HARI KEBANGKITAN NASONAL: Penanaman Kedisiplinan Remaja sebagai Penerus Bangsa untuk Menjadi Dasar Kebangkitan Nasional

Oleh Yoga Pratama Putra

Suatu hari, di suatu SMA Pelita Harapan ada anak yang bernama Adi. Di mana pada hari itu Adi terlambat masuk kelas, waktu menunjukan pukul 07.10 menit.

“Hah!! Jam segini seharusnya sudah di kelas!! Bisa dimarahi ini apalagi PRku belum selesai,” katanya sambil berlari dari halaman sekolah menuju kelas.

Sesampainya dia di depan kelas, dia mengetuk pintu dan berusaha masuk kelas.

Tok tok tok

“Assalamualaikum, permisi Ibu. Apakah saya diperkenankan masuk, Ibu?” kata Adi dengan rasa tegang dan gemetar.

“Dari mana kamu Adi, jam segini baru masuk kelas?” tanya Ibu guru dengan kata membentak dan wajah galaknya.

“Anu Bu… Emmm, saya tadi berangkatnya kesiangan, Bu.”

“Alasan saja kamu!! Kamu tahu kan kalau pelajaran Ibu masuk kelas harus tepat waktu?”

“E..ee.. Mohon Maaf Bu, saya tidak akan mengulangi lagi,” kata Adi dengan wajah ketakutan.

“Ya sudah!! Silahkan duduk dan mengikuti seperti yang lain!!”

Adi pun berjalan ke bangku belajarnya di kelas, dengan wajah yang merunduk dan perasaan masih gemetaran.

“Anak-anak!! Semua keluarkan PR kalian, dan kumpulkan ke depan ke meja ibu!” kata Ibu guru tersebut.

Adi terlihat khawatir dan juga kebingungan karena PR miliknya belum selesai dan harus dikumpulkan sekarang. Semua teman-temannya sudah mengumpulkan, tinggal Adi yang belum. Kemudian Ibu guru memanggil.

“Adi.”

“Iya Bu?”

“Mana PR kamu?” tanya Ibu guru sambil berdiri.

“Mmmmm..maaf Bu, PR saya ketinggalan,” alasan Adi kepada Ibu guru.

“Kok bisa ketinggalan? Kamu ga belajar ya Adi? Gimana sih kamu?” pertanyaan Ibu dengan tegas dan membentak.

“Silahkan kamu ambil sekarang PR kamu!!”

Adi merasa kebingungan, karena sebenarnya PR miliknya belum selesai.

“Hehehe, maaf Bu. Sebenarnya saya belum mengerjakan,” kata Adi dengan cengengesan.

“Budi, kamu tahu hari ini hari apa?” tanya Ibu guru lagi.

“Hari Senin Bu,” jawab adi.

“Ini Hari Kebangkitan Nasional Adi!” bentak Ibu guru.

“Kamu sudah terlambat masuk kelas, sudah tidak mengerjakan PR. Saya tidak mau tahu, kamu harus mengepel perpustakaan dan menata buku di perpustakaan sekolah sekarang!!” tegas Ibu guru.

“Hah, ta…tapi Bu. Perpustakaan sekolah kita kan luas Bu, dan juga rak buku perpustakaan besar-besar belum juga bukunya yang banyak Bu?” jawab Adi.

“Adi!! Apa kamu tahu makna Hari Kebangkitan Nasional?” tanya Ibu guru.

“Untuk membangkitkan semangat kan, Bu?” jawab Adi.

“Bukan hanya itu Adi, tapi Hari Kebangkitan Nasional adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang,” kata Ibu guru menjelaskan.

“Oh… begitu ya Bu?”

“Kok malah Oh!! Kamu mengerti tidak?” bentak Ibu guru.

“Paham Bu.”

“Kalau begitu coba dijelaskan kembali!!”

“Ya sudah Bu, intinya saya tidak akan mengulangi lagi kesalahan ini. Saya berjanji akan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah saya lakukan. Saya akan mengepel perpustakaan dan merapikan buku-buku perpustakaan, Bu.”

“Baik, kalau begitu poinmu saya kurangi dan jangan ulangi lagi!!” ancam Ibu guru.

“Baik Bu, saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi,” jawab Adi.

Akhirnya Adi pun bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia lakukan. Ia sadar bahwa dirinya bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *