Gadis Pecinta Buku

Gadis Pecinta Buku

Oleh: Afifa Masfufa

Tifa Annisa Putri, seorang gadis cantik yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta kerap dipanggil dengan nama Tifa. Tifa yang telah menyelesaikan kuliahnya dua bulan lalu itu tengah mencari pekerjaan untuk masa depannya kelak. Tak hanya menunggu begitu saja, mungkin karena Tifa sangat mencintai buku ia memilih bekerja sementara di suatu toko buku yang berada di pinggir kota.

Toko Buku Zahra, salah satu toko buku yang kebanyakan menjual buku pengetahuan lama itu memang bisa dibilang sepi pengunjung. Bagaimana tidak? Setiap harinya mungkin hanya ada sekitar 3–4 orang yang keluar masuk tempat itu. Entah hanya menanyakan ketersediaan buku yang sedang populer atau memang ingin membeli buku pengetahuan yang sudah jarang ditemukan di toko buku modern yang lebih ramai.

Tifa sangat suka membaca buku, sangat menyukai dirinya yang dikelilingi oleh buku, dan mencintai bau yang menyeruak dari buku yang halamannya sudah menguning. Oleh karena itu, ia lebih memilih bekerja di toko buku yang terletak di pinggir kota itu daripada bekerja di toko lainnya. Untuknya, bisa bekerja dengan hal yang disukainya di dunia sambil menunggu pengumuman hasil interview beberapa hari lalu adalah hal yang tidak terlalu membosankan.

Yeyyy, senangnya pagi ini bisa bertemu lagi dengan buku-buku yang manis ini,” antusias Tifa ketika dirinya mulai membuka toko buku tempat ia bekerja.

“Aku berharap hari ini lebih ramai daripada kemarin, agar orang-orang bisa membaca buku yang bagus di sini,” gumam Tifa dengan penuh harap.

Sekitar pukul 10.28 WIB, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya masuk ke toko itu. Dengan antusias Tifa langsung menghampiri wanita itu dan bertanya, “Permisi Nek, ada yang bisa saya bantu?”

Nenek itu hanya tersenyum dan langsung mengatakan apa tujuannya ke sini, serta menyebutkan buku yang ia cari. Dengan cekatan Tifa membantu nenek itu mencari buku yang diinginkan, kemudian mengantarnya menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

Sang nenek terus tersenyum melihat perlakuan Tifa yang sangat sopan terhadapnya.

“Hai, Nak. Kau cukup muda dan cantik. Mengapa kau bekerja di toko buku tua yang hampir tak terlihat dari pusat kota ini? Apakah kau tak bosan hanya bertemu buku-buku tua ini setiap hari?” tanya nenek lembut.

Tifa yang sadar dengan pertanyaan nenek seketika menjawab dengan sopan, “Alhamdulillah, Nek. Tifa tidak bosan. Justru Tifa sangat senang bisa berkesempatan untuk bekerja di toko buku ini sambil menunggu hasil interview di tempat Tifa melamar kerja,” tuturnya memberikan pengertian kepada sang nenek.

“Lalu mengapa kamu lebih memilih toko buku daripada toko yang menjual barang lain, Nak?” ucap nenek yang masih penasaran akan sosok Tifa.

“Aku sangat menyukai buku dari kecil, Nek. Aku sangat menyukai semua jenis buku terutama sastra lokal dan juga pengetahuan umum.” Ya, benar. Tifa sangat suka membaca buku dari usianya masih kanak-kanak, mulai dari membaca literatur asing, sastra lokal, maupun bacaan ringan seperti komik sudah pernah ia baca.

“Wah, nenek sangat kagum padamu, Nak. Di saat remaja lain lebih senang bermain gadget dan nongkrong dikafe, tetapi kamu lebih memilih menghabiskan waktumu untuk bekerja sambil mengenal lebih dalam buku-buku yang ada di sini.”

Tifa hanya tersenyum dan mengatakan suatu kalimat kepada nenek, “Bagi Tifa, dengan membaca buku, Tifa jadi mengetahui hal-hal yang belum Tifa ketahui selama ini. Bahkan hal-hal yang mungkin akan Tifa hadapi suatu hari nanti, Tifa bisa mempelajarinya di sini. Meskipun Tifa tahu kalau Tifa belum mendapatkan pengalaman, tetapi Tifa yakin dengan membaca buku kita akan selalu ingin tahu dan ingin mempelajarinya lebih dalam lagi. Mungkin saja ada beberapa orang yang sudah mengalaminya, tetapi Tifa belum. Namun, dari situ Tifa sudah sedikit mengetahuinya karena sering membaca buku. Selain itu, Tifa jadi mengerti hal-hal dari berbagai sudut pandang Nek, sehingga Tifa bisa lebih mempertimbangkan banyak hal ketika Tifa dihadapkan dalam suatu permasalahan,” jelas Tifa dengan lembut kepada nenek. Nenek hanya tersenyum dan mengangguk senang dengan perkataan Tifa.

Setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya nenek pamit untuk pulang.

“Nenek pamit dulu ya, Nak. Nanti jika nenek sedang mencari buku yang nenek inginkan, nenek akan ke sini lagi. Nenek berharap kamu bisa lolos interview ya, tetapi tentunya jangan lupakan tempat dan buku-buku ini,” ketawa kecil terlintas dari bibir nenek.

“Siap, Nek. Amin. Terima kasih ya sudah mampir dan membeli buku di toko ini,” balas Tifa tersenyum lebar. Di hari itu Tifa sangat senang karena tokonya jauh lebih ramai dari kemarin, serta pembelinya yang ramah dan baik kepadanya.

Tifa mengingat perkataan nenek yang meminta agar dirinya tidak melupakan toko serta buku-buku itu. Dan seketika Tifa bertekad agar dirinya akan selalu menyukai buku seperti saat ini karena dia sangat yakin bahwa guru terbaik selain pengalaman ialah buku. Baginya, buku adalah hal yang bisa membuat dia mengetahui dan memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *