Kain Hitam di Tengah Hutan

Kain Hitam di Tengah Hutan

Oleh: Ahmad Fairudin

Kicauan burung begitu terdengar dan meramaikan isi hutan seakan memberi isyarat jika hutan itu tak lagi sepi karena terisi oleh merdu kicau suara mereka. Seketika, suara burung di dalam hutan tersaingi dengan adanya sorak ramai beberapa remaja yang tampak mengenakan seragam coklat, menggambarkan bahwa mereka adalah anggota Praja Muda Karana (Pramuka). Suara mereka tiba-tiba terhenti seketika tatkala Stevi, salah seorang anggota kelompok itu menghentikan langkahnya. Entah apa yang terjadi, raut wajahnya kemudian berubah bingung dan ia melontarkan pertanyaan kepada temannya yang lain.

“Din, kamu tahu nggak ya, jalur rute yang telah diberitahukan tadi?” tanya Stevi dengan wajah yang tampak bingung. “Eh, bukannya kamu yang jadi ketua? Pasti kamu dong yang dikasih informasi oleh kakak panitianya?” Balas Dino yang tampak heran dengan pertanyaan yang diberikan Stevi. “Aduh… kita salah jalur kayanya. Di sini tidak ada petunjuk apapun, sepertinya kita tersesat,” balas Stevi yang tampak tidak tahu lagi jalan yang ditujunya. Mendengar pernyataan Stevi, Dino dan teman-teman lainnya yang berada di tempat itu langsung terkejut. “Apa? Kita tersesat? Aduh, mana hutannya serem kaya gini lagi,” sahut Biby setelah mendengar pernyataan Stevi. Mereka bingung tanpa ada arah yang pasti untuk pulang, mencoba berpikir berharap ada jawaban, dan berlalu-lalang ke sana ke mari sembari mencari jawaban. Namun, usaha mereka hanya terbalas dengan hasil nihil tanpa kejelasan yang mereka dapatkan.  

Hari mulai tidak bersahabat dengan mereka, sinar jingga mulai tampak dari arah barat sebagai penanda bahwa malam sebentar lagi akan datang menyelimuti ruang mereka berpijak. Dengan segenap tekad yang ada, mereka mencoba untuk melanjutkan perjalanan, walau pada kenyataannya mereka tak tahu arah. Arah dengan ruang yang cukup luas di antara pohon besar yang berdiri kokoh mereka pilih, untuk kemudian melangkah melanjutkan perjalanan. Kaki-kaki yang masih belasan tahun itu terus menyusuri tanah beralaskan rerumputan tebal dengan perlahan dan berharap akan ada jawaban setelahnya. Sekali lagi kaki mereka harus terhenti, goresan aneh yang terpampang jelas di batang pohon besar di hadapan mereka membuat mereka semakin heran sekaligus takut dengan goresan misterius itu. Goresan itu tampak tak menggambarkan bentuk yang selama ini mereka kenal, hanya saja goresan itu tampak aneh dan menyeramkan. Mereka sangat yakin jika goresan itu bukanlah bekas cakaran binatang karena goresan itu seolah menggambarkan suatu bentuk, tetapi tidak beraturan. Teka-teki kembali harus mereka jawab, gambar apa dan apa maksud dari gambar itu, serta siapa yang menggambarnya. Pernyataan mereka juga sama sekali tidak tertuju pada simbol pramuka yang selama ini mereka pelajari, karena bentuk yang sangat aneh dan tidak mungkin bagian dari simbol pramuka. Sedikit lama mereka mencoba menggali jawaban, tetapi kemudian mereka menyepakati bahwa mereka harus terus melanjutkan perjalanan karena mengingat hari semakin gelap. Mereka hanya menghiraukan goresan itu, sembari terus melangkah dengan ditemani oleh sorotan senter yang baru saja mereka hidupkan untuk menerangi lorong gelap di dalam hutan.

          Semakin jauh mereka memasuki ruang gelap hutan dengan dinding pohon besar yang tampak sudah berabad-abad tumbuh dan mengakar. Suara burung yang awalnya begitu ramai dan terdengar merdu, kini telah berganti dengan nyanyian serangga dan beberapa suara hewan malam. “Capek ya ternyata. Apa kita nggak istirahat dulu, nih di sini? Aku sudah capek, lo,” Biby melontarkan keluh kesahnya karena merasa sudah kelelahan. “Biby, kamu tahan dulu, ya. Kalau kita istirahat, kita nggak bakalan nyampe di perkemahan. Besok kan sudah jadwalnya kita untuk balik ke rumah,” balas Johan yang mencoba menenangkan Biby. “Makanya Bi, kamu tuh kalau sudah loyo, nggak usah ikut pramuka, diem aja di kelas, manja banget jadi anak!” sahut Stevi ketus. “Sudah-sudah, Stevi jangan malah ngatain gitu. Gini ya, Bi. Kita harus terus jalan supaya kita cepet nemuin tempat perkemahan kita, biar cepet pulang kita nanti. Ini ada biskuit buat kamu, ya,” Dino membalas ucapan Stevi sembari menenangkan Biby dan memberinya biskuit. Melihat Dino memberikan biskuit kepada Biby, Stevi tampak murung dan mengalihkan pandangannya. Stevi memang sedikit tidak suka jika Dino selalu memberikan perhatian lebih kepada Biby, ia sebenarnya suka kepada Dino dan tentu saja perhatian Dino kepada Biby membuatnya cemburu. Tanpa berpikir panjang mereka kemudian melanjutkan perjalanan yang tentunya tanpa arah yang pasti. Semakin jauh langkah mereka melangkah, wajah mereka tanpak letih dan kepayahan.

Brruuuuuaaaaakkkkk……… Biby tiba-tiba saja mengagetkan mereka semua, tubuhnya tersungkur dengan wajah yang memucat dan tampak lemas. Mereka semua berlari, menuju ke arah Biby yang sebelumnya tampak berada di barisan belakang. Semuanya tampak panik dengan Biby yang sama sekali tidak menampakkan respon, ia pingsan karena sudah tidak tahan lagi menopang badannya selama perjalanan. “Alaaaaah… nyamuk banyak banget sih! Malam-malam gini, ada aja!” Stevi tampak mengeluh sekaligus kesal dengan Biby yang dianggapnya merepotkan mereka. “Kamu ini gimana sih Stev, ini temanmu pingsan kok malah bawel sendiri!” Tegur Dino yang tampak kesal melihat Stevi. “Emangnya gue peduli? Kita udah capek ya, eh, malah dia buat masalah!” balas Stevi yang tampak berdiri sedikit jauh dari tempat Biby terbaring. “Cukup! Stevi, dia ini anggotamu, temanmu, kamu kok malah tidak punya tanggung jawab gitu sih?” Dino kemudian berdiri tepat di hadapan Stevi. “Anggota kamu bilang? Maaf ya, aku tidak pernah menganggapnya sebagai anggotaku, apalagi temanku, jelas sampai sini!” Stevi tampak melotot ke arah Dino dengan wajah memerah. “Cukup Stevi!” Dino tampak kesal sehingga mendorong Stevi sampai terjatuh. Melihat perlakuan Dino kepadanya, Stevi berlari menjauh dari kelompoknya. Sedangkan Dino hanya tertegun cukup lama, mungkin ia menyesali apa yang telah ia lakukan pada Stevi. Merasa bersalah Dino kemudian berusaha mengejar Stevi, namun ia kehilangan jejak. Sementara Johan yang sebenarnya sangat tidak suka dengan sikap Stevi, ia hanya memfokuskan diri untuk menjaga Biby sembari memberi minyak kayu putih ke arah hidungnya. Dino yang kemudian kembali ke arah tempatnya semula tampak senang ketika melihat Biby mulai sadarkan diri. Mereka kemudian memberi Biby beberapa asupan makanan dan minuman, istirahat sejenak mereka pilih untuk sedikit memulihkan tenaga Biby. “Sudahlah, Din, kamu nggak usah pusing. Dia paling bersembunyi di sekitar sini dan menunggu kita,” ucap Johan mencoba menenangkan Dino yang tampak sedikit cemas. “Stevi ke mana? Dia kenapa?” Biby baru saja menanyakan Stevi, setelah sebelumnya ia tidak menyadari jika Stevi pergi begitu saja. “Dia pergi, lari. Mungkin dia kesal dengan kita. Dia kan, ya gitu anaknya,” balas Johan yang seperti enggan menjelaskan panjang lebar kepada Biby. “Tadi dia lari ke mana, sih? Ayo kita segera cari,” Dino menanyakannya kepada Johan. Johan kemudian menunjuk salah satu arah yang tampak gelap dengan bantuan sorot senter di genggaman jari-jemarinya. Sesosok berjubah hitam tampak terkena sorotan senter Johan, namun kemudian secepat itu menghindar. “Eh..eh..eh itu..it..itu Stevi bukan?” Johan bingung dengan apa yang barusan dilihatnya. “Gimana kalo itu Stevi? Samperin aja, Han,” balas Biby yang mulai membaik. Dengan ekspresi yang tampak sedikit cemas dan tak mampu berucap apa-apa, Johan kemudian memberi isyarat kepada mereka untuk menuju arah di mana Stevi lari. Sinar-sinar senter mereka tampak menyoroti ruang-ruang gelap hutan dengan sedikit kabut khas daerah pegunungan. Dari arah belakang mereka terdengar suara seseorang berjalan ke arah mereka. “Jubah hitam! Itu bukan Stevi! Bukan!” ucap Johan dengan gugup setelah sedikit lama ia terbungkam karena takut. Mereka kemudian menoleh ke arah di mana suara itu berasal, namun nihil. Mereka tidak melihat apa-apa. Setelah mereka akan menoleh ke arah semula, tiba-tiba sesosok jubah hitam itu melintas tepat di hadapan mereka. Mereka terkejut dan berlari meninggalkan tempat itu. Wajah mereka tampak begitu panik, dengan cepat mereka menerobos rumput-rumput liar setinggi betis yang mencoba menghalangi mereka. Biby yang masih sedikit membaik itu tidak henti-hentinya tersungkur, namun ia terus mencoba bangkit dengan bantuan temannya. Gelap telah menghalangi pandangan mereka, sinar dari senter yang mereka bawa juga tidak cukup memberitahu mereka jika di hadapan mereka ada jurang yang cukup dalam. Mereka tentu tidak menginginkan hal tersebut, tetapi tubuh mereka terpaksa untuk masuk dan termakan oleh buasnya jurang hutan.

          Warna merah tampak tersorot ke wajah Dino, ketika sinar mentari mencoba menembus tenda dan memberikan warna merah ke dalam seluruh isi ruangan tenda. Kini tidak lagi ramai dengan suara serangga malam, senyum-senyum mereka dan ramai suara manusia tampak terdengar oleh mereka bertiga. Johan dan Biby juga terkejut ketika ruangan tenda yang sebelumnya mereka mengenalnya dengan tenda tempat orang ketika mengalami gangguan selama perkemahan seperti sakit. Raut wajah mereka kini tidak menampakkan kecemasan, mereka senang ketika bisa melihat teman dan gurunya berada didekat mereka dengan tersenyum. “Akhirnya, kalian sadar juga. Untung saja tim dari kami yang menemukan kalian tergeletak di bawah jurang tadi malam. Bapak cukup khawatir, tapi untung saja kalian sadar,” salah satu guru tampak senang. “Stevi, Pak, Stevi. Stevi ke mana, Pak?” Biby seketika teringat Stevi dan merasa khawatir. “Biby, aku ada di sini kok.” Stevi tampak masuk dari arah luar dengan membawakan tiga mangkuk bubur. “Maaf ya, aku lari tadi malam tapi kemudian aku menemukan tempat perkemahan ini, jadi aku kesini. Aku beberapa waktu kemudian kembali ke arah kalian dengan tim pencarian, tapi kaliannggak ada di sana, dan kita menemukan kalian di bawah jurang.” Stevi tampak menangis, kemudian ia memeluk Biby setelah meletakkan tiga mangkuk bubur yang dibawanya. “Oh iya, selain itu yang perlu kalian tahu ada yang mau minta maaf juga kepada kalian, Kelompok Elang,” ucap guru tadi kepada mereka berempat. Seorang anak perempuan yang sedari tadi berada di samping mereka kemudian mencoba berbicara. Dia bernama Angela. Angela sebelumnya menjelaskan bahwa teror yang sebenarnya mereka temui adalah karena dirinya. Dia sengaja mengubah arah dan jejak rute jelajah menuju arah yang salah. Dia juga yang kemudian membuat goresan aneh di pohon besar dan juga yang telah menakuti mereka menggunakan jubah hitam. Jubah hitamnya kemudian tidak sengaja tersangkut dan robek di salah satu semak berkayu yang cukup kuat, setelah dirinya membuat goresan sebelumnya. Kemudian para tim pencari Kelompok Elang menemukannya yang tampak mencoba berlari ke arah perkemahan dengan membawa jubah hitam karena hal itu, kemudian sikap tidak baik dirinya terbongkar. Dia melakukan semua ini karena kesal kepada Stevi yang berusaha mendekati Dino, Angela sebenarnya juga sangat tertarik dengan Dino yang dikenal memiliki paras yang rupawan. Selain itu, dirinya merasa kesal karena tidak dipilih panitia sebagai anggota Kelompok Elang karena dirinya ingin sekali satu kelompok dengan Dino. Angela menjelaskan bahwa dirinya saat itu memberi alasan tidak ikut perkemahan karena sakit, agar dirinya lebih leluasa untuk membalas kekecewaanya. Setelah itu Angela meminta maaf kepada Kelompok Elang, seluruh teman, dan juga gurunya saat itu.

One thought on “Kain Hitam di Tengah Hutan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *