Berdiri Aku

Tubuh kota dingin diselimuti malam.
Aku terduduk di tebing katil, membaca diriku.
Di depan kaca aku menggenggam sebotol kopi pahit, penunda lelah.
Pandangku sudah tak berjalur.
Kutoleh: bukan kota! bukan kota!

Lantas apa yang diharap mata.
Kusilau perdah ke telinga jendela, kudapati segalanya menjadi dua.
Sinar binar mata ibu bapa. Lembab berair.

Berair satu: terang seperti jangkar lampu labuh.
Penuh harapan dan kepercayaan.
Berair dua: kelabu seperti asbak rokok pengembara.
Tak kuat meminggul harapan tanpa anggaran.

Akalku horizontal.
Tak bersilang.
Rahangnya lebam.
Lehernya berlubang.
Laungan hati meluruh.

Kopi pahit kuwalakkan di atas katil.
Kutinggal bersama segala paham dan ganjalan rendahan mahasiswa.
Aku; orang yang berdiri ditarik, ditampar, disadarkan Tuhan.

Aku; bukan kamu, bukan Anda, bukan kalian.
MENINGGILAH, JANGAN MELONJAK!

 

Afita Amadea

FT/Teknik Sipil 2018

(Juara 3 Lomba Cipta Puisi Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang 2019)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *