IMPIAN SEORANG PEMUDA

Oleh: Nanda Defi Aprilianto

“Hari ini adalah pengumuman kelulusan kalian, silahkan cek nama kalian di papan pengumuman depan ruang tata usaha,” ucap bu Sri selaku Waka Kurikulumku saat berpidato pada upacara bendera setiap hari senin. Kami semua merasa harap-harap cemas menndengar berita tersebut, ingin segera lari kedepan ruang tata usaha. Satu hal yang muncul dipikiranku, yaitu nilai ujianku apakah lulus?

“Tanpa penghormatan! Bubar barisan jalan!” ketua kelas membubarkan barisan.

Seketika aku dan semua siswa kelas 12 lari berbondong-bondong ke depan ruang tata usaha. Ku lihat pula wajah teman-teman yang lain. Sepertinya merekapun deg-degan dan adapula yang mulutnya komat-kamit berdoa.

Ketika sesampai di sana ternyata kepala sekolah ada di sana dan seketika beliau tersenyum sumringah dengan tepuk tangan kecil, ternyata semua siswa(i) di sekolah kami lulus 100%! Kami semua bersorak gembira. Adapula yang melakukan sujud syukur dan adapula yang menangis bahagia.

“Selamat yah anak anakku. Kalian semua kini sudah membuktikan ke Bapak kalau kalian bisa,” sambut kepala sekolah.

“Iya, Pak terima kasih. Dan terima kasih juga atas doa-doa Bapak untuk kami semua,” jawabku sambil tersenyum.

Beberapa hari setelah pengumuman tersebut ada pemberitahuan untuk wisuda. Dan akupun segera bilang pada ibuku bahwa wisuda dilaksanakan minggu depan.

Saat saat yang ditunggu telah sampai, setelah sholat subuh, aku bersama ibuku bersiap siap untuk berangkat pukul enam, karena acaranya dimulai pukul tujuh. Untuk perjalanan dari rumah ke gedung wisuda itu sekitar satu jam. Setengah enam pun kami berdua segera ke pinggir jalan untuk menunggu angkutan umum.

“Sudah jam berapa ini nak?” tanya ibuku.

“Sudah hampir setengah tujuh Bu, tapi kok masih belum dapat angkot ya, Bu?” jawabku dengan berbalik tanya.

Maklum aku tidak punya motor untuk dibuat ke sekolah  ataupun ke gedung wisuda.

Tiap hari kesekolah aku nebeng temanku, ketika temenku sudah berangkat duluan aku terpaksa naik angkot ke sekolah.

Karena hari ini wisuda temenku membonceng ibunya sendiri untuk ke sana.

“Nak nak itu ada angkot,” seru ibu.

“Mana, mana Bu?” jawabku senang.

“Emang sudah jam berapa sekarang,” tanggap ibu.

“Gapapa bu, baru jam tujuh kok,” jawabku dengan sedikit tersenyum.

Padahal sebenarnya aku sedih karena sudah telat datang di acara terakhirku di sekolah. Tapi aku juga tidak mau ibuku juga ikut-ikutan sedih. Akhirnya kami berdua naik angkot. Selama diperjalanan hatiku merasa cemas. Sesampainya di gedung wisuda, aku menengok jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. Seketika aku sedikit terburu buru menaiki tangga yang ada pada teras masuk gedung itu. Ternyata acaranya baru dimulai. Hatiku sedikit lega karena masih belum waktunya untuk dipanggil kedepan bersalaman dengan kepala sekolah satu persatu. Ternyata sebelum itu diumumkan peraih tiga besar perolehan nilai UN per mata pelajaran.

Dengan demikian aku sedikit berharap nilai mapel matematikaku mendapatkan satu tempat disana.

“Peraih nilai tertinggi ketiga mata pelajaran Matematika adalah……? Selamat kepada Muhammad Zaelani, tertinggi kedua adalah…Muhammad Sodikin dan yang Tertinggi adalah …… selamat kepada Himatul Aliyah,” pengumuman yang dibacakan MC acara wisuda ini.

Akupun tertunduk, kok bukan aku yang naik panggung tersebut. Padahal seharusnya aku yang pantas naik panggung itu. Ahh sudahlah, tidak penting bagiku nilai tertinggi, yang terpenting adalah aku sudah lulus dari  sekolah ku.

Setelah pengumuman nilai tertinggi, saatnya semua dipanggil satu satu untuk di wisuda oleh kepala sekolah. Dan ketika namaku dipanggil, senyum dan bunga serta gembira semuanya jadi satu. Tidak terasa sampqi dipenghujung acara. Aku dan ibuku segera keluar gedung untuk ber-swafoto di teras gedung. Setelah ber-swafoto langsung mencari angkot untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah aku baru sadar, aku sudah menjadi lulusan SMK. Otomatis aku menjadi pengangguran sebelum hasil pengumuman SNMPTN ditetapkan. Aku berani mendaftar karena sebagai pelamar program Bidikmisi. Karena setauhuku program tersebut tidak bayar sama sekali saat kuliah dan malah dapat tiap bulannya 600 ribu. Tapi aku juga berpikir aku aja tidak mendapat nilai tertinggi di salah satu mapel apakah bisa lolos seleksi SNMPTN.

Akhirnya setelah ditunggu waktunya pengumuman, cepat-cepat aku buka HP untuk cek pengumumannya. Tapi aku ngeceknya pinjem HP temanku. Maklum HP-ku hanya bisa buat sms saja. Hatikupun berdebar, belum pernah seperti ini sebelumnya. Setelah tiga angka nomor pendaftaran kumasukkan dan password juga, keluarlah tanda merah di tengah-tengah form pengumuman itu. Anda dinyatakan tidak lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Seketika aku lemas tak berdaya, aku dengan mimik wajah yang pucat dan cemas tertunduk mengembalikan HP temanku. Akhirnya kuputuskan untuk membuat KTP guna melamar pekerjaan. Inginku bekerja agar bisa membantu kedua orangtua. Dengan demikian perekonomian keluarga dapat sedikit aku bantu. Satu bulan setelah ke sana ke mari melamar pekerjaan, ada pengumuman pendaftaran SBMPTN. Sempat putus asa tidak mau daftar dan ingin kerja saja. Menjadi lulusan terbaik aku gagal, seleksi SNMPTN aku gagal, mendapat pekerjaan pun belum kudapat. Semangatku mulai hilang, hingga hari terakhir pendaftaran SBMPTN aku masih belum mengisi formulirnya sampai detik-detik akhir jam penutupan. Akupun berubah pikiran untuk mendaftar. Dengan niat yang memang benar sungguh-sungguh serta dengan izin orangtua. Baris perbaris ku isi formnya dengan hati-hati dan teliti.

Satu bulan lamanya aku menunggu pengumuman itu. Dan tidak sia-sia! Sepulang dari mencari rumput buat pakan kambing, aku membuka website pengumuman SBMPTN. “Selamat anda dinyatakan lolos seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri Universitas Negeri Malang dengan prodi S1 Pendidikan Teknik Informatika,”  isi dari halaman utama setelah kumasukkan KAP dan PIN.

“Ya Allah terimakasih atas hadiah terindah ini,” akhirnya aku berhasil kuliah diperguruan tinggi yang aku impikan. Aku boleh saja lahir dari keluarga yang kurang mampu, tapi siapa yang tau takdir Tuhan.

To be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *