Benalu

Benalu

Oleh: Putri Amelia

            Seorang gadis kecil menunduk dan berjongkok di sebuah batu nisan. Air matanya mulai mengering setelah dia menangis tersedu-sedu sepuluh menit yang lalu. Ia menatap nisan itu dalam. Di sana terpampang tulisan dari nama sang ayah, seseorang yang sangat menyayanginya.

            Wanita paruh baya di sampingnya berdiri. Masih menatap nanar batu nisan itu. Tidak percaya bahwa suaminya meninggalkannya. Sesekali ia membenarkan gendongannya. Membenarkan posisi tidur anaknya agar tidak terbangun sambil membelai wajahnya. Air matanya mengalir, lalu dengan cepat ia menyekanya.

            “Ayo kita pulang,” ucap wanita itu pada sang gadis sambil berjalan meninggalkannya.

            Gadis itu pun bangkit berdiri. Netranya menatapi batu nisan di sampingnya dan wanita paruh baya itu bergantian. Tangannya bergerak mengusap jejak air mata di pipi.

            “Aku akan menjaga mereka, Yah. Seperti kata Ayah,” gadis itu tersenyum pada batu nisan sang ayah, lalu berlari dengan cepat menyusul ibunya.

∞∞∞

            Beberapa tahun berlalu. Gadis kecil itu tumbuh menjadi gadis belia. Ia bernama Rena. Dua tahun yang lalu Rena masuk SMA. Saat ini ia sudah kelas tiga.

            Ia bersekolah di SMA favorit di tepi jalan. Kebetulan sekolahnya lumayan dekat dengan rumahnya. Hanya butuh waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Di sekolah, selain belajar Rena juga berjualan kue basah. Setiap malam ia membantu ibunya membuat kue untuk dijual pagi harinya.

            Delapan tahun di bawahnya adalah Raka, adik laki-laki Rena. Sekarang dia bersekolah di sekolah dasar dekat dengan sekolah Rena. Setiap hari dia diantar oleh Rena ke sekolah dengan berjalan kaki sambil Rena membawa barang dagangannya.

            Rena dan Raka sama-sama anak yang cerdas dan baik. Perbedaannya adalah keinginan Raka selalu didukung oleh ibunya sedangkan Rena tidak. Namun, Rena tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia sangat menyayangi ibunya terpaut ibunya menyayanginya atau tidak.

            Semakin ke sini anggapan dan kepercayaan diri Rena pun goyah terhadap ibunya. Pernah saat membantu ibunya membuat kue basah, Rena tak sengaja menjatuhkan piring kaca hingga pecah. Ibunya lalu memarahinya habis-habisan dan mengatainya dengan kalimat-kalimat kasar. Bodoh. Tak pandai seperti Raka.  Anak tiri tak berguna. Semuanya ditelan mentah-mentah oleh Rena. Gadis itu menundukkan kepala dan tidak berani membantah.

            Semua perkataan ibunya memang benar. Rena adalah anak tiri. Lebih tepatnya Rena adalah anak dari istri pertama ayahnya, sedangkan ibu Rena yang sekarang adalah istri kedua. Bahkan, Rena sendiri mengingat bagaimana waktu itu ayahnya tiba-tiba membawa seorang wanita ke rumahnya. Padahal sebelumnya mereka hanya tinggal berdua setelah ibu Rena meninggal.

            Meski begitu, Rena masih tidak mengerti mengapa ibunya tidak menyukainya. Dia selalu berusaha menjadi anak yang baik dan patuh. Dia juga berusaha keras membuat ibunya bangga dengan prestasinya di sekolah. Namun, itu semua seakan tidak ada artinya. Semua yang ia lakukan seakan tertutupi debu. Tak dilihat oleh ibunya. Di mata ibunya, hanya Raka lah yang dibanggakan. Jika menurut ibunya Raka ibarat pohon mangga yang memberikan banyak manfaat bagi pemiliknya, Rena ibarat benalu yang tidak berguna dan malah memberikan kemalangan saja bagi sang pemilik mangga. Tak ada yang bisa dilakukan Rena selain bersabar. Bagaimanapun, ibunya tetap membiayainya sekolah. Beliau tetap menerima Rena di rumahnya.

            Sama seperti biasanya sebelum berangkat sekolah, Rena menyiapkan barang dagangannya yang akan ia bawa ke sekolah. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan, Rena pun berangkat bersama Raka. Sekolah menjadi hal yang paling ditunggu Rena. Itu karena di sekolah ia mempunyai teman baik bernama Zahwa. Keduanya mulai dekat saat Masa Orientasi Siswa (MOS) sekolah dulu. Terlebih lagi Zahwa dan Rena sama-sama suka menyanyi dan ikut paduan suara, walaupun faktanya Rena jarang hadir karena ia harus membantu ibunya berjualan.

            Setelah sampai di sekolah, Rena buru-buru masuk menuju kelasnya. Barang dagangannya ia titipkan pada ibu kantin. Biasanya ia tak sempat menoleh kanan-kiri saat akan ke kelasnya. Namun, hari itu berbeda. Mading sekolah mengalihkan atensinya. Di sana tertulis “National Math Competition”.

            “Kamu mau ikut lomba itu Ren?” tanya gadis berambut panjang di sampingnya.

            “Eh, eng.. enggak kok Wa,” ujarnya.

            “Kenapa? Ikut aja Ren mumpung diadain di sekolah kita, lo,” bujuk gadis yang bernama Zahwa itu.

            “Enggak, Wa. Aku gak punya uang buat daftarnya. Gak enak kalo minta ke ibu,” ucap Rena sambil menunduk setelah tahu biaya pendaftaran untuk lomba itu selembar uang lima puluh ribuan.

            “Tapi Ren…”

            “Kita masuk yuk, Wa. Bentar lagi dimulai pelajarannya.” ucap Rena cepat dan dengan terpaksa Zahwa mengangguk lalu berjalan mengikuti Rena menuju kelas.

            Entah kenapa, pada pagi hari itu materi pelajaran ditiadakan. Banyak alumni yang datang. Masing-masing dari mereka memperkenalkan universitasnya. Membujuk adik kelas agar melanjutkan studi ke universitas mereka. Beberapa dari teman Rena sangat antusias bahkan ada yang mencatat informasi pendaftarannya, sedangkan sisanya terlihat diam seakan tidak berminat sama sekali. Seperti Rena. Sebenarnya, Rena bukan tak berminat, melainkan ia cukup tahu diri bahwa dirinya hampir tidak mungkin untuk kuliah mengingat ekonomi keluarganya yang terbilang sulit. Ditambah lagi, ia tidak ingin membebani ibunya yang masih memiliki tanggungan sekolah adiknya. Rena berpikir sebagai anak pertama, Rena harusnya membantu ibunya, bukan menambah bebannya.

            Hari itu berlalu dengan cepat karena sekolah dipulangkan lebih awal. Rena tidak bisa menjual habis kuenya. Guru-guru bilang mereka ada rapat untuk mempersiapkan ujian akhir bagi siswa kelas tiga. Rena menghela napas. Bagaimanapun ia harus menjual habis kuenya. Sudah jelas ia tidak bisa pulang dengan sisa barang dagangannya itu. 

            “Ren..,” panggil seseorang sambil menepuk pundak Rena pelan.

            “Eh, ada apa, Wa?” ucap Rena refleks.

            “Kamu mau lanjut ke mana, Ren?”

            “Maksudnya, Wa?” timpal Rena tidak mengerti.

            “Kamu gak mau lanjut kuliah?” tanya Zahwa penasaran.

            “Eumm… aku gak tau, Wa. Tapi kemungkinan sih enggak,” ujar Rena sambil menundukkan kepala.

            “Emang kamu gak pengen kuliah Ren?”

            “Aku pengen, Wa, tapi aku kan ga punya biaya.”

            Zahwa berpikir sejenak, kemudian menarik tangan kanan Rena “Sini bentar deh, Ren.”

            “Kamu lihat itu gak, Ren?” ucap Zahwa setelah berhasil membawa Rena menuju mading. Sambil tangannya menunjuk ke mading itu. Poster yang tadi. Lomba matematika itu memiliki hadiah utama berupa tabungan pendidikan senilai sepuluh juta. Rena membelalakkan matanya.

            “Maksudmu?” Rena agak ragu dengan yang Zahwa pikirkan.

            “Ih… kamu mah. Kamu harus ikut lomba itu, Ren. Hadiahnya bisa buat biaya kuliah kamu, kan? Ya walaupun gak terlalu besar, sih.”

            “Wa, aku gak yakin,” jujur Rena

            “Kenapa? Soal uang pendaftarannya? Kamu gak usah khawatir, Ren. Aku bisa bayarin kamu,” bujuk Zahwa.

            “Enggak, Wa. Aku gak bisa minjem uang kamu,” tolak Rena tidak enak pada Zahwa.

            “Tapi Ren, kamu beneran harus ikut lomba itu,” Zahwa menatap Rena serius. Namun, Rena terdiam.

            “Ren, kamu…”

            “Wa, it`s okay aku bakal ikut. Tapi aku akan usaha sendiri,” tukas Rena. Zahwa pun tersenyum. Inilah yang ia sukai dari temannya. Rena tidak pernah bergantung pada orang lain. Temannya itu selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal itulah yang membuat Zahwa ingin menjadi pribadi yang mandiri seperti Rena.

            “Eumm.. Wa, aku pulang duluan ya.”

            “Iyaa hati-hati, Ren.” 

∞∞∞

            Setelah Rena sampai rumah. Belum sempat ia berganti baju, ibunya berteriak memanggilnya dari arah dapur.

            “Renaaa… Renaaaa…”

            “Iya.. Bu,” jawab Rena sambil berlari tergopoh-gopoh menuju dapur.

            “Iya.. Bu. Ada apa, Bu?” ucapnya menunduk takut.

            “Kenapa dagangan hari ini gak habis, hah? Apa saja yang kamu lakukan di sekolah?” ucap wanita paruh baya itu dengan suara kasar yang memekakkan telinga.

            “Eumm… itu, Bu. Tadi Rena pulang lebih awal dan jam istirahat ditiadakan jadi…”

            “Ibu gak mau tahu ya, Ren. Kamu keluar. Kamu jual kue ini sampe habis. Ngerti kamu!” tukas wanita paruh baya itu cepat.

            “B b baik Bu…” jawab Rena sambil membawa dagangannya keluar. Entah kemana tujuannya ia tidak tahu. Yang jelas dia harus sudah menjual semua kuenya sebelum malam nanti. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan ibunya.

            Menjelang maghrib, dagangan Rena habis. Ia beryukur karena Bu Minah pemilik toko di ujung jalan mau membeli semua kuenya bahkan memberinya uang lebih selembar lima puluh ribuan. Entah ada angin apa Rena tiba-tiba mendapat uang itu dari Bu Minah. Bu Minah hanya bilang bahwa putrinya sedang mengidam kue dan Rena datang di waktu yang tepat. Tanpa basa-basi Bu Minah memborong semua kuenya. Memberinya uang lebih dan mengatakan pada Rena agar menyimpan uang itu baik-baik.

            Bukan rahasia lagi memang jika Rena selalu berjualan kue ke sekolah. Setiap pagi ia selalu melewati rumah Bu Minah saat berangkat sekolah. Bu Minah pun memahami bagaimana kisah hidup Rena bahkan saat keluarga Rena masih utuh, serta mendiang ibu dan ayah kandungnya masih hidup.

            Setelah sampai rumah, Rena kemudian salat Magrib. Setelah itu dia seperti biasa membantu ibunya membuat kue untuk dijual keesokan paginya. Rena menyerahkan uang hasil jualan tadi sore pada ibunya. Beliau mengambil uang tersebut dari Rena dengan wajah yang keras. Rena terdiam. Memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengatakan sesuatu yang ada di kepalanya.

            “Bu?”

            “Hm?” jawab ibunya sambil terus menguleni adonan kue.

            “Bu.. Rena pengen kuliah, Bu,” ucap Rena lirih. Ia menatap lantai. Tak kuasa untuk melihat reaksi ibunya.

            “Ren, kamu tahu kan kalau kita itu orang susah? Buat makan aja kita keteteran apalagi buat kamu kuliah,” wanita paruh baya itu berhenti mengulen adonan sembari menatap Rena tajam.

            “Itu, Bu, ada lomba matematika di sekolah Rena. Hadiahnya tabungan pendidikan. Tapi, uang pendaftarannya lima puluh ribu. Rena boleh ikut ya, Bu?” jelas Rena.

            “Enggak,” ucap ibunya tegas.

            “Tapi Bu, Rena…”

            “Kalo Ibu bilang enggak, ya enggak Ren,” tukas wanita paruh baya itu dengan suaranya yang meninggi, lalu meninggalkan Rena untuk melanjutkan membuat kue.

            Rena terdiam. Ia tidak berani menanyakan hal itu lagi pada ibunya. Ia sangat mengenal watak ibunya. Beliau tidak akan pernah mengubah keputusannya setelah yakin dengan keputusan yang diambilnya. Namun, yang disayangkan adalah ibunya mengira ia meminta uang untuk mengikuti lomba itu. Padahal Rena hanya meminta ijin untuk mengikuti lomba itu karena Rena sudah memiliki uang untuk mendaftar. Uang itu diberikan Bu Minah padanya. Rena menganggap Tuhan membantunya agar ia bisa mengikuti lomba itu melalui Bu Minah. Dan ia harus mengikuti lomba itu. Ia ingin memenangkan lomba itu. Ia ingin kuliah. Ia ingin agar kehidupan keluarganya lebih baik.

            Setelah Rena selesai salat Isya, ia mendengar bahwa adiknya, Raka memasuki rumah dengan berlarian. Beberapa detik kemudian, Rena mendengar Raka meminta pada ibu untuk membelikannya pistol mainan seperti temannya. Namun, ibu menjanjikan untuk membelikannya pada hari Minggu. Raka yang merasa girang pun langsung keluar rumah bermain dengan teman-temannya. Raka memang selalu dituruti keinginannya. Sedangkan Rena, baru mengatakan apa niatnya saja sudah mendapat penolakan dari ibunya. Meskipun yang Rena minta adalah izin semata dan bukan uang. Rena menghela napas. Walau bagaimanapun ia akan mengikuti lomba itu.

∞∞∞

            Keesokan harinya, Rena berangkat sekolah seperti biasa. Setelah meneliti barang dagangannya, ia dan adiknya pun berpamitan pada ibunya untuk ke sekolah. Rena mengantarkan Raka terlebih dahulu, baru setelah itu Rena menuju sekolahnya yang tak jauh dari sekolah Raka. Hanya butuh berjalan lurus kurang lebih seratus meter, Rena pun sampai di sekolahnya.

            Saat jam istirahat Rena langsung menuju ruang guru. Ia mengatakan bahwa ia berniat untuk mengikuti lomba matematika itu sambil menyerahkan uang pendaftarannya. Setelah selesai melakukan pendaftaran ia diberi tahu agenda lomba yang akan diikutinya. Lombanya akan diadakan dua minggu lagi.

            Sepulang dari sekolah, Rena tak henti-hentinya tersenyum. Selain karena dagangannya yang habis, ia juga senang karena akhirnya ia bisa mengikuti lomba matematika itu. Rena berjanji akan belajar dengan giat. Dia sangat ingin memenangkan lomba itu. Rena pun bergegas pulang.

            Entah ada hal apa, ibunya terlihat seperti menunggu Rena dari luar rumah. Rena yang melihat itu pun langsung berlari kecil menghampiri ibunya.

            “Assalamu’alaikum, Bu,” ucap Rena sambil mencium tangan ibunya.

            “Waalaikumsalam,” jawab ibunya dengan wajah yang keras.

            Ibunya memasuki rumah lebih dulu diikuti Rena di belakangnya. Rena pun menutup pintu.

PLAKKK

            Rena jatuh tersungkur memegangi pipinya. Tubuhnya bergetar. Kepalanya menunduk tak berani menatap ibunya. Perlahan tapi pasti air matanya mulai meleleh.

            “Siapa yang ngajarin kamu buat mencuri, hah?” ucap ibunya keras-keras di depan wajah Rena.

            Rena membelalakkan matanya sembari menunduk “Bu, Re..Re..Rena enggak pernah…”

            “Lalu siapa yang ngambil uang di lemari Ibu, hah? Setan?” teriak ibunya lagi dengan intonasi yang semakin meninggi.

            “Demi Allah, Bu. Rena enggak pernah ngambil uang Ibu. Apalagi tanpa bilang sama Ibu. Rena enggak seperti itu, Bu,” ucap Rena mencoba menjelaskan.

            Di saat-saat seperti itu ia melihat Raka. Adiknya itu ada di dalam kamarnya sambil mengintip semua yang terjadi. Ia bisa melihat bahwa tubuh adiknya bergetar sambil memegang selembar uang lima puluh ribuan di tangan kanannya. Rena yang melihat hal itu hanya terdiam. Namun, matanya membelalak tak percaya.

            “Ibu enggak mau tahu ya, Ren. Uang yang kamu ambil harus udah ada di lemari ibu sebelum nanti sore.”

            Setelah mengatakan hal itu, ibunya keluar rumah. Rena yang masih terkejut dengan apa yang terjadi mencoba bangkit. Ia mengusap pipinya yang terasa masih bergetar dan sakit. Ia masuk ke kamarnya dan duduk di pinggiran ranjang. Beberapa detik kemudian, adiknya masuk. Adiknya mengatakan alasan mengapa ia mencuri uang ibu. Rena yang memahami hal itu mengangguk mengerti. Rena mengusap kepala adiknya dengan mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang baik dan adiknya harus cepat mengembalikan uang itu. Raka mengangguk cepat. Rena tersenyum. Setelah itu, Raka pun keluar dari kamar Rena.

            Rena tidak pernah berpikir bahwa ibunya akan semarah itu padanya. Pasti ibunya berpikir bahwa Rena mengambil uang itu untuk mendaftar lomba matematika seperti yang ia katakan tempo hari. Rena tersenyum tipis. Tamparan itu adalah yang pertama ia dapatkan seumur hidupnya. Dari kejadian tadi Rena tahu bahwa ibunya sama sekali tidak mempercayainya. Ibunya langsung menuduhnya dan memarahinya atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Namun, Rena mencoba sabar. Walau bagaimanapun ibunya lah yang merawatnya selama ini. Dan dirinya sangat bersyukur karena ibunya mau merawatnya walaupun seorang diri.

∞∞∞

            Kompetisi lomba yang akan diikuti Rena semakin dekat. Rena pun semakin giat belajar. Ia tidak memberi tahu ibunya jika mengikuti lomba matematika itu. Rena ingin memberi kejutan pada ibunya ketika sudah menang nanti.

            Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Rena tak lupa untuk salat Tahajud tadi malam diikuti salat duha hari ini. Ia rajin berdoa kepada Tuhan agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal nanti. Setelah berpamitan pada ibunya dan mengantarkan adiknya lebih dulu, Rena lalu bergegas ke sekolahnya.

            Di sana sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang sudah berkumpul di aula sekolahnya. Setelah menandatangani daftar hadir di pintu masuk ruang kelas, Rena pun langsung masuk ruangan kelas yang menjadi tempat lomba. Ia meredakan degup jantungnya. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melalui semua ini dengan maksimal.

            Lomba pun dimulai. Para peserta harus mengerjakan seratus soal dalam waktu enam puluh menit. Banyak dari para peserta yang serius dalam mengerjakan soal. Ada pula yang sepertinya bingung dan mencorat-coret kertas hitungannya asal. Rena tetap diam. Fokus pada soal di depannya sambil berusaha menenangkan degup jantungnya yang berlarian agar ia bisa mengerjakan soal dengan baik.

            Enam puluh menit selesai begitu cepat. Seluruh peserta yang ada pun keluar dari ruangan kelas. Menunggu pengumuman siapa saja yang lolos dalam tahap pertama. Lima belas menit kemudian panitia menempelkan pengumuman peserta yang lolos tahap pertama di depan pintu kelas. Langsung saja seluruh peserta berdesak-desakan melihat pengumuman itu. Setelah agak sepi, barulah Rena maju dan melihat kertas pengumuman itu. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Rena lolos tahap pertama. Ia sangat bersyukur dengan tak henti-hentinya bibirnya merapalkan pujian kepada Tuhan. Rena pun membaca kertas pengumuman itu lagi. Tahap kedua akan dilaksanakan satu jam lagi. Rena menghela napas. Ia harus lebih fokus pada soal untuk tahap kedua kali ini.

            Rena pun menuju aula, duduk di lantai aula sambil menenggak air minum yang ia bawa dari rumah. Rena melihat sekelilingnya. Semua pelajar yang ada di sana memiliki pendamping guru mereka. Mereka juga membawa buku ajar yang tebal. Rena yakin buku itu sangat mahal, sedangkan Rena hanya belajar dari buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah. Itu pun ia harus rutin meminjam dan mengembalikannya selama dua minggu ini untuk persiapan lomba. Rena pun tak memiliki guru pendamping. Namun, Rena tetap optimis bahwa ia bisa mengerjakan semua soal dalam lomba tersebut secara maksimal.

            Tahap kedua lomba matematika pun dimulai. Semua peserta mulai memasuki ruangan dan mengerjakan soal yang telah disediakan panitia. Menurut Rena soal pada tahap kedua jauh lebih rumit dibanding pada tahap pertama. Seluruhnya berjumlah tiga puluh soal dengan waktu pengerjaan lima belas menit.

            Waktu pengerjaan soal tahap kedua pun akhirnya selesai. Semua peserta dipersilakan untuk keluar ruangan dan menunggu pengumuman pemenang lomba. Panitia mengatakan kalau pengumuman pemenang akan dilakukan di aula. Setelah satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda panitia akan mengumumkan lomba. Namun, beberapa menit kemudian. Seorang laki-laki paruh baya menuju ke podium dengan membawa sebuah kertas. Orang itu membacakan para pemenang lomba dimulai dari peringkat lima besar. Satu per satu nama pemenang dibacakan. Rena kecewa namanya tak kunjung disebut. Sebenarnya, ia tak terlalu berharap untuk menjadi juara satu mengingat ia agak minder setelah tahu lawannya di tahap kedua adalah siswa-siswi dari sekolah elite yang mahal. Rena berpikir setidaknya ia bisa masuk lima besar. Tetapi, setelah tahu bahwa namanya tak kunjung disebut sampai juara kedua. Rena pun membalikkan badannya bersiap untuk pulang.

            “Juara Pertama dari National Math Competitiontahun ini diraih oleh Renanda Syafakilah…” langkah Rena pun terhenti. Iringan tepuk tangan memenuhi aula. Rena tak percaya. Ia memenangkan lombanya. Ia berhasil menang.

            Laki-laki paruh baya itu pun mempersilakan Rena menuju podium bersama dengan pemenang yang lain. Panitia lomba memberikan hadiah bagi para pemenang. Rena yang menjadi juara satu pun berhak mendapatkan tabungan pendidikan senilai sepuluh juta rupiah disertai sertifikat dan piala penghargaan. Orang-orang di aula pun bertepuk tangan, termasuk kepala sekolah Rena dan dewan guru yang hadir pada saat itu. Tak ketinggalan juga Zahwa yang ternyata berada di barisan paling belakang mencoba melambai pada Rena sambil tersenyum yang dibalas senyuman manis oleh Rena. Senyum Rena mengembang pada hari itu. Ia bahagia bisa mendapatkan tabungan pendidikan yang diimpikannya. Tak henti-henti bibir dan hatinya mengucap syukur kepada Tuhan.

            Panitia pun mempersilakan Rena untuk memberikan pidatonya. Namun, Rena menolak karena ia ingin cepat-cepat memberi tahu ibunya mengenai kemenangannya ini. Ia pun segera mengemasi barang-barangnya. Memasukkan semuanya ke dalam tas, kecuali piala yang ia dapatkan karena piala itu tidak cukup jika dimasukkan ke dalam tasnya. Dengan bergegas ia menuju ke rumahnya.

            Rena sangat bahagia hari itu. Tak henti-hentinya ia tersenyum sambil melihat piala yang dibawanya. Ia berpikir bahwa ibunya pasti akan senang dengan prestasinya kali ini. Akhirnya, ia bisa kuliah dengan biaya yang ia dapatkan sendiri. Cita-citanya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi akhirnya dapat terwujud. Rena yakin ibunya akan sangat bangga padanya.

            Rena memang bergegas menuju ke rumahnya. Namun, di ujung jalan ia seperti melihat siluet adiknya, Raka. Ia pun menoleh ke arah siluet itu. Benar saja, itu Raka yang sedang bermain pistol air bersama teman-temannya. Adiknya itu tidak menyadari bahwa sebuah mobil melaju sangat kencang menuju ke arahnya. Suara klakson dibunyikan berkali-kali. Rena membelalakkan matanya. Refleks Rena pun berlari mendorong adiknya ke pinggir jalan. Rena terpental di atas mobil hingga kaca bagian depan retak. Pialanya hancur berkeping-keping.

            Orang-orang segera mengerubunginya. Telinganya terasa hangat, darah mengalir begitu deras. Sejenak Rena tersenyum lemah.

            “Aku sudah menjaga mereka, Ayah,” ucapnya dalam hati. Setelah itu hanya gelap yang terjadi.

One thought on “Benalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *