Dia Mati untuk Kita

       Nian tidak pernah mengerti mengapa dirinya harus ikut beribadah bersama kedua orang tuanya. Ya, setidaknya untuk saat ini. Jumat Agung yang jatuh pada 10 April 2020 kali ini, dirasanya sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya: biasa. Siang itu cerah, mungkin kelewat cerah bagi Nian karena sedari pagi matahari seakan gemar membagikan cahayanya yang panas dan menyilaukan. Tidak tampak akan datang hujan, tidak sama sekali. Jika sudah seperti itu, Nian tahu pasti apa yang akan Ayah katakan: “Puji Tuhan, cuacanya mendukung untuk kita beribadah,”. Ahhh, Nian menahan gerutu setiap Ayah mengatakan hal itu. Menurut Nian, ‘cuaca yang cerah’ bukanlah hal yang perlu disyukuri dengan cara berlebih sambil memuji Sang Pencipta. Semua itu terjadi karena memang seharusnya terjadi. Setidaknya itu yang Nian pelajari dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada semester lalu. “Nian, ayo cepat ganti baju, Ibu tunggu di bawah ya Nak,” suara Ibu Nian terdengar sangat bersemangat. Ayolah, apa hanya dirinya yang biasa saja bahkan enggan mengikuti ibadah hari ini? tanya Nian dalam hati.

***

       Ibadah Jumat Agung yang dilaksanakan sore itu penuh dengan khidmat. Semua jemaat terlihat fokus dan hanya tertuju pada satu arah yaitu sang Pendeta yang sedang berkhotbah. Bahkan, beberapa di antara mereka menitikkan air mata dan buru-buru menyekanya dengan sapu tangan yang ada di saku mereka, seolah-olah mereka sudah menyiapkan diri untuk tangis mereka sore itu. Lucu bukan? Yah, begitulah ‘para jemaat’. Jangan kecewa, mereka memang seperti itu. Setiap tahun yang terjadi pasti akan tetap sama, seperti itu. “Dia mati untuk kita!,” seru Pak Pendeta dari atas mimbar. Seruannya yang menurutku lebih mirip teriakan setengah suara membuatku segera mengalihkan pandang kepadanya. Mungkin beliau tahu aku sedang menghitung jumlah orang yang terharu karena khotbah yang disampaikannya. “Saudara-saudara, ingatlah bahwa Yesus rela mati untuk menebus dosa-dosa kita bahkan untuk seluruh umat manusia yang tidak mengenal-Nya,” imbuh Pak Pendeta. Percayalah, khotbah dengan kata-kata seperti itu akan selalu disampaikan setiap tahun. Aku ulangi: kata-kata sama, setiap tahun. “Mungkin Anda dan saya sudah bosan mendengar kata-kata itu,” kata Pak Pendeta. Seolah beliau bisa membaca pikiranku, dia pun melanjutkan kata-katanya “Namun, Anda harus menanam kuat kata-kata itu di dalam hati dan pikiran Anda. Kematian Yesus bukan sekadar isapan jempol semata. Kematian-Nya merupakan wujud pernyataan kasih Tuhan kepada umat manusia yang berdosa sehingga maut luput daripada kita, AMIN!” tutup Pak Pendeta. Seberbahaya apakah maut itu sehingga Yesus harus mati? Bukankah lebih baik ia terus hidup dan menolong umat manusia tanpa mendramatisirnya dengan sebuah kematian? Wajar bukan jika anak berumur 12 tahun sepertiku menanyakan hal seperti ini?

***

       Khotbah Pak Pendeta masih terngiang-ngiang di benakku sampai malam ini. Entah mengapa khotbahnya jadi terasa berbeda dari khotbah tahun-tahun sebelumnya. Apa mungkin perbedaan itu justru datang dariku yang mulai memikirkan kata-kata dalam khotbah? Aku akui, tahun-tahun sebelumnya aku hanya menjadi pendengar yang baik, bukan pemikir. Mata ini belum dapat terpejam padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku coba turun dan menengok ke ruang keluarga. Ku lihat Ayah dan Ibu sedang duduk bersama di sofa. Tampaknya mata mereka berkaca-kaca dan terpaku menatap layar televisi. Ku coba menghampiri mereka dan melihat apa yang membuat orang tuaku menangis di malam Jumat Agung seperti ini. Tampaknya film yang mereka saksikan mendekati akhir karena tokoh Yesus sudah disalibkan. Aku mencoba bergabung bersama mereka. Ibu menggeser posisi duduknya dan memberiku ruang untuk ikut duduk. Dia melakukan itu tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari layar televisi. Tepat saat aku duduk dan melihat ke layar televisi, wajah sang tokoh utama yang berlumur darah dan bermahkota duri mengucapkan monolog terakhirnya “Father into your hands, I commend my spirit,”. Tentu itu menjadi salah satu perkataan yang lekat dan tidak dapat dipisahkan dari film The Passion of The Christ yang setiap Jumat Agung selalu Ayah putar. Ketika film itu selesai, Ibu lekas berdiri sambil mengusap air mata di pipinya. “Ibu mau berdoa dulu,” pendeknya. Ia naik ke atas dan meninggalkanku bersama Ayah dengan air matanya yang mengembeng.

       Aku pun membuka percakapan dengan pertanyaan yang bersifat retorik “Mengapa Ayah menangis? Haruskah itu terjadi untuk film yang setiap tahun Ayah putar sejak 2005 lalu?, tanyaku seolah penuh ketidaktahuan. “Yah.. Ayah merasa tidak layak menjadi salah satu manusia yang diselamatkan-Nya dan film ini mengingatkan sekaligus menyadarkan Ayah akan hal itu,Ia mengambil tisu untuk kesekian kalinya. “Mengapa Ayah merasa begitu?, tanyaku lagi. Ayah menatapku dan menghela napasnya. Mungkin kesan religi yang sedang ia nikmati seketika terganggu dengan pertanyaanku. “Begini Nak, Ingatkah kamu khotbah Pendeta pada ibadah sore tadi?, Ayah bertanya balik padaku. “Aku ingat…, bahkan tidak pernah lupa, kataku dalam hati. “Ya, Yesus mati demi menebus dosa kita agar kita luput dari maut,. “Apakah maut sangat berbahaya sehingga Yesus harus mati?” kali ini Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku. “Maut yang Tuhan Yesus kalahkan demi kita bukan hanya tentang kematian biasa Nak. Maut di sini adalah kematian yang abadi di mana tanpa pengorbanan-Nya, manusia akan hidup di dalam kegelapan, selamanya, Ayah mengatakan setiap kata dengan penuh penghayatan. Aku masih berusaha memahami kata-kata yang diucapkannya ketika dia kembali melanjutkan penjelasannya, “Pada dasarnya manusia memiliki sifat-sifat yang buruk. Hal itu yang menjadikan manusia tidak bisa menjadi makhluk sempurna dan melebihi Sang Pencipta. Bayangkan manusia hidup dengan saling membenci, saling berkelahi bahkan saling membunuh terus-menerus. Manusia menjadi jahat karena tidak mengenal kasih. Tuhan Yesus mati agar kita mengenal kasih-Nya yang murni dan tulus untuk kita, Ayah menggenggam tanganku, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” [1 Yoh. 4:8]. Ku rasa aku mulai memahami apa yang Ayah katakan. “Jika apa yang Ayah katakan benar, lalu mengapa masih ada perkelahian dan pembunuhan yang terjadi saat ini? Padahal Tuhan Yesus sudah mati untuk kita,. Ayah melepas genggamannya dari tanganku dan raut wajahnya berubah menjadi serius kali ini. “Apa yang Ayah katakan benar dan nyata adanya. Apa yang Ayah katakan menjadi bagian dari iman kita. Kita harus percaya dan yakin bahwa Yesus mati untuk kita. Itu adalah hal mutlak yang tidak bisa diganggu gugat, Ayah kembali menghela napas, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” [Yoh. 3:16] imbuhnya. “Lalu mengapa masih ada manusia yang berkelahi dan bahkan menghilangkan nyawa sesamanya?” lanjut Ayah. “Sekarang coba Ayah bertanya padamu, untuk apa kamu dan Ibu pergi ke salon minggu lalu?,. Pertanyaan Ayah sontak membuatku terkejut. Bagaimana tidak? Rasanya pertanyaan tersebut jauh dari konteks percakapan yang sedang berlangsung. Aku sempat tertegun dan keheningan di antara kami berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnya aku menjawab pertanyaan Ayah, “Untuk memotong rambutku yang sudah panjang, kataku. “Benar sekali! Sekarang kamu sudah memiliki rambut yang pendek dan akan datang lagi ke salon ketika rambutmu sudah panjang dan hal itu pasti akan terus kamu lakukan selama rambutmu tetap tumbuh, Ayah terlihat puas dengan penjelasannya. Ia kembali bertanya, “Jika seperti itu, mengapa banyak teman-temanmu yang masih memiliki rambut panjang?” Ayah menatapku, pupilnya membesar. “Jelas karena mereka tidak datang ke salon dan tidak ingin memotong rambut mereka,Jawabku apa adanya. Ku harap Ayah menjelaskan apa maksudnya semua ini. “Benar sekali! Kini kamu sudah menjawab pertanyaanmu sendiri tentang mengapa masih ada manusia yang berkelahi bahkan membunuh padahal Tuhan Yesus sudah mati untuk umat manusia, Ayah terlihat puas sekali dengan penjelasannya. “Maksud Ayah?, tanyaku masih bingung. “Tuhan Yesus memang mati untuk kita dan itu merupakan wujud kasih-Nya kepada seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan mereka. Tuhan Yesus telah memberikan keselamatan untuk semua manusia tanpa terkecuali tetapi apakah manusia mau datang kepada Tuhan Yesus? Tidak semuanya bukan?,. Ayah menyandarkan punggungnya pada sofa. “Itulah sebabnya masih ada manusia yang tidak mengenal kasih Allah dan masih hidup dalam kegelapan,. “Sama seperti teman-temanku  yang tidak pergi ke salon dan memotong rambut ya?,  kataku mulai paham. “Ya benar. Tidak semua orang mau percaya kepada-Nya. Lalu apakah mereka yang percaya berarti tidak hidup dalam kegelapan lagi? Belum tentu. Jika tidak taat dan setia, kita juga akan terjerumus pada sifat-sifat buruk yang membuat kita jauh dari kasih Allah dan sifat buruk itu terus tumbuh dan mengakar di dalam kehidupan manusia,” kata Ayah lagi. “Sama seperti aku yang tidak potong rambut dan membiarkan rambutku terus memanjang bukan?, kataku yakin. “Ya, sangat benar!, kata Ayah seraya merangkulku. “Kita yang sudah mengenal kasih Allah bukan hanya dituntut untuk percaya tetapi juga taat dan setia supaya dapat melewati berbagai lika-liku kehidupan dengan tetap berpegang pada perintah-perintah-Nya. Manusia tidak dapat mengandalkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, kita datang beribadah kepada Allah karena kita butuh pimpinan dan bimbingan-Nya dalam menjalani kehidupan ini. Termasuk Ibadah Jumat Agung yang hari ini kita hadiri bersama. Kita diingatkan bahwa kematian-Nya adalah sesuatu yang luar biasa dan patut kita syukuri dengan memelihara iman kita selama kita hidup karena kita percaya bahwa Dia mati untuk kita, manusia berdosa, kata Ayah seolah menyinggung hati kecilku soal ibadah tadi sore. Aku tersenyum simpul. Betapa pemahamanku dangkal selama ini. Betapa sempit pikiranku yang hanya memikirkan soal pola ibadah yang berulang dan membosankan padahal ada makna yang sangat berarti di dalamnya. Aku menghela napas, “Ayah…,” Ayah memakai kembali kaca mata yang sedari tadi belum ia gunakan sejak menyeka air matanya menggunakan tisu. “Ya?,” Ayah membenarkan posisi kaca matanya dan melihat ke arahku. “Terima kasih sudah menjelaskan semuanya ya. Aku jadi lebih paham tentang Tuhan kita yang penuh kasih,” ucapku tulus. “Sama-sama Nak,” Ayah memelukku erat. “Sekarang pergilah tidur, ini sudah larut malam, Ayah dan aku berdiri dan meninggalkan ruang keluarga. Ayah mengantarku ke kamar dan mengingatkanku untuk jangan lupa berdoa sebelum tidur. Aku menunjukkan ibu jariku pada Ayah sebagai wujud isyarat ‘oke’.

***

       Malam itu begitu penuh dengan kasih. Kasih seorang Ayah kepada anaknya maupun kasih seorang anak kepada Ayahnya. Semua hal indah itu bersumber dari Allah. Hal yang paling utama aku sadari malam itu adalah kasih Tuhan Yesus untukku dan seluruh umat manusia. Aku harap, banyak orang di luar sana (yang jika belum) segera menyadari bahwa kasih Tuhan Yesus luar biasa dan ada di tengah-tengah kita sehingga sangatlah bodoh apabila menyia-nyiakannya. Oleh sebab itu, segeralah datang kepada-Nya sebab Dia mati untuk kita.

SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *