Dalang Pencuri Api

Oleh Iqbal Abdul Rahman Rifky

 

“Bodoh! Kenapa bisa kejadian lagi? Ini sudah kesekian kali kita kecolongan. Jangan sampai ini kejadian lagi. Ini yang terakhir!” Eka marah-marah pada Anto, Jono, dan Alip. Tiga pemuda ini selalu ditugasi oleh Eka untuk menjaga pos ronda agar selalu kondusif dan bebas dari kejahatan apapun, sekecil apapun.

“Tapi, Ka, itu kan cuma kehilangan kecil. Tak perlu dipermasalahkan sebesar ini,” sahut Anto.

“Heh, To! Ini bukan masalah besar atau kecil. Tapi ini masalah seberapa sering kita kehilangan hal kecil dan kita membiarkannya. Kalau terus dibiarkan, ini akan jadi kebiasaan yang buruk, To. Kita tak boleh tinggal diam,” jawab Eka dengan nada yang masih tinggi. Anto yang setengah paham hanya mengangguk saja, sementara Jono dan Alip hanya diam menunduk.

“Terus kita harus berbuat apa, Ka?” tanya Alip.

“Tingkatkan kewaspadaan kalian. Curigai tiap orang yang memang mencurigakan. Tapi jangan sampai kalian teledor. Jangan kecolongan lagi,” jawab Eka.

“Bukan mau menuduh ya, Ka. Tapi aku curiga pada Agus. Dia yang selalu pulang lebih dulu ketimbang anak-anak lain. Dan selalu ada yang kehilangan setelah itu,” Anto menyahut.

“Tidak mungkin! Sepupuku itu orang baik. Aku tak percaya tuduhanmu,” jawab Eka dengan suara yang kembali meninggi.

Akhir-akhir ini kasus pencurian memang sedang marak di Desa Watugede, sebuah desa kecil di kaki Gunung Pandanmawar. Sudah hampir setengah tahun, kasus pencurian ini belum berhasil terungkap. Hampir setiap hari orang-orang mengeluh pada Eka tentang kehilangan sesuatu, selepas dari pos ronda. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, dan memang tidak ada yang terlihat mencurigakan. Mungkin hanya Agus, sepupu Eka yang dicurigai oleh Anto. Agus memang hampir setiap hari bersama Eka dan kawan-kawannya di pos ronda. Namun Agus selalu pulang lebih dulu ketimbang Anto dan kawan-kawan lainnya.

 

***

 

Desa Watugede memang terkenal dengan segala keterbatasannya. Sudah menjadi nasib dari desa yang terletak di lereng gunung dan berbatasan langsung dengan hutan yang membutuhkan waktu hampir sehari penuh untuk ke pusat kota. Ada satu barang yang sangat dianggap langka dan juga sangat dijaga oleh masing-masing pemiliknya. Barang ini pula yang selalu menjadi incaran para tangan-tangan jahil. Korek api. Iya. Hanya korek api. Entah apa tujuan tangan-tangan jahil itu mencuri korek api. Tidak akan berguna kalau hanya dikumpulkan saja. Mau dijual pun percuma, dan itu pasti memunculkan kecurigaan dari warga kampung, karena hanya satu warung yang menjual korek api, warung Pak Kades dan memang hanya ada satu warung saja di kampung itu. Memang harga korek api di Desa Watugede menjadi mahal. Bisa dua, atau tiga kali lipat harga pasaran. Mungkin terjadi monopoli harga, tapi warga tak berani menanyakan hal itu pada Pak Kades. Dan di Watugede pula, korek api menjadi barang yang sangat personal dan berharga.

Maraknya kasus kehilangan membuat Eka tak bisa tidur akhir-akhir ini. Eka, yang oleh Pak Kades diberi amanah untuk menjaga pos ronda, merasa apa yang terjadi di pos ronda adalah tanggung jawabnya. Pos ronda memang menjadi tempat favorit bagi orang-orang Watugede. Mereka biasa berkumpul selepas jam tujuh malam untuk menonton sepakbola ramai-ramai, main kartu remi, atau hanya sekedar duduk-duduk saja sambil merokok dan minum kopi. Dan salah satu dari mereka akan kehilangan korek apinya. Hingga kabar ini membuat Pak Kades memanggil Eka ke rumahnya.

“Kenapa bisa terjadi, Ka?” tanya Pak Kades dengan dingin.

Anu, Pak, itu, saya juga tidak tahu, Pak. Tiap hari saya dan kawan-kawan selalu menjaga, Pak,” jawab Eka dengan sedikit gemetar.

“Kamu tidak curiga pada siapa-siapa?” tanya Pak Kades lagi.

“Saya sih tidak, Pak. Tapi Anto kawan saya mencurigai sepupu saya, Agus, Pak,” jawab Eka.

Pak Kades lama terdiam. Entah tak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Tapi memang kejadian sering hilangnya korek api membuat warga Watugede menjadi tidak nyaman.

“Ya sudah. Kamu urus saja, Ka. Aku tidak mau lagi mendengar kabar itu lagi. Kamu harus selesaikan,” kata Pak Kades sembari beranjak dari tempat duduknya.

“Baik, Pak,” jawab Eka. Eka pulang dengan muka masam penuh beban karena kabar ini sudah sampai ke Pak Kades dan itu menunjukkan ketidakmampuan Eka dalam menjalankan amanah dari Pak Kades.

Sebenarnya, jika  Pak Kades mau menggunakan otaknya sedikit saja, ia akan sadar, bahwa banyaknya kasus kehilangan akan berdampak pada tingginya warga yang membeli korek api. Pak Kades bisa untung. Namun sepertinya Pak Kades tak berpikir seperti itu. Takutnya malah menimbulkan kecurigaan terhadapnya.

Sore itu Eka menumpulkan Anto, Jono, dan Alip di pos ronda. Eka berniat untuk menyusun strategi supaya pencuri korek api bisa ditemukan.

“Bagaimana kalau orang-orang kita larang saja bawa korek ke pos ronda?” usul Jono.

“Hei, bodoh! Bagaimana nanti orang-orang kalau mau merokok? Bagaimana kalau orang-orang ingin bakar kayu? Pikir dong!” jawab Eka ketus.

“Kita sediakan saja satu atau dua korek api di sini. Kita awasi. Bagaimana, Ka?” usul Anto.

“Bisa, tapi akan susah mengetahui siapa pencurinya. Mungkin koreknya tidak hilang, tapi tidak akan tahu siapa yang selama ini mencuri,” jawab Eka.

Setelah itu lama mereka berempat terdiam. Masing-masing sedang mengasah otak, mencoba memberikan idenya. Eka duduk di sudut pos ronda sambil memandani langit-langit. Anto duduk di sebelahnya dengan tatapan kosong ke depan. Jono duduk di tepi pos ronda sambil mengayun-ayunkan kakinya. Sementara Alip, dia hanya mondar-mandir sekeliling pos ronda. Entah ikut berikir atau tidak.

“Begini saja, Ka,” Anto memulai. “Tapi maaf sebelumnya, bukan mau menuduh lagi. Aku pernah bilang kalau aku menaruh curiga pada Agus sepupumu itu. Bagaimana kalau kita coba awasi Agus dan kita suruh di pulang bersama kita. Kalian tahu semua, kalau Agus selalu pulang lebih dulu dan pasti ada yang kehilangan setelah itu. Bagaimana?” usul Anto.

“Boleh juga sebenarnya, tapi aku masih kurang yakin, To,” sahut Alip.

“Aku sih terserah kalian. Aku ikut saja,” tambah Jono dengan datar.

“Kau ada masalah apa dengan Agus, To? Kok dari kemarin selalu bilang bahwa Agus pelakunya,” tanya Eka dengan nada tinggi.

“Bukan begitu, Ka. Aku hanya sekedar menaruh curiga, karena setiap dia pulang awal, maka ada saja yang kehilangan. Ini murni bukan urusan pribadi, Ka,” jawab Anto.

“Tapi benar juga kata Anto. Kita coba saja dulu awasi Agus beberapa hari ini. Tidak salah juga kan, Ka?” sahut Alip.

“Aku juga setuju dengan Anto,” sahut Jono juga.

“Bagaimana, Ka? Beberapa hari ini saja,” yakin Anto pada Eka.

“Baiklah baiklah. Beberapa hari ke depan kita coba awasi Agus. Usulan Anto aku terima,” jawab Eka dengan masam. Eka sebenarnya tidak enak hati mencurigai Agus sepupunya itu. Agus memang terkenal sebagai pria pendiam dan tertutup. Agus juga sering diajak Eka untuk berkumpul dengan kawan-kawan lainnya. Karena tak enak menolak, Agus ikut saja meski Agus jarang berbicara dan selalu pulang lebih awal.

Malam itu selepas gelap, seperti biasa Eka mengajak Agus ke pos ronda. Tak ada yang mencurigakan dari ajakan Eka. Anto sudah menunggu di pos ronda bersama beberapa warga. Jono pergi ke rumah Pak Kades untuk mengambil televisi yang akan dipakai untuk menonton sepak bola bersama di pos ronda. Sementara Alip mengambil singkong dan ubi rebus, gorengan, serta kacang-kacangan dari rumah Mak Siti yang disuruh Pak Kades untuk membuatkan kudapan bagi warga. Ada sekitar sepuluh atau sebelas orang yang di pos ronda itu.

Eka dan Agus langsung mencari tempat yang nyaman di pos. Jono sedang memutar-mutar antena untuk mencari gambar yang jernih. Sementara beberapa warga mengeluarkan rokok dan koreknya seperti biasa. Nampaknya warga masih tidak kapok dengan kehilangan korek api. Warga masih menaruh korek api di sebelah rokoknya, tidak dimasukkan dalam saku. Memang tidak ada tradisi memasukkan lagi rokok dan korek api ke dalam saku ketika sedang berkumpul. Orang-orang mulai terfokus pada pertandingan sepak bola di televisi ukuran 13 inci yang gambarnya kadang tak jelas itu. Jono sesekali merubah posisi antena untuk mendapatkan gambar yang cukup bagus, ditemani keluh kesah warga. Eka yang duduk di sebelah Agus juga ikut larut dalam lika-liku pertandingan sepakbola, sambil sesekali melirik pada Agus. Alip dan Anto, yang duduk di sudut belakang, tidak melepaskan pandangan sedikit pun pada Agus hingga pertandingan selesai.

“Gus, jangan pulang dulu. Bantu bersih-bersih, ya,” suruh Eka.

“Oh, iya, Mas Eka,” Agus mengiyakan. Ia langsung membantu Alip untuk membersihkan sisa makanan dan membuang sampah-sampahnya di tempat sampah di utara pos ronda. Sambil membersihkan pos ronda, pandangan Anto, Alip dan Jono tidak lepas dari Agus.

“Ada apa mas, kok lihat saya begitu?” tanya Agus heran.

“Oh, tidak apa-apa. Senang aja lihat kamu bisa bantu-bantu kita,” jawab Anto yang cukup terkejut dengan teguran Agus. Eka juga tak lepas pantau dari pembicaraan Agus dan Anto.

“Bagaimana? Aman?” seru Anto pada kawan-kawannya.

“Aman, To,” sahut Alip.

“Ya sudah. Kalau begitu kita pulang saja,” Eka menimpali sembari beranjak pulang dan mengajak Agus. Anto, Jono, dan Alip juga langsung beranjak pulang. Malam itu tidak ada yang kehilangan korek api. Mungkin karena Agus tidak merencanakan, atau memang bukan Agus yang mencurinya. Yang jelas, Eka sedikit lega karena tidak lagi mendapat teguran dari Pak Kades.

Selama hampir dua minggu, tidak ada kabar warga yang kehilangan korek api di pos ronda. Nampaknya usulan Anto cukup berhasil untuk setidaknya menghilangkan pencurian sementara. Meski belum ada yang tahu siapa pencuri yang sebenarnya. Agus akhir-akhir ini memang mengikuti Eka dan kawan-kawannya menjaga pos ronda. Tidak sekalipun Agus pulang lebih awal seperti yang sebelum-sebelumnya. Hal ini membuat kecurigaan Anto semakin kuat bahwa Agus lah yang selalu mencuri korek api. Hingga pada suatu sore, Anto sedikit menyinggung kejadian itu di depan Agus.

Kok sudah tidak ada yang kehilangan lagi, ya?” Agus memulai pembicaraan.

“Iya juga. Sudah dua minggu lebih ini,” timpal Jono.

“Kalian ini bagaimana, ada yang kehilangan, bingungnya setengah mati. Tidak ada yang kehilangan, juga bingungnya tidak karuan. Kalian ini maunya apa?” sahut Eka. Sementara itu Agus tetap diam dan sesekali melihat ke arah Eka.

“Bukan begitu, Ka. Aku cuma heran saja. Kok selama dua minggu ini tidak ada lagi yang kemalingan. Biasanya hampir tiap hari, kan. Apa jangan-jangan…..” balas Anto sambil melirik ke arah Agus.

“To, kamu itu sebenarnya senang apa tidak sih kalau tempat ini jadi aman, tidak ada pengacau atau maling. Kok kelihatannya kamu aneh begitu,” kata Eka.

“Ya senang lah, Ka. Siapa yang tidak senang kalau lingkungannya aman, tenteram, tidak ada gangguan, tidak ada pencuri, ya senang lah,” balas Anto kembali.

“Ya sudah kalau begitu,” Eka mengakhiri dengan singkat. Eka segera mengajak Agus untuk pulang. Ada mimik muka yang tak biasa dari Eka. Tak seperti biasanya, Eka kali ini sedikit cemas dan bermuka masam. Kadang juga tidak stabil emosinya. Ada sesuatu yang tidak beres dari Eka.

Sementara itu, Agus masih seperti biasanya. Datar mimik mukanya, lebih banyak diam dan serin menunduk. Pasif. Tidak ada yang paham tentang Agus mengapa dia seperti itu. Atau mungkin sudah bawaan lahir, atau ada sesuatu yang terjadi. Eka lebih aneh lagi. Sejak hari itu, Eka tak sesemangat biasanya. Eka lebih banyak diam dengan tatapan kosong. Hal ini membuat kawan-kawannya merasa heran dengan kelakuan Eka akhir-akhir ini.

Eka tidak lagi mengajak Agus untuk selalu ikut dengannya menjaga pos ronda. Memang, sejak Agus ikut menjaga pos ronda, tidak ada lagi pencurian. Agus memang menjadi target kecurigaan kawan-kawan Eka. namun tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh Agus sebagai pencurinya. Eka yang sedari awal sangat marah ketika mendengar banyak warga yang menjadi korban pencurian, kini menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Agus hanya sesekali datang ke pos ronda. Sekedar untuk duduk-duduk santai bersama warga, atau ikut menonton sepakbola. Agus juga sudah tidak lagi ikut menjaga pos ronda, membersihkan pos ronda, dan tidak lagi selalu ikut dengan Eka dan kawan-kawan. Kali ini suasana sudah cukup aman. Pencurian sudah mereka anggap tidak ada.

 

***

 

“Mas Eka! Mas Eka!” seorang warga datang dengan tergopoh-gopoh ke pos ronda siang itu. Eka dan Anto kebetulan berada di sana sedang duduk santai.

“Tenang dulu, pak. Ambil napas dulu. Sekarang ada apa?” tanya Eka sembari mencoba menenangkan.

Anu, mas. Saya dan Pak Mardi kehilangan lagi, mas,” orang itu mengadu pada Eka.

“Sialan! Maling itu ada lagi!” umpat Anto. Eka yang mendengarnya, sedikit terkejut. Namun tidak ada raut kemarahan di muka Eka. Justru Anto yang kini terlihat sangat marah.

“Ya sudah, pak. Biar saya dan teman-teman yang urus. Bapak tenang saja, malingnya pasti akan kami temukan,” Eka mencoba menenangkan kembali.

Semalam memang pos ronda ramai sekali. Ada pertandingan final sepakbola dan orang-orang menonton bersama di pos ronda. Eka tidak bisa datang. Ia harus menjaga ibunya yang sedang sakit di rumah. Eka menyuruh Agus untuk datang ke pos ronda dan ikut membantu Anto, Jono, dan Alip menyiapkan semuanya.

Seperti biasa, orang-orang menonton sepakbola sambil merokok, makan kacang, ubi rebus, gorengan, dan minum kopi. Tak ada yang aneh. Hanya lebih santai saja, karena sudah dua minggu lebih tidak ada pencurian. Orang-orang lebih tenang.

Malam itu Eka menjaga ibunya di rumah, sembari menunggu Agus pulang membawa beberapa korek api yang dicurinya dari warga di pos ronda. Malam itu memang terasa panjang sekali.

 

SELESAI

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *