Helikopter Putih Bergaris Perak

Helikopter Putih Bergaris Perak

Oleh: Indri Febriani

Hamparan langit tak bertiang, hembusan udara tak begitu kencang menemani seorang perempuan yang tengah menerbangkan pesawat melintasi bentangan laut lepas. Semakin lama mengudara, ia merasa lelah dan mengantuk. Kedua kelopak matanya tak dapat menahan kantuk, sesekali ia menguap, matanya menyipit, helikopternya hampir hilang kendali dan berbelok jalur. Perempuan itu berniat untuk tidur, namun tidak ada tempat baginya untuk mendaratkan helikopter putih dengan garis perak di tengahnya. Sejauh mata memandang, hanya ada bentangan laut lepas sejauh ratusan mil. Kantuk sudah tak lagi berkompromi, kelopak mata perempuan itu beberapa menit lagi hendak menutup, tak bercelah, konsentrasinya terpecah. Di tengah kantuknya, ia membayangkan betapa nikmat berbaring lemas di sebuah gazebo beratap kuning, kontras dengan warna langit membiru sendu. Kalau bisa dan kuasa, ia ingin mendirikan gazebo itu di langit dan meluncur lantas melemparkan diri ke dalamnya, melepas lelah.

Baru saja, pikiran itu terlintas di kepalanya, tiba-tiba sebuah gazebo dengan warna atap kuning mentereng terlihat jelas di hadapannya, mengapung santai di udara. Kini khayalannya tak lagi bertepuk sebelah tangan, nyata adanya. Perempuan itu berpikir keras, kok bisa? Ia masih mengendarai helikopter putihnya mengitari gazebo impian itu yang tengah berselimut awan dan tersapu gelombang udara. Hasratnya untuk berbaring di gazebo tak lagi tertahan.

Akhirnya, perempuan itu melompat keluar dari helikopter, lantas menarik tali yang tersangkut di parasut miliknya. Perlahan-lahan ia menuruni ketinggian di udara. Kantuknya semakin bertambah seiring dengan sapuan angin yang tak lagi terhalang badan pesawat. Ia meraih tonggak penopang gazebo itu, lantas menarik tubuhnya ke dalam, ia terbaring penat, “Akhirnya, kantukku tak lagi kubendung,” ujar perempuan itu dengan sesekali melirik ke arah luar lewat celah tenda itu. Ia menatap helikopter miliknya yang terjun bebas ke dalam laut, dentuman keras terjadi, air laut menyibak seperti kipas. Perempuan itu tak lagi peduli, ia meringkuk di lantai gazebo dan menjadikan parasutnya sebagai landasan kepala, layaknya bantal di ranjangnya. Ia menutup kelopak mata, lantas tertidur.

Langit yang semula biru cerah, akhirnya lengser dan terganti langit senja mengagumkan. Mentari sebentar lagi akan ditendang purnama, mungkin malam akan tiba. Ketika itu, perempuan yang tengah tertidur di dalam gazebo beratap kuning terbangun. Ia menengok ke arah luar, dari kejauhan ia melihat helikopter miliknya yang berwarna putih dengan bercak kecoklatan, mungkin tak sengaja tercium batu karang. Helikopter itu menjemputnya. Tanpa ragu-ragu, perempuan itu sembari mengucir rambut pirangnya, lantas melompat ke udara, penuh kepastian hendak mencapai helikopternya. Namun tak disangka, ia mendapati parasutnya masih tersangkut tonggak gazebo, terlilit.  Sontak, ia pun menggeliat layaknya cacing tersapu air garam, ia berusaha melepaskan diri, sedangkan tangannya ingin meraih pintu helikopter. Bencana tak dapat dielakkan lagi, badannya tertarik parasut hingga melewati sayap helikopter. Di luar kuasanya, ia terjatuh menuju lautan lepas dengan pantulan cahaya senja. Ia tenggelam, dikerubungi ikan-ikan kecil lantas tiga detik kemudian, ikan besar melahapnya. Ia meluncur di dalam perut ikan itu hingga terjatuh. Alhasil, ia merasa badannya terbanting, matanya terbuka lebar, Ia telah berada di bawah, bawah ranjang. Suara kokok ayam menyusul mimpinya yang telah usai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *