Berkat dari Waktu

Berkat dari Waktu

Oleh: Angel Sania Meok

Ada sebuah kisah tentang seorang anak perempuan yang tinggal di desa kecil yang memiliki mimpi besar membangun desanya. Anak perempuan berambut panjang, berkulit coklat memiliki mata bulat berwarna hitam ini bernama “Bulan”. Bulan hidup dan tumbuh besar dalam keluarga yang sederhana, dengan kedua orang tua dan tiga saudaranya mereka selalu harmonis walaupun dalam keadaan yang berkekurangan.

Bulan adalah anak perempuan yang pendiam berbeda dengan anak seumurnya, Bulan lebih suka menyendiri dan tidak menyukai keramaian, kebisingan, dan tidak suka berbicara banyak. Karena kepribadian yang penyendiri ini menjadikan Bulan pribadi yang di anggap sombong oleh orang sekitarnya dan oleh orang yang belum mengenalnya.

Saat tamat dari bangku pendidikan. Karena sangat ingin kuliah, namun keterbatasan ekonomi dan keadaan menyurutkan semua mimpinya. Bulan adalah anak yang tidak mau merepotkan orang lain, ia sadar kalau orang tuanya berpenghasilan kecil dan hanya cukup membiaya hidup mereka, jadi Bulan tidak mau berterus terang tentang keinginannya untuk masuk perguruan tinggi kepada orang tua agar tidak membebani orang tuanya.

Hidup dalam keadaan yang serba kekurangan, tekanan dalam diri dan emosi yang masih labil semakin menyakitkan bagi Bulan. Ketika melihat teman sekolah yang sudah lebih dulu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, membuat ia cemburu dan sangat ingin seperti teman-teman yang lain. Namun ia juga tak pernah lupa dengan keadaannya yang tidak mungkin memaksa orang tuanya untuk membiayainya lagi.

Di samping menahan mimpinya untuk berkuliah, Bulan mengikuti tes TNI/POLRI, namun ia gagal lolos seleksi. Kemudian Bulan kembali memberanikan diri melamar pekerjaan dengan ijazah yang ia punya di salah satu perusahaan swasta, tetapi tidak diterima. Berkali-kali Bulan ke sana-kemari melamar pekerjaan namun tidak ada yang menerima Bulan degan ijazah SMK yang ia bawa.

Kegagalan bertubi-tubi didapati Bulan saat mulai mengambil langkah, selalu yang ia terima adalah penolakan. Satu tahun yang Bulan habiskan dengan menganggur ia memilih menetap di rumah dan membantu kedua orang tua mengurus rumah dan adik-adiknya saat kedua orang tua pergi bekerja.

Bulan sangat tertekan dengan keadaannya yang mendapati kegagalan di setiap usaha yang ia lakukan. Bulan cemburu saat melihat kakak perempuannya dibiayai oleh kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, Bulan sendiri menyaksikan penderitaan dan ketidak berdayaan kedua orang tua saat membiayai kakaknya mereka harus menjual tanah karena uangnya tidak cukup untuk membiayai kakaknya di tengah studinya.

Dari sana Bulan sadar ia tidak ingin menyusahkan orang tuanya lagi. Bulan hanya berpikir cara cepat untuk bisa membantu orang tuanya yang kesulitan keuangan. Bahkan, untuk makan sehari-hari mereka peroleh dengan cara berhutang.

Setiap suap nasi yang Bulan makan, terus membuatnya menangis akan kesengsaraan yang kedua orang tuanya tanggung demi mereka anak-anaknya, Bulan merasa kasihan dengan kedua orang tua yang setiap hari hidup terjepit oleh hutang yang banyak. Bulan ingin membantu kedua orang tuanya, tetapi ia belum berhasil mendapat pekerjaan dengan ijazah yang ia punya.

Pada suatu siang saat di rumah Bulan mendapat informasi dari tetangganya bahwa di kota sedang di lakukan pendaftaran dan seleksi beasiswa bagi anak-anak yang baru lulus sekolah dan mau berkuliah. Bulan bergegas meminta izin ke orang tua dengan semangat Bulan saat itu juga berangkat ke kota untuk mendaftarkan diri.

Setelah seharian mendaftar dan di seleksi, butuh waktu hampir sebulan baru Bulan menerima pemberitahuan bahwa ia berhasil lolos seleksi dan diterima di salah satu Universitas kebanggaan yang ia pilih. Perasaan bahagia yang Bulan rasakan tak dapat dibendung lagi. Sepanjang perjalanan saat pulang dari kota ia terus menangis bersyukur dan tidak sabar membawa kabar bahagia untuk kedua orang tuanya.

Dari kejauhan ia sudah berlari ke bapaknya, dengan mata yang berkaca-kaca memberitahukan kabar bahagia orang tuanya sangat senang dengan keberhasilannya lolos seleksi dan diterima di kampus kebanggaan dengan di biayai oleh negara.

Bulan sangat bersyukur  mendapatkan beasiswa sehingga ia bisa meringankan beban orang tuanya ,Ia memiliki mimpi ingin membangun desanya tercinta dengan jurusan yang ia ambil yaitu Teknik Sipil. Bulan berharap saat lulus nanti ia bisa kembali ke desanya dan membangun desanya.

Melihat keadaan di desa masih sangat berkekurangan, tinggal di daerah yang masih belum memadai membuat ia tergerak mengambil jurusan itu dengan harapan ia bisa membangun desanya dari infrastruktur, sehingga memudahkan masyarakat desa membawa hasil kebun mereka untuk dijual ke kota.

Dari cerita sederhana tentang Bulan ini, penulis berharap bagi kita mahasiswa penerima Bidikmisi dan KIP Kuliah, walaupun kita berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, kita tetap tidak boleh menyerah atas mimpi kita, sekecil apa pun usaha yang kita lakukan dan sebesar apa pun tantangan yang terus menghalangi jangan pernah takut dan mundur.

Jika hari ini gagal, besok bisa kita coba lagi. Sabarlah dalam menanti waktu dan hasil dari kesabaran perjuangan kita semua sudah pasti akan dibayar oleh waktu dengan keberhasilan yang akan kita peroleh.

Seperti Bulan yang sabar menanti waktunya untuk bersinar, kita mahasiswa penerima Bidikmisi pun harus seperti itu, tetap sabar menjalani proses pahitnya dalam masa belajar untuk bisa menikmati manisnya kesuksesan. Ayo buktikan pada bangsa dan negara bahwa kita adalah anak-anak pilihan bangsa dan manfaatkan kelimpahan bangsa ini untuk membangun generasi muda yang berprestasi, bijaksana, dan bisa menjadi berkat bagi orang lain.

2 thoughts on “Berkat dari Waktu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *