harus bangun, tugasnya menunggu.

“Ya Tuhan…. Laporanku! Kenapa gak kelar-kelar, sih!” geramnya.

Ya iyalah gak kelar zeyeeeeeng! Kan situ tiduran aja dari tadi. Biru memang kadang menggemaskan. Syukurlah ia tersadar dan langsung meraih bolpoin biru yang ada di dalam kotak pensil biru muda miliknya dan melanjutkan tugas hingga semua rampung. Sekadar informasi, selain namanya Biru, gadis ini juga sangat menyukai warna biru. Hampir semua barang miliknya berwarna biru, termasuk aku.

Ting..tung.. Biru melirik dan membaca notifikasi ponselnya. Lalu tiba-tiba,  “Oh  tidak!  Kenapa harus asistensi sekarang?! Bu, aku mau ke kampus.” Ucapnya terlihat sebal dengan volume yang cukup keras. Bergegas ia memakaiku dengan lekas, menyambar tas dan map di meja lalu membawanya berlari keluar.

Brakk! Biru terjatuh. Krekk! Aww! Badanku sakit sekali. Oh tidak! Sol bawahku lepas dan kulitku sobek. Ini bukan kondisi yang baik. Ia hanya punya aku. Jika aku rusak, tak mungkin  ke kampus dengan sandal. Sangat tidak sopan. Eh, apakah Biru tidak apa-apa? Syukurlah kondisinya masih baik, hanya memar di lututnya. Melupakan bagaimana tersungkur di depan rumahnya, ia melanjutkan langkah menuju pangkalan ojek terdekat. Semoga masih sempat.

Tiga ratus meter mendekati gerbang kampus, tiba-tiba kami berhenti.

“Wah! Maaf mbak bannya bocor, nih,” ungkap pak ojek sendu.

Dengan hanya memasang raut wajah cemas, tanpa kata, Biru meninggalkan pak ojek dan berlari dengan solku yang menganga. Jarak gerbang ke gedung tujuan cukup jauh yaitu hampir 1 kilometer. Kami pun berlari secepat mungkin, tapi kraakk! Ah aku sobek lagi. Tak pikir panjang, Biru duduk bersila di atas paving trotoar dan langsung menarik paksa sol ku yang tinggal 40%  dan kemudian kembali berlari. Cukup sakit kurasa di tubuhku. Tapi tunggu, tidakkah akan menyakiti kakinya bila itu dilepas? Bagaimana jika kakinya nanti lecet? Tidak!  tidak! Tugasku adalah melindunginya. Sangat disayangkan aku tak sempurna saat ini. Sakit hatiku merasakan injakan kakinya yang letih tertatih. Telapaknya pasti merasakan sakit tertusuk batu yang tak rata itu. Tetapi bagaimanapun juga aku harus tetap menemaninya berjuang. Meski sesak rasa di raga, demi dia yang telah menjaga.

Sesampainya kami di Gedung D2 UM,  Biru celingak-celinguk mencari seseorang, terlihat pening. Beberapa menit kemudian ponselnya berdering.

“Iya, halo,” jawabnya singkat sambil kemudian bersandar di dinding.

“Maaf, Biru. Saya harus keluar kota sekarang. Asistensi kita jadwalkan lagi nanti, ya.” Kudengar lirih kalimat itu keluar dari speaker ponsel.

Dari yang aku tangkap, sepertinya pertemuan asistensi mendadak ini telah dibatalkan.  Argh!  Kok bisa asisten itu membatalkan begitu saja. Sakit hati aku mengetahuinya. Jika aku saja sakit hati, bagaimana perasaan Biru, ya? Kalian tahu Biru telah berlari dengan penuh perjuangan untuk dapat menemui asisten praktikum yang juga kakak tingkatnya itu. Jatuh tak  dirasa, sakit tak diraba, bahkan merusak aku yang dia punya hanya satu saja. Mungkin bagi orang lain ini pembatalan biasa, namun aku yakin tidak baginya.

Tess… Terasa air menetes di tubuhku. Biru menangis. Tolong jangan menangis Biru! Masih ada aku. Kau telah berjuang, tak masalah bila tak terbayar, ada esok hari tuk melanjutkan. Jangan takut! Kau kuat! Ya, kurasa Biru memang sudah hebat. Ia telah berjuang melawan nafsu kemalasannya untuk menyelesaikan laporan. Aku salut pada Biru yang mampu berusaha. Menghadang nikmat malas yang terlihat sangat nyaman itu sangatlah susah. Ini serius, memang sangat tidak mudah. Mungkin di antara kalian juga merasakannya.

* * *

Satu persatu nilai mata kuliah Biru keluar bergantian. Rasa tegang mulai mereda kali ini. Delapan nilai A dan satu nilai B+. Wah! Dia memang luar biasa! IPK-nya cukup tinggi. Syukurlah, Biru sangat lega dan bahagia. Perjuangan satu semester yang cukup berat  baginya ini terobati dengan baik. Aku senang memandangnya dengan mata yang berbinar  cerah  itu. Aku terharu, hingga air mataku jatuh. Apakah aku bisa menangis? Hahaha, aku tak yakin. Emmm… Hari terakhir yang indah. Selamat tinggal, Biru! Terima kasih telah menjagaku.

 

Salsa  Islam  Lazuardini

FIP/Teknologi Pendidikan 2018

(Juara 1 Lomba Cipta Cerpen Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *