Day 1 BSCB 2018: Pengenalan Kebidikmisian dan Kepemimpinan

Malang (27/10)—Forum Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang (Formadiksi UM) menyelenggarakan Bidikmisi Students’ Capacity Building 2018 dengan tema “Menumbuhkan Semangat Mahasiswa Baru Bidikmisi UM yang Berkarakter dan Berintegritas dalam Mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi”. Acara ini diikuti oleh semua mahasiswa baru Bidikmisi Universitas Negeri Malang tahun 2018.

Acara ini dibuka dengan pemukulan gong oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Teknik, Prof. Dr. Marji, M.Kes. Selain itu, acara BSCB 2018 juga dihadiri oleh dua pemateri hebat, yaitu Drs. Ismet Yus Putra, M.M. selaku Kepala Subdirektorat Kesejahteraan dan Kewirausahaan, Direktorat Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, dan Dr. H. Sultoni, M.Pd, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan sekaligus Founder Indoçakti Group.
Materi tentang kebidikmisian pertama disampaikan oleh Bapak Ismet. Beliau menyampaikan bahwa Bidikmisi merupakan program untuk menumbuhkan akses pendidikan bagi mahasiswa miskin dengan prestasi yang baik. Program Bidikmisi juga bertujuan untuk meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi di Indonesia agar tidak terjadi banyak pengangguran terdidik.

“Pendaftaran Bidikmisi diawali dari rekomendasi sekolah untuk mendapatkan Bidikmisi, setelah itu diberi KAP dan PIN. Untuk yang mempunyai KIP atau sejenisnya bisa langsung daftar tanpa rekomendasi dari sekolah. Setelah itu dilakukan verifikasi, dengan menunjukkan berkas-berkas seperti Surat Keterangan Tidak Mampu, rekening listrik, ataupun foto rumah, verifikasi kita lakukan dengan manual. Pendaftar Bidikmisi tidak dipungut biaya saat pendaftaran SNMPTN dan SBMPTN. Setelah itu, seleksi dilakukan oleh kampus masing-masing. Untuk kuota yang mendaftar Bidikmisi di setiap kampus berbeda karena pendaftar Bidikmisi juga berbeda-beda di setiap kampusnya, jadi semakin besar yang mendaftar Bidikmisi di setiap kampus semakin banyak pula yang diterima,” jelas bapak Ismet saat pers conference berlangsung.
Bapak Ismet juga berharap Program Bidikmisi dapat memutuskan rantai kemiskinan. Dengan banyaknya mahasiswa Bidikmisi yang menyebar di Indonesia dapat menjadi modal dalam memperkuat kondisi sosial bangsa dan aktif untuk mendorong rasa cinta tanah air serta persatuan. Sebagai mahasiswa Bidikmisi juga harus dapat mempengaruhi masyarakat lain dalam hal-hal yang positif.

Setelah itu, materi kedua dilanjutkan oleh Dr. H. Sultoni, M.Pd, pada materi kedua ini membahas tentang Spiritual Leadership. Dalam materi ini, Bapak Sultoni menyampaikan bahwa setiap mahasiswa harus memiliki mimpi untuk sukses. Dan untuk menjadi sukses adalah berjanji kepada diri sendiri untuk sukses.

“Menjadi seorang pemimpin harus mampu memberi pengaruh, karena pemimpin akan selalu mendapat yang lebih banyak dari orang-orang yang dia pimpin. Setiap pemimpin harus menciptakan visi, impian, dan obsesi untuk orang yang mereka pimpin,” tutur beliau.

Kepemimpinan spiritual menurut beliau adalah mengutamakan orang lain, membiarkan orang lain dulu yang menang, setelah itu giliran kita. Menjadi orang yang sukses harus fokus pada tujuan dan terus belajar, jangan pernah menyalahkan situasi sebagai penyebab kegagalan. Beliau juga menyampaikan pesan bahwa Indonesia butuh pemuda yang belajar dari muda, dan belajar dari awal untuk menjadi pemimpin. (Nur Oktaviana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *