Bagaimana Bisa?

 Bagaimana Bisa?

Oleh: Annisa Tisna Mufidah

Nahla tersenyum ketika mengunjungi kembali SMA-nya. Sudah 3 tahun ia berada jauh di perantauan untuk melanjutkan pendidikannya selepas lulus menjadi siswa berprestasi. Kini ia kembali datang ke sekolah bukan sebagai siswa, melainkan menjadi pembicara dalam webinar pramuka. 

“Karena di sini, kita bertemu dan berpisah kembali,”

Lamunan Nahla membawanya mengingat masa itu.

***

Badan Nahla terasa lemas tak berdaya. Sudah dari tadi ia berlari untuk menuju sekolah barunya. Sesekali ia memperlambat larinya untuk mengatur nafas yang memburu dan detak jantung yang sangat berdegup kencang. Perasaan gembira untuk memasuki sekolah pertama kalinya membuatnya tidak sabar dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya itu. Ia telah mempersiapkan keperluan sekolah sejak seminggu yang lalu. Wajahnya sangat sumringah ketika hari ini telah tiba. Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan, pikirnya.

Nahla tak pernah menyangka jika ia akan berhasil diterima di sekolah yang sangat favorit dan bahkan jauh dari tempat tinggalnya. Sudah terkenal jika SMAN 3 Bogor adalah tempat sekolahnya anak-anak gedongan dan muridnya banyak yang pintar. Bisa dibayangkan nantinya Nahla akan berteman dengan anak-anak yang setiap harinya diantar ke sekolah dengan menggunakan mobil pribadi atau menggunakan sepeda motor sendiri. Namun tidak dengan Nahla.

Nahla adalah seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana. Bapaknya bekerja serabutan dan ibunya menjadi tukang cuci di rumah Pak Lurah. Nahla memiliki dua adik laki-laki yang aktif juga berprestasi. Untuk biaya sehari-hari sering kali kekurangan, tetapi tantenya berusaha membantu finansial paling tidak lima ratus ribu setiap bulannya. Beruntung jika orang tua Nahla pernah mengenyam bangku sekolah sehingga seringkali mendampingi anak-anaknya belajar hingga dapat berprestasi.

Terkadang terlintas dalam benak Nahla mengapa kehidupannya bisa seperti ini. Bukankah orangtuanya terpelajar? Namun sekarang kenyataannya ia merasa hidupnya ini kurang pantas untuk orang yang terpelajar. “Kesalahan di masa lalu,” ujar bapaknya. “Janganlah menyalahkan keadaan. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik lagi dan terus berdo’a karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu sendiri.”

            Benar jika kita terus mempersalahkan kehidupan masa lalu, maka kita tidak akan bisa memperbaiki keadaan, malah akan mempersulit kehidupan kita selanjutnya. Oleh karena itu, Nahla bertekad untuk tidak merasa minder di SMAN 3 Bogor meskipun ia berasal dari keluarga yang jauh dari kata mapan. Berkali-kali ia mengucap syukur karena bisa bersekolah di SMAN 3 Bogor lewat jalur prestasi dan beasiswa. Semua ini sudah diatur oleh Tuhan dengan begitu indahnya. Bertambahlah semangat Nahla.

Tempat pertama yang Nahla tuju adalah masjid. Baginya sebelum melakukan aktivitas, sebaiknya memohon kepada Allah agar dilancarkan segalanya, dan juga Nahla ingin merasa lebih dekat dengan Tuhannya yang sudah memberikan banyak rezeki yang tak terhitung jumlahnya. Tak butuh waktu lama bagi Nahla untuk mencari masjid SMAN 3 Bogor karena masjidnya sangat besar dan bagi Nahla itu masjid yang indah.

Karena Nahla termasuk orang yang berangkat awal, di dalam masjid masih agak sepi. Perasaan Nahla campur aduk karena dia memasuki rumah Allah yang bagus, bersih, dan juga wangi. Ia jelas sangat bahagia. Seketika itu juga Nahla menangis mengingat banyaknya dosa yang telah ia perbuat dan masih sering merasa sombong. Berkali-kali Nahla mengucap istigfar kepada Tuhannya. Setelah mengambil air wudu, Nahla langsung melaksanakan salat duha. Salat dhuha ini merupakan salat sunah yang dilakukan 2 rakaat. Setelah melaksanakan 3 kali salat duha, Nahla berdoa dengan khusyuk. Memohon agar diberi kekuatan dalam menjalani hidup, juga agar ia bisa mendapatkan cita-cita dengan mudah. Tidak lupa Nahla memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya.

Suasana masjid mulai ramai. Setelah selesai berdo’a dan akan melipat mukena, terdengar suara seseorang yang memimpin membaca Al-Fatihah dan membaca Asmaul Husna bersama. Nahla bersemangat mengetahui fakta jika di SMAN 3 Bogor ada pembiasaan seperti ini. Suara laki-laki yang memimpin jalannya Asmaul Husna sangatlah merdu. Nahla tak kuasa menahan air mata yang keluar dan merasa sangat kecil di hadapan-Nya. Ia jadi semakin yakin bila kuasa Allah sangatlah besar dan tidak ada yang bisa menyaingi-Nya.

Nahla mendapat kelas X MIPA 1. Hal itu diketahuinya setelah masa pengenalan sekolah yang dilakukan selama seminggu telah usai. Di papan pengumuman terlihat daftar nama siswa dengan penempatan kelasnya masing-masing. Nahla yang mudah akrab ketika masa pengenalan sudah mengenal sebagian besar nama-nama teman sekelasnya di MIPA 1. Kebanyakan berasal dari SMP favorit tapi itu tidak mengejutkan Nahla mengingat SMAN 3 Bogor juga sekolah yang favorit. Wajar saja jika murid-murid yang berasal dari SMP favorit mudah masuk ke jenjang yang lebih tinggi dengan sangat mudah.

Di kelas X MIPA 1 suasana sangat canggung bagi Nahla. Benak Nahla dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan. Bertemannya mengapa bergerombol, ya? Ada yang berbicara berempat, berenam, bertiga, berdua, namun juga ada yang hanya sendiri seperti aku. Apakah semuanya baik-baik saja? Apa ketika pengenalan ada yang belum bisa membaur dengan baik? Apakah mereka lupa denganku hingga tidak ada yang mau berbicara bersamaku? Atau mungkin aku melakukan kesalahan yang besar selama masa pengenalan kemarin?

“Tidak boleh terus begini. Ini adalah hari pertamaku mendapatkan pelajaran. Harus fokus dan jangan memikirkan pertanyaan yang aneh-aneh. Hati yang baik, semangat ya. Semoga hari ini akan berjalan dengan lancar. Tidak perlu takut sendirian. Allah bersamamu. Bayangkan senyum orangtuamu yang selalu mendukungmu. Ingat lagi untuk apa kamu belajar di sini dan tetaplah tersenyum,” Nahla berusaha memotivasi dirinya yang merasa tidak diterima dengan baik di kelas itu.

Tempat duduk di samping Nahla kosong. Teman-teman yang sudah ia kenal sebelumnya lebih memilih untuk duduk di sebelah teman yang berasal dari sekolah yang sama. Pasti rasanya memang berbeda bila harus menyesuaikan diri dengan orang asing. Jika sudah kenal lebih lama setidaknya kemungkinan untuk memiliki rasa canggung lebih sedikit. Apalah daya, Nahla hanya duduk sendiri dan lebih memilih untuk diam. Hari ini dia berharap pulang lebih awal.

Sepuluh menit kemudian, muncullah seorang gadis berkerudung lari terburu-buru dan segera mencari tempat duduk yang kosong. Tepat setelah ia duduk di sebelah Nahla, bel masuk berbunyi.

“Alhamdulillah Ya Allah. Saya tidak terlambat,” mendengar perkataan dari gadis itu membuat Nahla tersenyum simpul. “Mmmm, Assalamu’alaikum, namaku Nahla dari SMP 2 Ciebereum. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Namamu siapa ya?,” Tanya Nahla. “Waalaikumussalam… Nama saya Nafsa dari SMP 1 Cibinong. Benar sekali, selama masa pengenalan kemarin saya hanya mengikuti pembukaan saja. Setelah hari pertama saya tidak masuk karena sakit,” ujar Nafsa.

“Jadi begitu ya Nafsa. Sekarang sudah sembuh betul, kan?”

“Iya, alhamdulillah Nahla. Eh BTW, tempat duduk ini kosong atau sudah ada yang menempati?”

“Belum kok. Aku senang ternyata sebelahku tidak jadi kosong,” jawab Nahla.

“Fuih, saya kira ini milik teman Nahla yang mungkin terlambat seperti saya tadi.” Nafsa tersenyum lega.

“Santai aja, Naf, lagian tadi kamu juga belum terlambat, kan?”

“Iya, tapi pas banget sama bel tadi. Kalau aja ban sepeda saya tidak bocor pasti saya tidak lari-lari seperti tadi.” Cerita Nafsa tentang kenapa ia datang tergesa-gesa, “Eh, guru kita sudah datang, kita lanjutkan nanti ya,” 

Guru yang masuk ternyata adalah guru yang akan menjadi wali kelas MIPA 1 selama setahun ke depan. Beliau adalah Pak Waskitho yang juga merupakan guru pengampu pelajaran biologi. Pak Waskitho lebih suka jika dipanggil Pak Was karena lebih akrab. Beliau ramah, enerjik, dan senang jika anak didiknya banyak bertanya. Beliau juga tidak suka melihat murid-muridnya ketika pelajaran biologi terlalu serius. “Jangan tegang begitu ekspresi teman-teman. Pelajaran saya dibuat santai saja ya. Justru dengan santai teman-teman semua pasti akan lebih memahami biologi dan akan mengena di hati. Jika sudah mengena pasti akan meninggalkan bekas yang sulit tuk dihilangkan,”

 “Wah, Pak Was puitis juga ternyata,” suasana lebih riuh dari sebelumnya dan Pak Was berhasil menghibur kegelisahan di hati Nahla. Pak Was kemudian juga mempromosikan ekskul pramuka yang ia bina.

Ketika jam istirahat datang, Nahla lebih memilih untuk ke perpustakaan. Ia tidak ke kantin karena sudah membawa bekal yang akan dimakan saat jam istirahat kedua setelah salat duhur. Dia juga berusaha untuk tidak jajan karena bagi Nahla lebih baik uang sakunya bisa ditabungkan ataupun diberikan ke adik-adiknya.

Tidak sengaja saat melewati ruang Pramuka, Nahla melihat kakak kelas yang mengobrol dengan menyenangkan di ruangan itu. Ia menjadi merasa ingin bergabung dalam pramuka SMA. Namun, tiba-tiba Nahla tertabrak seseorang yang ada di gerombolan laki-laki yang berlarian di depannya. Sebenarnya lengan Nahla agak sakit karena gerombolan itu seperti sedang terburu-buru hingga tidak meminta maaf kepada Nahla. Dilihat dari perangainya, Nahla sudah bisa menebak jika mereka adalah kakak kelas. Nahla memaklumi karena jarang ada senior meminta maaf ke adik kelasnya. Namun tanpa Nahla sadari, seseorang yang menabraknya tadi melihat ke arah Nahla dan berjanji akan meminta maaf ke Nahla suatu saat nanti.

Perpustakaan sekolahnya cukup mudah ditemukan karena bangunannya yang besar dan Nahla sangat mengingatnya. Saat masa pengenalan Nahla benar-benar mengingat tempat apa saja yang menurutnya akan sering ia datangi, salah satunya perpustakaan. Sebenarnya tadi Nahla ingin mengajak Nafsa ke perpustakaan, tetapi melihat Nafsa mengobrol dengan Farah ia tidak enak hati untuk memutuskan obrolan mereka. Ternyata perpustakaan itu suasananya berbeda dengan perpustakaan sekolahnya dulu yang banyak anak-anak gemar membaca. Nahla bertanya mengapa tempat-tempat bermanfaat seperti perpustakaan maupun masjid bisa sepi. Hal ini sangat terlihat ketika Nahla membandingkan suasana masjid di desanya ketika ia masih kecil dengan zaman sekarang, sangatlah berbeda jauh. Ia juga mengamati banyak generasi muda seusianya juga usia di bawahnya yang asyik sendiri dengan gadgetnya.

Wah, peraturan di sekolahku terdapat kebebasan bagi siswanya untuk membawa hp. Di satu sisi memang menyenangkan ditambah adanya Wi-Fi yang disediakan. Lalu, bagaimana dengan nasib perpustakaan, masjid, dan tempat-tempat lainnya yang bermanfaat kini menjadi sepi ya? Sudahlah, aku juga belum bisa berbuat banyak jika akan merubah kebiasaan seperti ini. Duh, kenapa Nahla jadi sering kepikiran dengan hal-hal kecil seperti ini ya? Pasti gara-gara kakak kelas tadi. Astaghfirullah hal ‘adzim malah jadi suudzon sama kakak kelas sendiri. Ujar Nahla dalam hati sambil menepuk kecil jidatnya.

Di lain sisi, Lukman merasa tidak enak hati. Bagaimana bisa dia membiarkan seorang perempuan yang ia tabrak dengan berlalu tanpa meminta maaf? Lukman jelas dibesarkan dari keluarga yang santun. Maka saat itu ia masih terus memikirkan bagaimana kondisi perempuan itu. Ia merasa tadi lari dengan kencang dan pasti perempuan itu merasa sakit. Teman-temannya menganggap hal itu adalah hal yang biasa terjadi. Namun tetap saja Lukman harus meminta maaf mengingat wajah perempuan itu asing. Sepertinya ia adalah adik kelas sepuluh sedangkan Lukman kelas sebelas.

“Anton, tolong besok temani aku berangkat pagi. Aku ingin melihat adik kelas yang kutabrak dan aku mau meminta maaf padanya. Atau jika tidak bisa besok meminta maaf, setidaknya aku bisa mengetahui namanya dan mempersiapkan permintaan maaf yang baik.”

“Siap Man. Tapi bukankah kau sudah melihatnya?” Tanya Anton, teman Lukman.

“Memang sudah Ton, tapi kan hanya sekilas dan belum tahu dia siapa dan kelas apa. Sejak tadi aku gelisah jika mungkin saja anak itu baik-baik saja dari fisiknya tapi ternyata di dalamnya dia tersakiti dan merasa dendam kepadaku, orang yang menabraknya,”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lukman dan Anton sudah duduk di depan masjid. Tempat itu strategis untuk melihat siapa yang akan datang karena masjid dekat dengan pintu gerbang sekolah. Pukul 06.15 perempuan yang dimaksud Lukman datang. Segera saja Lukman menghampirinya dan bertanya siapa nama perempuan itu. Dari gesturnya, Anton merasa adik kelas itu masih mengingat siapa orang yang menabraknya. Namun tidak dengan Lukman yang sedikit gugup untuk bertanya ke Nahla apakah dia baik-baik saja.

Ketika langkah Nahla semakin mendekati arah Lukman dan Anton, Lukman semakin gugup. Ia kehilangan semua kata-kata yang sudah dipersiapkan. Jantungnya berdegup kencang. Hingga akhirnya Nahla meneruskan langkahnya untuk masuk ke masjid. Anton bertanya-tanya apa yang terjadi. Bukankah tadi perempuan itu akan berjalan ke arah mereka berdua? Ia melihat ke perempuan itu dan ternyata ia memasuki masjid.

“Man, apa yang terjadi? Kukira dia akan marah ke kita dan jika begitu bukankah mudah bagimu untuk meminta maaf? Ternyata ia melewati kita dan malah masuk masjid. Sedangkan kau sendiri mengapa tidak mencegah dan bertanya siapa namanya?”

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi denganku. Jantungku masih berdegup kencang dan mendadak aku tak tahu harus berkata apa. Bagaimana ini, Ton?”

“Sekarang pukul 06.19, menurutmu mengapa dia ke masjid sepagi ini?”

“Tidak salah lagi dia pasti ingin salat duha. Kita salat saja dahulu untuk menunggunya”, sahut Lukman.

“Wah aku tidak setuju denganmu, Man. Salat itu harus niatkan dengan baik, bukan karena perempuan itu salat lalu kau juga mengikutinya. Luruskan dulu niatmu, Man.” 

“Ton, daripada kita hanya menunggunya di serambi masjid atau kita kembali ke kelas yang pada akhirnya kita tidak akan melakukan apa-apa, lebih baik kita salat duha saja”.

“Baiklah.” Setelah usai pembacaan Asmaul Husna, Nahla keluar dari masjid dan langkahnya dihentikan oleh Anton.

“Assalamu’alaikum,” salam Anton pada Nahla.

“Wa’alaikumussalam. Mas siapa ya?” Tanya Nahla.

“Saya Anton dari kelas 11 MIPA 2.” Jawab Anton

“Dan ini Kak?” Tanya Nahla yang ditujukkan kepada Lukman

“Sebelah saya ini Lukman, sekelas juga sama saya. Kalau kamu sepertinya kelas 10 ya?” sambung Anton.

“Iya Kak, Saya Nahla. Maaf sebelumnya Kak, ada keperluan apa ya? Jika hanya berkenalan, saya harus segera ke kelas Kak. Maaf.”

“Boleh minta nomor WA-mu, Dik? Penting,” Lukman menjawab dengan cepat.

“Untuk apa ya, Kak? Hmm beginisaja deh, jika benar ada hal yang penting untuk dibicarakan nanti istirahat pertama kita bertemu di gazebo depan perpus. Saya tunggu di sana. Namun jika Kak Lukman dan Kak Anton tidak datang, saya anggap saja tidak ada hal yang penting. Assalamu’alaikum Kak.” Pamit Nahla.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Anton dan Lukman berbarengan. Nahla pun bergegas menuju ke kelasnya dan ia berharap Nafsa sudah datang terlebih dahulu.

Benar saja, Nafsa sudah datang dan duduk di kursi sebelahku seperti kemarin. “Assalamu’alaikum… Nafsaaaaaaaaaaa kamu tidak akan percaya dengan apa yang terjadi padaku barusan,”

“Ada apa, Nahla? Mengapa kamu lari terburu-buru? Bukankah ini masih pukul 06.50? Apakah kamu akan bercerita jika kamu terlambat? Hehehe,”

“Jelas tidak, Nafsa. Begini, tadi pagi aku diajak bicara oleh kakak kelas. Mereka bertanya siapa namaku dan mereka berkata jika ada hal penting yang akan mereka sampaikan kepadaku. Namun aku sangat ingin masuk ke kelas maka kuputuskan jika itu adalah sesuatu yang benar-benar penting maka kami akan bertemu di gazebo depan perpus saat istirahat pertama,” cerita Nahla.

“Namanya siapa, Nahla?” Tanya Nafsa penasaran.

“Kak Anton dan Kak Lukman, kelas 11 MIPA 2,” jawab Nahla. “Oh iya, aku berkata akan bertemu nanti karena sebelumnya mereka meminta nomor WA-ku,” 

 “Kak Lukman dan Kak Anton? Sepertinya tidak asing mendengar nama mereka. Apa mungkin mereka kakak kelasku saat SMP dulu ya?” Nafsa mencoba mengingat-ingat kakak kelasnya dulu.

 “Mungkin saja itu benar, Nafsa. Eh tunggu, kamu akan menemui mereka sendirian?”

“Iya, Nafsa. Sebenarnya aku malu jika berbicara begitu dengan kakak kelas. Tapi sudah terjadi, jadi apa boleh buat? Maukah kamu menemaniku? Aku takut jika ternyata ketika masa pengenalan kemarin aku diam-diam membuat kesalahan dengan kakak kelas sehingga Kak Anton dan Kak Lukman menemuiku.”

“Siap, Nahla. Nanti aku akan menemanimu. Sekarang kamu tidak perlu berpikiran yang negatif ya. Fokus ke pelajaran saja yuk,”

Sementara itu di kelas XI MIPA 2 Lukman dan Anton juga sedang membicarakan Nahla.

“Wah, Man, adek kelas tadi itu ternyata sangat berani ya berbicara dengan kita. Namanya Nahla ya? Nama yang cantik, seperti wajahnya, kan?” Tanya Anton sambil mengingat Nahla.

“Eh ngomong-ngomong, mengapa juga kau meminta nomor WA nya? Bikin kaget saja tadi. Kalau dipikir-pikir, pasti siapa juga yang tidak was-was jika baru berkenalan langsung dimintai nomor WA? Bisa saja kan kalau Nahla akan berpikiran jika kita itu oknum kakak kelas yang jahat ke adik kelas seperti meminta uang secara paksa.”

 “Entahlah, Ton. Sedari tadi jantungku rasanya mau copot. Awalnya aku tidak sanggup untuk berbicara dengannya. Namun, mendengar kau sangat lancar bertanya ke Nahla tadi membuatku untuk meminta langsung nomornya,” Jawab Lukman.

 “Eh? Sudah berapa banyak perempuan yang kau mintai nomornya, Man?” goda Anton

 “Aku tidak pernah minta nomor perempuan sembarangan, Ton. Hanya dia satu-satunya.”

“Wah, Man, sepertinya kau menyimpan rasa sesuatu kepadanya. Sesuatu hal langka akan terjadi hahaha,” Anton semakin menggoda Lukman.

Hmmm, apakah secepat ini, Ton, rasanya?” Tanya Lukman sembari memainkan pulpennya.

“Rasa apa, Man?” Anton tertawa setelah mengetahui jika temannya ternyata temannya memiliki rasa dengan Nahla. “Tapi sebentar, Man. Apa karena kemarin kau terlalu merasa bersalah hingga kau tak bisa berhenti memikirkannya?”

Lukman mengedikkan bahu, seperti berkata “entahlah”. “Amboy, janganlah kausamakan antara rasa kasihan dengan rasa suka, Man. Karena kasihan dengan suka itu memang sepertinya beda tipis. Jaga hatimu, Man. Bahaya nanti kalau kau sedikit-sedikit terbawa perasaan dengan orang lain. Bisa gawat,” kata Anton.

“Tak kusangka kaubisa berkata bijak terkait ini juga ya, Ton.” Ujar Lukman.

“Kalau masalah rasa, bukankah memang manusia itu jiwa sosialnya sangat besar, Man?”

“Alhamdulillah kalau kau punya rasa yang lebih peka dan tinggi dari temanku yang lain, Ton. Sepertinya aku bisa cerita banyak sama kau,”

“Lupakan soal itu. Lalu nanti bagaimana, Man, kaumempersiapkan permintaan maaf yang tidak biasa?”

“Aku tidak menyangka jika secepat ini, Ton. Mungkin aku hanya akan meminta maaf dan mengakui kesalahanku karena menabraknya kemarin tanpa minta maaf sebelumnya. Selesai,”

“Wah pendek juga ya rencana kau ini. Tapi aku yakin, kelanjutan perasaanmu dengan Nahla tak akan berhenti semudah itu, Man.” Anton menyeringai, seperti pemuda ulung yang paling paham akan hal ini.

“Kenapa kaubisa seyakin itu, Ton?”

“Karena kali ini perasaan kautumbuh dengan cara yang berbeda, Man.”

 “Sudahlah, aku tak mau memikirkannya lebih panjang. Aku harap perasaan ini segera hilang. Sebentar lagi juga kita akan menghadapi Ujian Tengah Semester,”

“Woy, gila kau ya. Baru masuk liburan, sudah kau pikirkan ulangan. Anak ambis memang beda,” sahut Anton, “Hey anak ambis, kenapa tak kaucoba untuk meminta maaf dengan sandi morse? Kau kan anak pramuka,”

“Mana sempat, keburu telat dah,”

Saat waktu istirahat datang, Nahla dan Nafsa segera bergegas ke gazebo di depan perpustakaan. Mereka tidak ingin kakak kelas yang menunggu adik kelas. Biarlah mereka yang menunggu, karena sebenarnya menjadi orang yang menunggu lebih baik daripada manjadi orang yang ditunggu.

Namun ternyata, Lukman dan Anton sudah lebih dulu tiba di sana. Langsung saja Lukman memulai berbicara lebih dulu.

“Nahla, apakah sebelumnya kamu pernah tertabrak oleh seseorang?”

“Iya, Kak Lukman. Bagaimana Kakak bisa mengetahuinya?”

“Orang itu sebenarnya adalah aku. Maaf sekali atas perbuatanku kemarin. Aku juga melihatmu merasa kesakitan waktu itu. Maafin aku ya, nanti aku traktir,”

“Iya kak, sudah kumaafkan kok, dan Alhamdulillah Nahla baik-baik aja. Kak Lukman jadi ngga usah terlalu khawatir sama Nahla”

“Makasih ya, Nahla”

“Sama-sama, Kak. Oh iya, Nahla masih harus ke ruang pramuka dulu nih, mau tanya-tanya.”

“Oh gitu. Yaudah Nahla, dan…”

“Nafsa, Kak,” kata Nahla memperkenalkan diri Nafsa.

“Kalau gitu aku sama Anton juga mau ke kantin. Makasih udah mau meluangkan waktu untuk mendengarkan permintaan maafku yang teramat sederhana ini ya. Assalamu’alaikum Nahla, Nafsa,” Anton dan Lukman pun pergi meninggalkan Nahla dan Nafsa.

“Wa’alaikumussalam, Kak.”

Seiring berjalannya waktu, Nahla memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler pramuka. Meskipun Nahla kaget karena ternyata ia bertemu kembali dengan Lukman karena Lukman adalah wakil ketua dewan ambalan. Nahla sangat menekuni ekstrakulikuler pramuka sehingga ia dipilih anggota pramuka dan pembina menjadi kandidat yang berkompeten untuk mengikuti perlombaan sandi morse.

Di lain sisi, setelah permintaan maaf kemarin dengan Nahla, hampir setiap hari Lukman pasti ke perpustakaan karena ia tahu Nahla ada di sana. Awalnya ia sudah mencoba menghindari perasaan itu muncul, tetapi karena mereka satu ekstrakurikuler membuat perasaan Lukman semakin tumbuh. Sebenarnya ia ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Nahla di luar pramuka, namun itu adalah perpustakaan dan Lukman hanya ingin memandangi Nahla dari jauh saja.  Hingga suatu hari Lukman tidak sanggup menahan perasaannya. Karena ia tahu Nahla sangat menyukai pramuka dan saat itu tengah melakukan persiapan untuk mengkuti lomba morse, ia menulis sebuah surat dengan sandi morse yang isinya menyatakan bahwa Lukman mengagumi Nahla selama ini. Ketika Nahla keluar dari perpustakaan Lukman langsung memberikannya.

Nahla berpikir keras untuk menemukan arti dari sandi morse yang diberikan oleh Lukman. Ia merasa senang setelah menemukan jawabannya sekaligus terkejut secara bersamaan. Keesokan harinya ketika Nahla bertemu dengan Lukman, Nahla hanya berkata bahwa mereka masih terlalu muda untuk saling menyatakan perasaan dan Nahla tidak ingin berpacaran. Lukman sedikit kecewa dengan sikap Nahla, tetapi dia juga menyadari bahwa dari awal dia yang salah. Lukman salah karena sudah membiarkan perasaan sukanya berlarut-larut kepada Nahla dan rasa suka itu terus muncul hingga ia sangat berani menulis surat untuk Nahla.  Harusnya ia mendengarkan saran dari Anton untuk bisa menahan perasaannya dan tidak mengikuti hawa nafsunya. Kini tinggallah rasa penyesalan yang ada. Namun di satu sisi, Luman sedikit merasa lega karena jika saja Nahla juga merasakan perasaan suka yang sama dan mereka berdua berpacaran, maka dosa mereka akan bertambah karena di dalam agama Islam sendiri berpacaran sangat dilarang.

Lukman pun berjanji pada dirinya sendiri untuk akan menyatakan perasaan ke orang yang benar-benar pantas untuknya, kelak jika akan menikah. Ia memutuskan tidak akan berpacaran, dan lebih meningkatkan kualitas dirinya dengan Yang Maha Membolak-balikkan Hati, Allah ‘Azza wa Jalla.

Saat istirahat ketiga, Pak Was berbicara dengan Nahla bahwa nanti sepulang sekolah Nahla harus datang ke ruangannya. Nahla bertanya-tanya apalagi masalah yang sudah ia perbuat hingga wali kelasnya memanggil Nahla seperti itu. Pertanyaan Nahla terjawab ketika ia masuk ke ruangan Pak Was.

“Begini, Nahla. Sepertinya hari ini kamu kurang fokus untuk menyelesaikan soal sandi morse yang saya berikan, ya?”

“Iya, Pak, mohon maaf saya masih gelisah karena baru menyelesaikan jawaban sandi morse yang rumit.” Jawab Nahla dengan sedikit rasa gugup.

“Alhamdulillah kalau begitu, yang terpenting sudah menemukan artinya bukan?”

“Iya, Pak, tapi rasanya saya ingin curhat dengan bapak karena bapak merupakan pembina pramuka sekaligus wali kelas saya. Saya lebih nyaman jika bercerita dengan Pak Was,”

“Dengan senang hati Nahla, bapak akan mendengarkan ceritamu. Karena bapak cukup ahli dalam menebak, Bapak akan menebak curhatan Nahla ini berkaitan dengan kakak kelas. Iya bukan?”

“Wah, tepat sekali Pak Was,” Nahla tersipu malu.

“Apakah namanya Lukman, dari kelas 11 MIPA 2?” tebak Pak Was laiknya orang yang tengah menginterogasi.

“Wah, bagaimana Pak Was tahu? Duh, jadi malu saya, Pak.”

“Saya kan memang tahu semua hal yang berhubungan dengan murid saya, Nahla. Maka jika kamu ada masalah apapun, jangan sungkan-sungkan untuk bercerita dengan Pak Was. Santai saja, rahasiamu aman dengan Pak Was.”

“Iya, Pak Was. Sebenarnya yang membuat saya gelisah karena saya terkejut membaca sebuah pengakuan dari Kak Lukman yang menggunakan sandi morse,”

“Wah, bisa-bisanya ya Lukman. Kalau Pak Was lihat, memang Lukman sangat menyukai Nahla. Di ekskul dia sangat antusias jika apapun berhubungan denganmu, Nahla. Tapi Nahla, apakah ada kemungkinan untuk kamu berpacaran dengan Lukman?”

“Saya rasa tidak, Pak Was, karena saya benar-benar tidak ingin berpacaran. Saya juga pernah mendengar jika perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Maka saya akan berusaha dulu menjadi perempuan yang baik hingga jodoh saya datang, Pak.”

“Bagus Nahla, sangat bagus prinsip yang kamu pegang itu. Pak Was setuju dengan sikapmu,” jawab Pak Was. “Tapi, apakah Nahla tidak melihat kemiripan Lukman dengan Pak Was?”

Kini Nahla semakin terkejut dengan pertanyaan mendadak dari Pak Was baru saja. “Sepertinya tidak, Pak.”

“Memang benar kata orang-orang jika Lukman itu lebih mirip dengan ibunya daripada saya.” “Lo? Sebentar, Pak. Jadi Pak Was ini ayahnya Kak Lukman? Bagaimana bisa, Pak…” Nahla sudah tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ingin sekali rasanya ia segera keluar dari ruangan Pak Was.

Hehe, tidak apa, Nahla. Tetap pertahankan pendapat dan sikapmu tentang pacaran itu ya. Barangkali, suatu saat nanti Lukman ternyata jodohmu kan tidak ada yang tahu juga selain Allah. Pak Was sangat senang Nahla mau curhat dengan saya. Oh iya, terima kasih ya, Nahla. Berkat kamu juga, Lukman tidak berpacaran, dan saya yakin Nahla adalah anak yang baik.”

***

Bagaimana bisa, pertanyaan itu sampai sekarang membuat Nahla masih bersemu merah jika bernostalgia dengan kisah SMA-nya itu. Kini, ia kembali mempersiapkan diri sebelum menjadi pembicara webinar pramuka. Nahla bersyukur karena pramuka memberikannya pengalaman unik dan kesempatan berharga yang membuat ia semakin tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

2 thoughts on “Bagaimana Bisa?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *