Kesederhanaan Membawa Mimpi Menjadi Nyata hingga ke Luar Negeri

Formadiksi UM News – ‘Ketidakmampuan ekonomi bukanlah penghalang keberhasilan!’ mungkin itu kesan pertama yang muncul manakala mengenal sosok Suharto. Suharto yang memiliki nama lengkap Muhamad Suharto merupakan mahasiswa D4 Jurusan Teknik Kimia di Politeknik Negeri Malang (Polinema). Sejak awal memasuki dunia perkuliahan pada tahun 2016 lalu, dirinya sudah bertekad untuk mengukir prestasi demi membuktikan kemampuan diri dan membahagiakan orang tuanya.

Menata segalanya dari awal bukanlah hal yang mudah, itu pula yang dirasakan oleh Suharto. Menjadi Finalis Mahasiswa Berprestasi Polinema 2019 ia raih lewat banyak tantangan dan hambatan yang tak jarang justru datang dari orang-orang terdekat. Namun, berkat niat dan usaha yang besar serta doa dari orang tuanya, Suharto berhasil mewujudkan mimpinya lewat apa yang ia capai sekarang. Jalur Bidikmisi pun turut menjadi salah satu faktor keberhasilannya. Reporter Formadiksi UM News telah berhasil mewawancarai Suharto dan merangkum rekam jejak prestasinya yang tentu dapat menginspirasi mahasiswa penerima Bidikmisi Universitas Negeri Malang (UM). Simak liputannya, berikut ini!

Memulai dari Nol

Saya lahir dari keluarga yang sederhana, bahkan karena hal tersebut, seringkali saya harus menunggu sebuah acara resepsi pernikahan untuk dapat menikmati semangkuk rawon. Bagi saya, memiliki lima orang saudara bukanlah hal yang sepenuhnya menyenangkan. Sejak kecil, mereka sering mengumpat terhadap saya ketika saya mendapat nilai yang kurang baik di mata pelajaran Matematika. Namun, hal itu justru memacu saya untuk membuktikan prestasi lewat keaktifan saya dalam mengikuti berbagai ajang perlombaan Olimpiade Matematika di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).  Ketika hampir menyelesaikan masa SMA, saya sempat hancur karena menuai kegagalan pada jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Waktu itu saya harus merelakan mimpi saya untuk dapat mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM) dengan program studi Pendidikan Matematika.

Tak patah arang, saya mendapat info bahwa Bidikmisi dapat diajukan lewat jalur seleksi Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri (PMDK-PN). Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti seleksi PMDK-PN jenjang D4 Jurusan Teknik Kimia. Tak disangka pada saat pengumuman, saya dinyatakan lolos. Kala itu, saya dihadapkan pada tiga pilihan yaitu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Al-Hikmah (STKIP Al-Hikmah), Polinema, dan Politeknik Energi dan Mineral Akamigas (PEM Akamigas). Dengan banyak pertimbangan dan saran yang diberikan oleh ibu saya, akhirnya saya mantap memilih Polinema sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan. Namun, saya sadar bahwa keputusan saya akan membutuhkan banyak perjuangan terutama untuk ke depannya karena saya diterima di program yang tidak saya kuasai semasa SMA (Kimia).

Ibu adalah Sumber Motivasi

Pada saat lolos seleksi PMDK-PN di Polinema, saya tidak mendapat dukungan dari saudara-saudara saya. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal tersebut, seperti lokasi yang jauh di Malang, pergaulan buruk, kesulitan biaya, dan ketiadaan tempat tinggal. Hampir semua saudara saya lebih menyetujui jika saya menjadi petugas kebersihan masjid di Malang. Hanya ibu saya yang mendukung keinginan saya. Beliau rela berutang kepada banyak pihak agar bisa membiayai kehidupan awal perkuliahan saya. Peristiwa itu membuat saya menjadikan ibu sebagai motivasi terbesar saya untuk meraih prestasi. Saya harus membuktikan kepada ibu saya bahwa saya mampu dan tidak akan terbawa arus pergaulan yang buruk seperti apa yang diasumsikan oleh semua saudara saya.

Tantangan Bukan Penghalang

Kesulitan utama memang datang dari persoalan biaya. Uang menjadi tantangan nomor satu bagi saya. Di samping saya tidak memiliki sumber penghasilan pribadi, dana Bidikmisi yang saya dapatkan pun utamanya bukan untuk membiayai berbagai perlombaan yang hendak saya ikuti, melainkan harus saya kelola dengan baik dan cermat agar dapat menutupi biaya hidup saya di Malang. Selain itu, kemampuan berbahasa asing saya juga minim. Sejak SMP, saya tidak menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris. Bahkan, saya seringkali tidur saat mata pelajaran tersebut berlangsung di kelas saya. Bahan kajian penelitian dan sumber inovasi saya juga sedikit dikarenakan minimnya rujukan dalam bentuk literatur.

Meminjam uang menjadi solusi utama dari tantangan yang saya hadapi. Dengan jalan berutang kepada kakak-kakak saya, saya dapat mengikuti berbagai perlombaan. Utang tersebut dapat saya lunasi ketika saya memenangkan lomba. Namun, apabila tidak meraih kemenangan, saya harus menyisihkan dana Bidikmisi yang saya peroleh untuk melunasi utang tersebut. Selain itu, tantangan untuk menguasai bahasa asing saya atasi dengan tekun mempelajari buku-buku perkuliahan, menonton film, dan mencoba menerjemahkan buku berbahasa asing secara manual. Terlepas dari itu, topik penelitian yang saya kaji bergerak di pengolahan styrofoam yang minim literatur, sehingga saya harus mendasari penelitian saya dengan inovasi yang ramah lingkungan, terjangkau, dan dapat dilakukan oleh semua orang. Intinya, tidak sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Prestasi yang Paling Berkesan

Prestasi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika dinyatakan lolos dalam pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di lima bidang dengan judul “Pemanfaatan Limbah Styrofoam dengan Metode Solvolysis sebagai Bahan Baku Karet Styrene Butadiene Rubber (SBR)”. Hal tersebut membuat saya bersemangat untuk berbagi ilmu dengan adik-adik tingkat dalam proses pelatihan PKM. Kemudian, pada tahun 2019 untuk pertama kalinya saya memenangkan Gold Award pada ajang International Invention & Innovative Competition (InIIC SERIES 1) di Malaysia dan Gold Medal pada ajang Advanced Innovation and Global Competition (AIGC) di Singapura. Saya sangat bahagia ketika melihat Bendera Indonesia berkibar paling tinggi pada ajang perlombaan antarnegara sambil diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Saya ingin sekali bisa menjadi alasan utama di balik itu dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Meskipun berbagai perlombaan yang saya ikuti membutuhkan banyak perjuangan, semuanya terbayar dengan kemenangan yang saya raih. Berbagai prestasi yang telah terukir diwarnai oleh kerasnya persaingan di luar. Munculnya kesulitan membuat saya dapat mengenal kemandirian dan mengelola waktu dengan baik. Pada akhirnya saya pun bisa berbahasa Inggris dan yang terpenting semua itu menjadi modal bagi saya untuk menghadapi kehidupan pascakuliah.

Pesan untuk Mahasiswa Penerima Bidikmisi

Pertama, jangan menganggap remeh ketika kalian diberi amanah menerima dana Bidikmisi oleh negara, sehingga kalian lupa dan terlena dengan kehidupan kampus. Kalian lupa bagaimana caranya membalas budi kepada negara yang telah selangkah memajukan mimpi kalian. Kedua, jangan pernah takut untuk melangkah lebih jauh dan berbeda dibandingkan teman-teman kalian, tentunya dalam hal positif. Terkadang, keikutsertaan kalian dalam berbagai lomba membuat kalian dijauhi teman-teman kuliah karena dianggap sebagai sosok yang ambisius. Ketiga, jangan sia-siakan waktu kalian. Jangan melewatkan kesempatan kalian untuk menggapai cita-cita lewat jalur Bidikmisi karena di belakang sana masih banyak orang yang ingin berada di posisi kalian saat ini. Keempat, apapun yang kalian lakukan, niatkan itu dan mintalah doa dari orang tua kalian. Jangan pernah menyakiti orang tua kalian dengan kerinduan. Apabila perlu, pulanglah sejenak untuk berbagi cerita dan mengobati rasa rindu. Ingat, yang paling utama adalah memegang apa yang menjadi niat kalian sejak awal.

Nah, itu tadi hasil liputan Reporter Formadiksi UM News dengan Muhamad Suharto, mahasiswa penerima Bidikmisi Polinema yang berprestasi. Kisah Suharto menjadi salah satu bukti bahwa dari manapun asalnya, perjuangan mahasiswa penerima Bidikmisi dalam mewujudkan mimpi tentu tidak akan mudah dan berliku-liku. Semoga dapat menginspirasi dan memotivasi mahasiswa penerima Bidikmisi UM untuk senantiasa menorehkan prestasi-prestasinya, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

Bidikmisi! Berprestasi Tiada Henti!

Reporter     : Syani Yemima Syahrul

Editor         : Chantika Putri Ana

 

One thought on “Kesederhanaan Membawa Mimpi Menjadi Nyata hingga ke Luar Negeri”

  1. Masyaallah kak, kak Harto sangat menginspirasi. Semoga mhs Bidikmisi lainnya bisa menuai prestasi dan membanggakan orang tua, almamater dan negara. Terimakasih kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *