Elevator

Rasa resah itu sudah ada sejak usia enam belas tahun. Terus menguar hingga mendesak diri  yang masih begitu ragu. Setiap pagi, sesaat setelah terbangun dari mimpi, pertanyaan yang sama masih menghantui tiada  henti. Merasa bingung, namun rasa takut lebih mendominasi.

“Apa bisa aku kuliah, nanti?”

Sebuah tanya yang cukup meremat hati. Membuat diri yang masih enam belas tahun mulai membagi pikiran begitu dini. Menikmati masa SMA sembari berandai, apa bisa aku cicipi bangku kuliah nanti?

Aku bukan putri pebisnis sukses yang kaya akan harta, juga bukan putri pejabat yang bisa masuk lewat pintu mana saja. Aku, hanya putri dari salesman yang begitu sederhana. Tapi jangan salah sangka, aku pun punya mimpi setinggi langit yang tidak biasa.

Remaja aku habiskan untuk berkutat dengan ambisi yang banyak memakan waktu. Bermesra  dengan puluhan buku hingga melepas banyak momen hanya untuk mengasah bakat yang Tuhan beri sedari dulu.

Aku kira, berhasil menembus SMA favorit seantero kota adalah hal yang sangat membahagiakan. Tapi nyatanya, Tuhan tempatkan aku pada lingkungan hedonisme penuh gengsi yang banyak menguras rasa.

Mereka, yang aku sebut teman, adalah sosok yang justru menjatuhrendahkan atas nama  finansial. Mengolok impian yang kulukis hingga diri takut untuk sekadar mempunyai mimpi kembali.

Tapi itu dulu. Saat tujuh belas tahunku tiba, ada kabar yang membuat ambisi kembali berkibar hingga tak satupun bisa menghalangi. Bayangan tentang kuliah yang menyita banyak uang perlahan hilang dan tak lagi menyapa.

Bidikmisi datang, menyematkan sebuah harapan yang pernah aku simpan rapat dalam angan.  Hingga dalam sekejap, ia berhasil mengubahku dari keledai tak berdaya menjadi anaconda pemangsa raja hutan.

Iya, memang sehiperbola itu jika digambarkan dengan kata. Dua tahun terakhir masa putih abu-abu, aku habiskan bersama mimpi yang kian menjulang tinggi.

Membawa diri merangkak pergi dari neraka yang penuh sosok yang menghina diri.

Aku bisikkan satu mimpi pada mentari pagi hari. Saat delapan belasku nanti, aku ingin masuk universitas yang didamba, mencicip jalur undangan serta kuliah tanpa biaya yang memberatkan orang tua.

Dan benar saja, Bidikmisi mewujudkan separuh mimpi itu.

***

Nyatanya, meraih mimpi memang tidak semudah yang dibayangkan. Masih ada tatap  remeh  yang membanding-bandingkan, membuat langit biru penuh impian menjadi abu kelam kembali.

Mereka bilang, aku tidak berkembang, tidak ada hasil nyata dan hanya menyusahkan  orang tua semata. Percuma berilmu tinggi tapi tidak menghasilkan sepeser pun materi, lebih baik cari kerja ketimbang kuliah tanpa arti.

Rasanya … ingin aku pergi, bersembunyi di palung terdalam bumi. Karena sungguh, saat yang lain mematahkan mimpi, aku seolah kehilangan satu sayap yang paling berarti.

Belum ada satu tahun aku tempa diri di bangku ini. Berusaha mencari ilmu setinggi mungkin,  demi sebuah cita yang masih berupa angan semata. Pemerintah beri gadis kecil seperti aku kepercayaan dan kesempatan untuk cicipi kuliah yang begitu aku damba.

Tapi, mengapa caci dari sekitar yang aku dapat?

Semua tidak ada yang instan, butuh kesabaran serta kerja keras ekstra demi satu titik di puncak yang sudah lama dinanti. Aku paham, mereka hanya mencoba untuk menguji seberapa besar kemauanku untuk sukses. Tapi tetap saja, mimpiku juga bisa hancur jika terus dipatahkan seperti itu.

Lalu aku ingat seseorang pernah berkata, “Kamu hanya terjatuh untuk sementara waktu. Tidak usah terburu-buru, tidak masalah untuk melangkah perlahan. Jangan bandingkan lagi dirimu dengan yang lain, kalian jelas berbeda. Mundur bukanlah sebuah pilihan.  Buatlah elevatormu sendiri  untuk  menuju mimpimu yang  setinggi langit itu.”

Ya, yang aku butuhkan adalah sebuah elevator. Aku memang pernah jatuh, terluka, hingga  tersesat dalam labirin keputusasaan. Tapi itu dulu, kesempatan dan kepercayaan yang telah diberi tidak lagi aku sia-siakan untuk terpuruk dan  terus menyendu.

Akan aku buat elevatorku sendiri, membawaku dari posisi terendah tanpa mimpi menuju dunia luas tanpa batas—tempatku berkreativitas dan menginspirasi nanti.

Giat semakin kutingkatkan, percaya diri akan aku pertebal, dan doa selalu kusematkan di antara kerja keras tanpa henti yang kulakukan.

Aku ingin berlari secepat angin, mematahkan ketidaktahuanku pada dunia dan berdiri sebagai sosok yang menginspirasi banyak diri.

Tuhan, lagi-lagi aku sematkan doa di antara luasnya langit-Mu. Tolong bantu aku yang lemah ini, restui aku dan mimpi yang saat ini belum bisa kuraih. Berkahilah elevator yang aku bangun sedari dini dan buatlah aku menjadi sosok yang tidak kenal jera untuk mewujudkan cinta dan cita atas mimpiku selama ini.

Aku memang bukan putri dari seorang yang berada. Harta memang bukan kelebihan yang aku punya. Tapi Tuhan tidak buta, untuk sekadar mengetahui mana hambanya yang ikhlas dan mana yang terpaksa.

Inilah sepenggal kisah dari aku—yang masih sibuk dengan cita dan mimpi  demi masa depan.  Berkutat dengan ambisi dan kerja keras tiada henti, untuk mewujudkan mimpi dan  menunjukkan pada dunia bahwa Mahasiswa Bidikmisi pun berhak menuntut ilmu dan tumbuh menjadi sosok yang menginspirasi.

Harta bukan segalanya dan kemauan kuat adalah elevator yang sesungguhnya.

 

Laila Badriyatul Habibah

FMIPA/Biologi 2018

(Juara 2 Lomba Cipta Cerpen Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *