Ke Pangkuan Ibu

Ke Pangkuan Ibu Oleh: Aurelia Maharani Arunika menyongsong mayapada Waktu santai berpamitan Diganti kepadatan sisi fatamorgana Aku menenteng gelar sambil berjalan Ibu, aku siap kembali Aku bukan kaum elite di sana Hanya seorang wanodya biasa Berkelana menggapai ilmu sampai ke Cina Mengharapkan masa kelak nan adiwarna Ibu, aku sudah wisuda Perempuan tua ringkih namun bak adiwira Wajah tak semuda dulu namun bak adicandra Senyum merekah bak indahnya kanigara Merentangkan tangan bak malaikat nyata Ibu, aku rindu ke pangkuanmu Hampir empat Selengkapnya >>

Benalu

Benalu Oleh: Putri Amelia             Seorang gadis kecil menunduk dan berjongkok di sebuah batu nisan. Air matanya mulai mengering setelah dia menangis tersedu-sedu sepuluh menit yang lalu. Ia menatap nisan itu dalam. Di sana terpampang tulisan dari nama sang ayah, seseorang yang sangat menyayanginya.             Wanita paruh baya di sampingnya berdiri. Masih menatap nanar batu nisan itu. Tidak percaya bahwa suaminya meninggalkannya. Sesekali ia membenarkan gendongannya. Membenarkan posisi tidur anaknya agar tidak terbangun sambil membelai wajahnya. Air matanya mengalir, lalu Selengkapnya >>

Berkat dari Waktu

Berkat dari Waktu Oleh: Angel Sania Meok Ada sebuah kisah tentang seorang anak perempuan yang tinggal di desa kecil yang memiliki mimpi besar membangun desanya. Anak perempuan berambut panjang, berkulit coklat memiliki mata bulat berwarna hitam ini bernama “Bulan”. Bulan hidup dan tumbuh besar dalam keluarga yang sederhana, dengan kedua orang tua dan tiga saudaranya mereka selalu harmonis walaupun dalam keadaan yang berkekurangan. Bulan adalah anak perempuan yang pendiam berbeda dengan anak seumurnya, Bulan lebih suka menyendiri dan tidak menyukai Selengkapnya >>

Kejutan Setelah Asa

Kejutan Setelah Asa Oleh: Astrid Tharissa Az Zachra Lika-liku kaulewati Derasnya arus kauarungi Siang malam tak kauhindari Tapi apa yang terjadi?  Kegagalan datang menerpamu Menggores luka menghempas gairahmu Deru tangis menghampirimu Seakan jiwamu tak lagi mampu Kauberada di titik asa Seakan takdir tak mengiraukan usahamu Lantas kaupikir ini membuang waktu Lemah tak lagi berdaya Dari terbit hingga tenggelamnya fajar Ditemani derai airmata Mencari titik terang Di mana yang kurang Sampai kaumerasa jenuh Baru kausadar skenario Tuhanmu Karna kejutan istimewa menghampirimu Selengkapnya >>

Sadarlah

Sadarlah Oleh : Mutiara El Hikmah Sebagian orang menunggu akhir tahun untuk dirayakan Terkadang lupa, mungkin saja menjadi akhir kehidupan Sang Waktu terus berjalan Namun, pikiran buntu di tengah keramaian   Apakah itu pertanda? Dunia sudah di penghujung masa Tak perlu banyak bicara Cukup hati mengalunkan nama-Nya   Akhir tahun nanti Bisakah kita menapakkan kaki di bumi? Atau malah terbujur ditelan tanah Sendiri; menyesali segala amarah   Sebelum tutup usia Sadarlah Kita ini seorang hamba Yang butuh belas kasih Pencipta Selengkapnya >>