Jam Berdenting Dua Belas Kali

JAM BERDENTING DUA BELAS KALI

Tasya Dea Amalia

 

Kamar temaram.

Mentari menjulang tinggi dengan terik membakar kulit. Hanya secercah cahaya yang menyelusup masuk, sedang lampu kamarku sendiri pecah. Kuremas botol air mineral hingga remuk. Tenagaku terkuras habis, namun hasratku tetap membara padanya. Tak henti-hentinya tubuhku berkeringat, membasahi pelipis, wajah bahkan kaos yang ku gunakan. Tak kuasa, aku merapat di ujung dinding, meringkuk sembari meremas botol tadi. Aku terengah-engah semalaman untuk menahannya. Sudah lama aku bersamanya. Karenanya aku harus sendiri. Benar-benar berjuang  untuk seimbang. Ia memang memberiku kebahagiaan saat bersama. Akan tetapi, ia juga memberi siksaan jika tiada ia bersamaku. Bagaimanapun caranya, aku harus melupakannya. Walau aku rasa, semakin lama ia semakin menggodaku. Apakah ia tidak lelah padahal jelas-jelas aku berusaha keras ingin menolaknya? Mengenyahkan bayangannya dari pandangan. Kenapa ia selalu datang dengan tampilan menarik dan wangi yang dapat menaikkan hormonku?

Aku bingung.

Di kala sudah ku putuskan berpisah, justru aku yang merindukannya.

***

Dulu aku melangkah di jalan gelap, penuh lubang dan tumbuhan berduri. Akibatnya aku hanyut di sungai dalam penuh sampah. Ditemani beragam makhluk menjijikkan ke hilir penjara. Aku terperangkap. Anehnya, justru aku menikmatinya.

“Hei… Aku merasa senang, bagaimana jika kau memberiku satu yang seperti itu lagi?”

Ia tersenyum dan merangkul pundakku mesra. Di sinilah tempat kami biasanya saat jam istirahat sekolah berbunyi. Tempat yang aman dari pengelihatan siapapun, tempat kami biasa sembunyi dari kesibukan dunia bersama, hanya berdua saja.

“Aish… Maafkan aku sayang, sudah habis. Banyak yang beli hari ini. Mereka butuh untuk mengerjakan ulangan nanti.”

“Ya ampun… Apakah tidak ada yang lain?”

“Coba kulihat sebentar… Ah, aku juga punya inex.”

“Mudah tidak memakainya?”

“Tenang saja, tinggal ditelan… Energimu sudah akan kembali dan kamu tidak akan terbebani dengan semua masalahmu itu, termasuk dengan soal ulangan nanti.”

“Kenapa… Aku, jadi tak enak hati seperti ini? Bagaimana jika aku…?”

“Ah… Kau masih tak percaya denganku ternyata. Aku hanya ingin menghilangkan kebiasaan burukmu di kelas yang terlalu sering tidur dan melamun itu. Tak apa, tak masalah.”

“Bu… bukan begitu. Mungkin yang kualami belakangan ini, adalah efek darinya. Bukankah…”

“Jadi kau benar-benar tak mempercayaiku ya? Aku tak mau menyakitimu. Jika kau tak mau maka tak akan kupaksa. Aku hanya tak ingin wajah cantikmu hanya berisi garis kesedihan. Broken home bukanlah alasan untuk tidak bahagia. Di sekelilingmu banyak yang tidak aku ketahui. Barang satu kali saja harus berani. Bukankah kita berjanji hidup semati?”

Melewati lalu lintas ramai kota, aku sampai di sana. Tujuanku selama ini, setelah satu tahun lebih aku meninggalkannya. Rem mobil diinjak perlahan memasuki pelataran gedung. Bertahun-tahun sudah kulalui di sini bersamanya. Seorang malaikat tanpa sayap yang meraihku pada naungannya. Aku masih ingat tatapan menyejukkan itu, sentuhan lembutnya pula, juga kata-kata menenangkan yang selalu tersurat walau aku meronta benar-benar ingin pergi. Sungguh aku mungkin tengah merindu, merindu yang terlalu. Bahkan, satu hal yang sulit kupercaya ialah terkadang aku juga rindu tamparannya saat berusaha menyadarkanku. Masa-masa kelam yang dipenuhi dengan gemerlap kebahagiaan.

Hatiku berdesir. Seorang pria tujuh tahun lebih tua dariku, berkaca mata minus, memakai jas putih dokter berdiri di ambang pintu sedang tersenyum padaku. Dengan tersipu kuhampiri ia.

Lama tak jumpa, kulihat ia masih tetap sama seperti terakhir kali. Hanya saja yang menarik perhatianku mungkin ia sedikit menumbuhkan kumisnya. Terdapat sisa cukuran kasar di sana. Sama sekali tak bertambah tua. Masih gagah seperti dulu. Semampai dan selalu membuat aku terkulai dalam kehangatan tutur katanya. Syukurlah dia masih sama.

“Selamat datang,” aku hendak menyapa sebelum ia mempersilahkan aku masuk. Seketika suasana berubah. Kami berjalan beriringan memasuki gedung. Sesekali kulihat ia melirik padaku, mataku merekam raut tak percaya diiringi dengan sedikit terkejut. Kurasa ia menyadari perubahanku. Pagi tadi entah mengapa, aku merias wajahku. Semula terlihat sangat berlebihan, jadi ku putuskan untuk menghapusnya saja. mengganti pakaian dengan yang lebih sopan, juga menguncir kuda rambutku ke belakang. Mungkin ini yang membuatnya terkejut. Rambut panjangku masihlah sama, hanya saja aku menyingkap semuanya ke belakang, dulu aku selalu menggerainya begitu saja hingga dapat menutupi sebagian wajahku, sebab aku takut sekali orang-orang menatapku. Tatapan mereka yang beku, tatapan benci.

“Kau baik-baik saja, Nona?” Aku tersadar. Untuk sejenak aku melamun. “Ah Itu, aku…” Tunggu dulu, apakah tak salah dengar aku? Baru saja ia memanggilkuNona?

***

Mereka datang menjemputku. Menarik paksa menuju mobil hitam di pelataran depan rumahku. Sedetik kemudian, mereka membawaku tanpa segan. Aku meronta ingin lari. Akan tetapi, semua usahaku sia-sia saja, aku terlalu lelah. Tadi malam aku mual hebat. Beberapa kali pergi ke kamar mandi sebab diare.

Aku hanya diam. Sendiku ngilu. Aku berkeringat padahal kedinginan. Bergerak sedikit saja, sakit kepala. Salah satu di antara mereka merangkul pundakku, menopang tubuhku agar seimbang. Yang lain aku tak mau mereka menyentuhku, tetapi pria ini. Laki-laki berjas putih ini, sepertinya ia dokter. Aku merasa nyaman.

Harus berapa kali aku membela diri. Aku tidak sakit. Aku hanya sedikit linglung. Ini sebuah kesalahan, seharusnya mereka tak membawaku. Sial… Di rumah ini sama sekali tak ada yang peduli. Setelah tiga hari mengunciku di kamar. Ayah dan ibu memanggil mereka. Ini adalah pertama kalinya setelah perpisahan mereka terlihat kompak sekali. Dibiarkan tubuhku terseret, terhantuk batu, mereka sama sekali tak hiraukan aku. Jeritanku memanggil nama mereka untuk meminta tolong sama sekali tak diindahkan. Ayah hanya memandangi penampilanku yang kacau dengan masih menggunakan seragam putih abu-abu. Sedang ibu, ia bersembunyi di balik punggung suami barunya. Memunggungiku sambil terisak. Apa yang salah dariku? Hanya kebahagiaan yang kucari mengapa lagi-lagi mereka menghalangiku?

Aku mengekor di belakangnya memasuki ruangan yang tak begitu besar. Dari luar aku sudah tahu ini adalah ruangannya. Sudah sejak lama, di sinilah biasa kuhabiskan waktu dulu. Lagi-lagi tak ada yang berubah. Arsip-arsip tertata rapi di rak bercorak Jawa. Kipas angin tua dihidupkan. Seketika debunya bertebaran di udara. Kami duduk berhadapan dihalangi sebuah meja.

“Lama tak jumpa, Nona. Bagaimana kabar Anda?” Suasana apa ini? Canggung sekali.

“Seperti yang dokter lihat, saya… saya baik-baik saja. Justru lebih baik dari terakhir kali kita bertemu,” rasa-rasanya benar-benar berbeda. Dia jadi lebih pendiam.

“Kemarin semula saya terkejut mendengar akan kedatangan Nona kembali. Suara Nona sangat familier karena itulah saya mudah mengetahui jika itu Nona. Saya pikir sesuatu yang buruk kembali mendera Nona. Namun saya terkejut, Nona tampak tidak apa-apa. Justru terlihat baik-baik saja, sama seperti yang Nona katakan tadi. Saya jadi bingung, masalah apa yang membuat Nona datang lagi untuk menjenguk RSKO[1] tua ini. Bukankah tempat ini adalah tempat di mana orang-orang terkutuk terpenjara dan…”

“Itu karena saya rindu,” aku tak bisa menghalangi kata-kata itu meluncur begitu saja. Hati dan pikiranku kini bertarung memperjuangkan harga diri. Aku tak kuasa.

Aku membuka mata, kukira aku sudah mati melihat pemandangan serba putih di hadapanku. Dinding putih. Ranjang dan selimut putih, tirai putih, bahkan bajuku juga putih. Selalu aku terbangun di pagi hari dengan kondisi tangan terikat. Berulang kali aku mencoba melarikan diri. Aku tak mau pulang ke rumah melihat orang tua yang telah membuangku. Aku hanya ingin bersamanya, tempat di mana aku selalu merasa bahagia. Bersama sejenak dapat ku lupakan kesedihan yang pilu ini. Namun, sekali lagi para perawat sialan ini menghalangiku. Aku jengah dengan kebiasaan mereka menyuntikkan obat agar dapat menenangkanku. Aku mulai kehilangan akal hingga mencoba melukai diri sendiri. Aku berpikir jika aku mati maka semua ini akan selesai. Penderitaan ini sungguh mencekik. Sudah lebih dari seminggu aku terikat. Ruam merah mulai membekas di kedua pergelangan tanganku. Andai mereka bisa mengerti aku.

Mungkin jika aku diam, lambat laun mereka akan melepaskan aku. Kubiarkan methadone rutin mengalir perlahan di tubuh. Menjalani detoksifikasi ini sangatlah menyakitkan, namun aku harus tetap diam. Demi kebebasan.

Pertama kali bertemu dengannya adalah saat aku setengah sadar dibopongnya. Dan hari itu pun datang, kembali kami bertemu.

“Saya Sujak… konselor Nona yang baru. Harap kerja samanya ya…” Aku tak suka dengannya. Mengapa setiap minggu selalu berganti konselor. Apakah tidak cukup satu saja? Apalagi kami kemarin sudah bermain-main. Mungkin saat ini konselor lamaku, ia hanya patah tulang saja.

“Nona, bisa kita mulai?”

“Ah, kalau mau mulai, ya mulai saja.”

Waktu semakin lapar menggilas menit tiap detiknya. Kini deru kipas angin terdengar lebih keras dengan sunyinya kami. Berselimut kebosanan, susah payah ku pikirkan cara untuk mengobrol dengannya lagi.

“Sebenarnya, sebenarnya saya tidak bermaksud kepo atau apapun itu. Namun, ada sesuatu yang mengganggu saya sedari tadi. Tentang… perkataan Nona tadi. Tak ada yang menarik dari RSKO ini, lantas mengapa Nona bisa merindukannya?” Serasa dicambuk dari belakang. Apakah ia sepolos itu?  Tentu saja dia yang kurindu selama ini. Mengapa ia menanyakannya lagi? Apakah ia sengaja ingin membuatku malu?

“Tak kusangka kau masih sangat kikuk. Satu tahun lalu. Apakah kau telah lupa?”

Sudah empat tahun, akhirnya udara kebebasan mengibas rambut panjangku. Aku berhasil dinyatakan sembuh. Berada di RSKO ini aku mempelajari banyak hal. Tentu yang paling berharga adalah tentang kepercayaan. Amarahku pada ayah dan ibu pun telah hilang. Aku berhasil melewati masa kritis dengan baik. Pagi ini, ayah, ibu juga ayah tiriku akan menjemputku. Seharusnya sejak tadi mereka sudah sampai. Entah apa yang terjadi hingga kedatangan mereka tertunda. Aku hanya bisa menunggu. Sembari menanti waktu jumpa tiba, ku putuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Memandangi bangunan yang akan ku rindukan. Terutama seseorang yang telah membantu tiga tahun belakangan ini, konselorku.

“Sudah mau pulang ya?” Suara itu tak asing. Dia datang.

“Ah, konselor Sujak. Saya tidak tahu, kalau tidak ada konselor saya harus bagaimana. Saya sangat berterima kasih pada konselor.”

“Itu bukan apa-apa. Tekad dan usahamulah yang membuatmu sembuh.”

“Berkat bantuan konselor juga akhirnya saya bisa sembuh. Terima kasih sekali lagi. Padahal saya sering melukaimu, tetapi kau tetap bertahan. Kuhargai sangat itu.”

“Aku tak punya pilihan lain selain membantumu, bukan?” Pertanyaannya sangatlah gamang. Aku tak mengerti. “Maksudku apakah salah aku menuruti kata hatiku? Dalam kata lain, salahkah aku jika membantu orang yang aku cintai?” Aku membeku. Benar-benar bisu. Harus apa aku?

***

“Mana mungkin aku lupa. Sudah sejak lama aku menunggu. Mengapa lama sekali?” Datar sekali wajah itu. Aku terkunci akan kalimat yang membunuhnya. Dinginnya menusuk setiap sendi. Tak mungkin aku membuat kesalahan. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Bukan suasana seperti ini yang ku harapkan. Kuremas tas tanganku. Suasana ini membuatku gugup.

Aish… kenapa kau sangat gugup. Aku sudah menduga maksud kedatanganmu kemari. Sebab itulah aku membuat sebuah persiapan. Kemari ikutlah denganku.” Ia tersenyum. Suasana menjadi hangat hanya sebab ia tersenyum. Aku tak takut lagi, bahkan untuk meraih tangannya.

Aku mengekor di belakangnya. Tangan itu menggenggam aku erat. Seolah tak mau aku lepas. Kehangatan yang dulu ku rindukan kini telah terbayar. Sepanjang jalan ia membisu. Langkah tegapnya menuntunku pada sebuah ruangan di ujung lorong. Gelap menggelayuti saat kami memasukinya. Tanganku meraba-raba dinding bermaksud menghidupkan sakelar. Sejak sembuh satu tahun lalu. Aku sangat benci kegelapan. Semua kehitaman ini akan mengingatkanku pada kejadian empat tahun lalu, saat aku berusaha keras berjuang dari keadaan sakau yang menyakitkan.

“Ruangan ini sengaja tidak berlampu. Kita buka saja tirainya.”

De Javu, seseorang terlihat meringkuk pada dinding. Tubuhnya bergetar hebat. Seketika bau menyengat menyergap hidungku. “Ia pasienku setelah kausembuh. Malangnya ia telah mengidap HIV. Tak ada yang mau membantunya apalagi berdekatan dengannya. Mereka beralasan nyawa mereka bisa terancam.”

“Kasihan sekali. Jadi teringat bagaimana kau dengan sabar menjagaku dulu.”

“Benar… sama sepertimu. Hanya aku yang dapat membantunya.”

“Karena akulah yang memaksa orang lain untuk pergi. Sedang ia tak mempunyai pilihan. Malang sekali nasibnya. Tetapi aku setuju dengan pendapat orang-orang tentangnya. Apakah kau tak takut ia akan menularimu?”

Ia diam. Aku bisa merasakan suasana mencekam lagi. Apakah aku salah berkata?

“Kau, berapa usiamu sekarang?”

“Dua puluh tahun.”

“Dia juga berusia dua puluh tahun saat pertama kali masuk ke sini satu tahun lalu. Semua normal saja empat tahun silam. Aku juga tak mengerti bagaimana bisa terjadi? Senja datang lebih cepat. Mentari tak lagi bersinar terhalang gumpalan awan hitam. Ia datang dari sekolah dengan muka masam, rona merah di sudut bibirnya terlihat jelas. Ia telah berkelahi dengan seseorang, pikirku saat itu. Tak kusangka bukan sebuah perkelahian yang membuatnya terluka. Kau tahu kenapa?”

Aku? Mengapa aku merasa setiap kata-kata itu dihujamkan padaku. Aku tak menjawab, lidahku kelu. “Jawabannya ialah tamparan keras seorang ayah. Ia berniat menjenguk kekasihnya hari itu. Tak dinanya yang didapatkan olehnya justru sumpah serapah, juga makian. Terakhir sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Padahal aku tahu jelas, tak semua yang terjadi adalah salahnya. SALAHKAN juga kekasihnya yang tak bisa menahan diri.”

Tubuhku bergetar hebat. Aku terkunci tak bisa lari. Teriakannya sangatlah mencekam. “Ke… ke..napa kau bisa tahu… sebanyak itu. Maaf… sebaiknya aku, sebaiknya aku pergi saja.”

“Kakak… huh, kakak… huft... kau sudah datang. Aku… aku sangat kedinginan, huh… huft… dingin…” Astaga, pria itu berbicara. Suara itu aku mengenalnya.

“Benar adikku. Kakak di sini.” Kakiku sangatlah lemas, tak mampu lagi ia menopangku. Apalagi dengan kenyataan yang jelas sekali di hadapanku. Aku pun terjatuh dengan kaki tertekuk ke belakang. Kepalaku menjadi pening.

Fotonya tak begitu jelas di layar handpone-ku. Remang-remang ku perhatikan guratan senyumnya. Aku sendiri di kamar ini. Berjuang. Terngiang ketika ia berjanji sehidup semati. Mengapa kali ini aku merasa akan mati sendiri? Aku membutuhkannya sekarang. Mengapa ia tak datang?

Kenangan dari masa laluku memang tak ada yang indah. Air mata kini mencoba membanjiri pipiku. Aku sungguh naif. Faktanya aku mencintai kakak beradik ini. Lagi-lagi yang bisa ku lakukan hanya bisa menangis. Aku melupakan Rahmat, cinta pertamaku dan beralih pada Sujak, kakaknya. Tanpa sadar aku menyakiti mereka berdua.

“Ka, kak mengajak teman, huft… Mengapa tak kenalkan padaku.” Ia tak seperti manusia. Sama sekali tak terlihat baik. Tubuhnya kurus kering, matanya cekung, tidur beralas kasur lantai merapat pada dinding. Badannya telah berhenti bergerak, berbalik menghadapku.

Hahaha teman kakak cantik sekali, huft… huft…” Susah payah Rahmat tersenyum. Dengan bantuan Sujak ia mendekat padaku. Spontan aku menutup hidung tak kuasa menghirup bau yang keluar dari tubuh Rahmat. Kami hanya berjarak satu langkah saja. Sujak mendudukkan Rahmat di dekatku.

“Karena Rahmat-lah aku bertahan untuk membantumu. Dan tanpa sadar akhirnya aku juga jatuh cinta padamu. Pesonamu membuat kami tersipu Laila,” Sujak menyebut namaku. Setelah sekian lama.

“Sujak, maafkan aku,” hanya itu yang bisa aku katakan. Aku bersandar di dinding. Kepalaku benar-benar sangat pening. Aku tak tahu apapun. Bergetar Sujak mengambil sesuatu di dalam sakunya dan perlahan memperlihatkannya padaku. Terlihatlah plastik kecil dengan serbuk berwarna putih di dalamnya. Ia tersenyum. Hatiku teriris. “Laila, setahun ini aku menyadari sesuatu. Aku mencintaimu sebab aku sangat mencintai adikku. Karena itu mungkin aku agak bingung sekarang. Maukah kau membantuku?”

“A, apa?” Aku terlalu takut, namun aku sudah tahu pasti jawabannya. Mata Sujak berbinar kemerahan. Ia menangis dalam diam.

“Maukah kau menepati janjimu? Sehidup semati dengannya?”

Huft.. huft… Ka… kak, HAHAHA….”

Dari awal aku sudah terpaku di ruangan itu. Bisa apa aku?

Di ruangan Sujak, arsip-arsip berjatuhan dari rak bercorak Jawa. Kipas angin melambat, menyedot kembali debu-debu yang berterbangan. Kudengar mereka berdua tertawa bersama. Ah… bukan. Kami tertawa bersama. Sangat keras tanpa kami dapat dengar suara apapun lagi. Hingga pada akhirnya, pada tawa yang paling keras, jam berdenting dua belas kali.

 

Banyuwangi, 3 Juli 2019

21:21

Jauh dari gerombolan waktu mencekam

 

[1] RSKO Singkatan dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *