Dapatkah Mengembalikan Ronanya?

Dapatkah Mengembalikan Ronanya?Oleh: Raihanita Ika Puspayanti Ibu Pertiwi,dapatkah kita menilik kembali?Kala rahimmu melahirkan jiwa membara layaknya apiKala anakmu lahir oleh jiwa pendekar tanpa rasa gentarMelantangkan satu kata penuh makna bernama,Pancasila! Lantang menggema,menggetarkan setiap jiwa sejak kelahirannyaDisambut sukacita dan penuh harap setiap perjalanan hidupnya Pancasila,tersisip akan setiap impian negeri,kokoh berdiri sebagai fondasi,terlahir sebagai ideologi,pedoman bagi setiap jiwa pribumi Ibu Pertiwi,namun kini, anakmu tak segagah duluRonanya kian samar meredupDiucap tanpa tahu makna,dihafal tanpa diamalkan Ibu Pertiwi,Dapatkah kami mengembalikan rona anakmu?Mengembalikan getaran pada Selengkapnya >>

Lima Namun Bermakna

Lima namun Bermakna Oleh: Dedi Candra Hadirnya membawa lega Merengkuh setiap jiwa yang lama Terpasung derita Lahirnya mengubah negeri Timbul kagum akan kokohnya Berdiri menjadi ideologi Cukup lima! Namun penuh akan makna Cukup lima! Namun mampu mengepakkan sayapnya Merangkul banyak jiwa Cukup lima! Alasan kita bertahan, dengan puing-puing asa. Namun, dekatkah kita dengannya? Atau hanya tahu sekadar aksara? Setiap warsa, aku, kamu, kita, mereka, mengenang kelahirannya Mengenang akan histori yang terangkum, dalam sejarah lama Akhirnya, apakah hanya sekadar menjadi peringatan Selengkapnya >>

Bara Juang

Bara Juang Oleh: Diva Casanu Putri Bulir air ujung zamrud barat Mengais debu, menapak tanah maharaja Timur jauh seberang sekelabut pandang Tak ada beda Lepuh tangan genggam bara Tegak badan di tanah khatulistiwa Memandang hujung Hujung riasan tiang bagaskara Tiada lenyap tiada hampa Pendar jutaan pasang mata Pendar kilau air senja Pendar bias relung angan, relung doa Relung para telapak tangan yang menghadap angkasa Memohon ‘tuk kukuhkan tumpuan Kukuh semangat juang Saling menggenggam, genggaman pemantik bara api, bara mimpi Bara Selengkapnya >>

Cahaya Kemenangan

Cahaya Kemenangan Oleh: Christa Rena Pratiwi Terang sinar Sang Rembulan Tampak bentuk sabit yang menawan Menandakan cahaya kemenangan Satu Syawal telah diumumkan Menyambut datangnya lebaran Sorak-sorak suara takbir dikumandangkan Riang gembira dirasakan Bercampur baur saling mendoakan Tiada lagi kebencian Tersisalah rasa saling memaafkan Walau wajah tak bisa berjumpa Tangan tak bisa berjabat Mari bersama damaikan diri Sucikan hati di hari yang fitri

Bersama, di Hari Fitri yang Bermakna

Bersama, di Hari Fitri yang Bermakna Oleh: Ayu Anggraeni Wulansari Duk, duk, duk. Bunyi beduk surau sudah berbunyi, menandakan matahari sudah mulai pergi sejenak untuk menyiapkan esok hari. Kala itu, suara burung bergantian terbang kembali menuju ranting pohonnya. Daun-daun di jalanan menyingkir diterpa angin senja yang dingin. Aku pun bergegas, membawa buku kecilku untuk melanjutkan catatan kisah setiap waktu senjaku. Di tempat tenang ini aku pasti akan menuliskan satu kalimat kisah atau pintaku, sebelum aku mengambil air wudu untuk menapakkan Selengkapnya >>

Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional Oleh: Taupik Yuhana Sebuah persembahan dengan rasa banggaKepada pahlawan tanpa tanda jasaDunia terang layaknya rembulan bersinar di malam hariMemberi penerangan menggapai segala mimpi Pendidikan mengajarkan patriot yang sopan dan kesatriaSehingga tumbuh pemuda dan pemudi yang semangat membangun negaraPendidikan mengajarkan cinta alamSehingga terjaga kekayaan alam dan lingkungan yang sejahtera Tanpa pendidikan mungkin negara tidak akan berdiri kokohLemah terserang musuh tertindas oleh zaman tak berdayaMiskin harta dan miskin ilmu menyiksa tenteramTerjatuh luka menghadapi kenyataan dunia Walau di tengah pandemiTentu Selengkapnya >>