Ibu

Secercah embun pagi menghiasi dinding jendelaku. Secercah harapan muncul ketika sang fajar menampakkan senyumnya. Ku lewati pagi ini dengan senyum ceria dan penuh semangat. Doaku pagi ini, “Semoga aku melewati hal baik hari ini. Melewati jalan yang sudah terbentang ke depan. Harapan akan mimpi baru kembali muncul.”

“Ibu, selamat pagi. Apakah dirimu baik-baik saja?” ucapku sambil melihat foto ibuku. Begitu banyak jasa yang telah kau berikan. Maafkan aku belum bisa membalas jasamu. Senyummu yang indah memecah kesedihanku. Melihat kenangan indah saat kita melewati bersama. “Aku ingin bertemu denganmu ibu. Aku ingin melihatmu walau hanya sebentar,” ucapku dalam hati.

“Nak, ibumu ini baik-baik saja. Aku ingin kau menghilangkan rasa kesedihanmu. Aku ingin kaubangkit dari masalah ini. Semua ini harus kau lewati. Kau harus kuat. Kau harus semangat. Kau tidak boleh sedih. Semua orang pasti mengalami. Ibu pamit sekaligus berpesan bahwa kau harus menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Bahagiakanlah orang-orang di sekitarmu. Aku ingin kau menjadi inspirasi bagi semua orang. Maka dari itu, bangkitlah, Nak,” pesan ibu kemudian ia menghilang.

Tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Pertemuan ini begitu nyata dan berkenang. Tiba-tiba aku terbangun dan sadar. “Oh.. apakah ini hanya mimpi? Apa yang aku alami ini?” ucapku. Menengok jam dinding yang berdetak menunjukkan sepertiga malam. Bergegas ku mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat. Ku senandungkan lantunan doa. “Ya Tuhanku, Tuhan yang Maha Mengetahui urusan setiap makhluk-Nya. Kuyakin Engkau pasti tahu apa yang ada di dalam hatiku. Apa yang sedang aku rasakan dan yang ku inginkan. Aku mohon Engkau mengabulkan setiap doa dan permohonanku.” Kembali ku menangis tersedu. Tetapi hati ini kembali tenang. Saat itu benar-benar titik ternyaman dalam hidupku.

Setelah berdoa, aku menghampiri kamar orang tuaku. Kutengok wajah orang tuaku terutama wajah ibuku. Wajah yang begitu lelah tetapi selalu menyembunyikan semuanya dariku. Wajah yang tetap gembira bahkan saat hatinya bersedih.

“Ibu. Janjiku pada hatiku dan janjiku pada Tuhan. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu. Aku ingin melihatmu tersenyum saat aku sukses nanti. Engkau bisa tersenyum saat aku bisa tersenyum lebar. Begitulah janjiku, janji yang aku ucapkan dengan sepenuh hatiku. Semoga suatu saat nanti Tuhan memberikanku kesempatan itu. Semoga saja aku punya waktu yan cukup untuk itu,” ucapku dalam hati.

Saat dirimu benar-benar dilanda kesedihan dan kesusahan maka ingatlah orang tuamu. Jangan lupakan mereka. Kenanglah perjuangan mereka saat kau sukses kelak. Ketika kau lupakan itu maka siap-siaplah. Kebahagiaan itu akan menjauhimu, kebahagiaan itu akan sirna, kebahagiaan itu akan hilang tenggelam. Maka dari itu, selama masih ada kesempatan, selama masih ada harapan, bahagiakanlah mereka. Terutama ibumu. Setiap langkah dan jalan hidupmu jangan lupa untuk selalu meminta restu dan doa orang tua terutama ibumu.

Terima kasih Tuhan telah menciptakan harta yang paling berharga. Lebih berharga dari intan dan berlian. Berkat perantara mereka aku hadir di dunia ini. Terkadang aku menilai orang tua sukanya ngomel-ngomel, menasihatiku berlebihan. Ingatlah sebenarnya mereka sayang kepada kita. Kau akan benar-benar merasakan saat mereka telah tiada. Dan mungkin cinta itu akan menghilang selamanya. Dan semua yang tersisa hanyalah air mata. Air mata yang akan membuatmu merasakan cinta yang sebenarnya.

Selamat hari ibu. Sosok hebat dalam hidupku.

Oleh: Indra Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *