Kisah Inspirasi Bidikmisi: Berprestasi melalui Sastra dan Matematika

Kisah Inspirasi Bidikmisi: Berprestasi melalui Sastra dan Matematika

Formadiksi UM News – Berprestasi melalui sastra dan matematika nampaknya adalah ukiran prestasi yang unik dari seorang Muhammad Arinal Haq. Mahasiswa penerima Bidikmisi program studi Matematika Universitas Gajah Mada (UGM) ini, rupanya telah banyak mengukir prestasi di berbagai bidang, terutama bidang sastra dan matematika mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Mahasiswa yang kerap dipanggil Aril ini juga mengukir berbagai kisah inspirasi dalam perjuangannya meraih prestasi maupun saat menjadi mahasiswa penerima Bidikmisi. Oleh karena itu, Reporter Formadiksi UM News telah berhasil mewawancarai Muhammad Arinal Haq  pada Jumat–Sabtu (9–10/10/2020) dan telah merangkum kisah inspiratifnya sebagai berikut:

Berawal dari Perasaan Syukur Saat Diterima Menjadi Mahasiswa Penerima Bidikmisi

Tentunya sangat dan sangat bersyukur, rasanya ibarat bersua oase di tengah padang pasir yang gersang. Kendati hamparan mimpi yang hendak diwujudkan melecut semangat, tetapi perihal bagaimana biayanya nanti, kehidupan di sana nanti, semuanya menjadi pikiran yang sempat membuat bimbang di hati. Orang tua sempat ragu dan bingung entah bagaimana nanti akan mencari biaya. Kendati rezeki sudah pasti diatur Sang Kuasa, rasa khawatir itu selalu ada. Namun, Allah ternyata menunjukkan jalan dan kuasa-Nya. Dan berkat beasiswa Bidikmisi ini, saya dapat melanjutkan perjuangan dan rajutan mimpi-mimpi yang ingin saya wujudkan hari ini dan esok nanti.

Awal Tertarik dengan Dunia Kepenulisan

Sebenarnya, proses jatuh cinta dengan dunia menulis, utamanya sastra adalah ketika saya di bangku MA (madrasah aliyah). Saat itu, guru bahasa Indonesia saya, Pak Maswan (Alm) yang juga seorang dosen selalu memberikan kami tugas untuk menulis dan berkarya. Dari artikel, cerpen, puisi, dll. Serta kami didorong untuk mengirimkan ke surat kabar. Dan alhamdulillah di kelas 11, tepatnya tahun 2015, 3 buah cerpen saya pernah dimuat di Jawa Pos Radar Kudus. Jadi bisa dibilang, saya bertemu dan jatuh cinta dengan dunia menulis berawal dari terpaksa dan terbiasa.

Singkat cerita, di akhir masa MA, mulai agak sedikit kendor menulis. Terlebih ketika awal-awal menjadi mahasiswa. Namun ada satu momen, di mana saat itu di semester 2, saya pertama kali ikut lomba ketika menjadi mahasiswa, dan lomba itu adalah Lomba Cipta Puisi. Dan sejak saat itu, saya kembali menemukan kecintaan akan dunia menulis yang sempat pudar, dan kembali aktif menulis dan mengikuti beberapa lomba menulis.

Karya-Karya yang Berhasil Diterbitkan/Mendapat Penghargaan

Kalau karya, beberapa termaktub dalam antologi bersama. Ada buku Pencuri Impian, yang berisi kumpulan cerpen saya bersama dua orang teman, saat di bangku MA yang diterbitkan atas bantuan Pak Kuat, guru bahasa Arab saya. Ada juga di beberapa buku antologi, seperti Pulang (2020), Rindu (2020), Goresan Pena Sang Pemimpi (2020), Buta Warna (2018), 74 Wajah Indonesia (2019), Sketsa Hujan (2015), dll.

Untuk beberapa karya yang alhamdulillah pernah meraih juara:

  • Cerpen “Matematian: Matematika, Mimpi, dan Perjuangan”, Juara 1 Lomba Kisah Inspiratif TIMDIKSI 2019
  • Puisi “Teruntuk Anakku Kelak: Sebuah Pesan”, Juara 3 Lomba Cipta Puisi Himamik Polinus 2020
  • Puisi “Secarik Elegi Pandemi”, Juara 1 Cipta Puisi Semarak Bulan Bahasa HMJ PBI Untirta 2020
  • Puisi “Monolog Mimpi Anak Negeri”, Juara 1 Cipta Puisi Formadiksi UM 2020
  • Puisi” Democrazy: Pada Orang-Orang Berkulit Sawo Matang”, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Peringatan Hari Lahir Pancasila HMPGSD UPI Tahun 2020
  • Puisi “Hitungan Kita”, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Matematika Himastik UNSRI 2019
  • Puisi “Ketika Air Susumu Berbuah Air Tuba”, Juara 2 Lomba Cipta Puisi 74 Wajah Indonesia Dema Justicia FH UGM Tahun 2019

Kegagalan di Balik Kesuksesan Prestasi Kepenulisan

Dan saya ingat betul, pertama kali saya mendapat juara 1 nasional, itu bulan September 2019 tepatnya di Lomba Kisah Inspiratif, Temu Ilmiah Mahasiswa Bidikmisi Nasional di Universitas Mataram. Dan kalau tidak salah, itu adalah lomba ke-33 atau ke-34 yang saya ikuti selama menjadi mahasiswa. Jadi bisa dibilang, 30-an lomba di belakangnya saya amat akrab dengan jatuh dan kegagalan. Dan setelah momen itu, alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk menjuarai kompetisi-kompetisi berikutnya. Seperti Juara 1 Lomba Cipta Puisi Matematika Himastik UNSRI 2019, Juara 2 Lomba Cipta Puisi Himatika UNNES 2019, Juara 3 Lomba Cipta Puisi HIMAMIK POLINUS 2020, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Formadiksi UM 2020, Juara 1 Lomba Cipta Puisi SBB Untirta 2020, dll.

One Bad Chapter doesn’t Mean Your Story is Over Ala Muhammad Arinal Haq

Saya percaya, one bad chapter doesn’t mean your story is over.

Bukankah gagal selepas mencoba, jauh lebih baik dari pada gagal untuk mencoba. Dan pada akhirnya nanti, kita akan jauh lebih menyesali hal-hal yang tidak sempat kita coba. Ketika kita mau mencoba, kita setidaknya membuat peluang berhasil itu menjadi ada. Namun ketika kita sama sekali tidak mencoba, peluang gagal yang ada adalah mutlak 100%.

Dan ketika kita dihadapkan pada sebuah kegagalan, hanya ada dua pilihan. Larut dalam kesedihan dan keterpurukan hingga memilih berhenti berjalan, atau kembali bangkit memperjuangkan kembali mimpi dengan penuh keyakinan. Ingat! Kegagalan bukanlah sebuah dosa. Dan jika kita lihat lebih dalam lagi, bukankah gagal adalah bentuk lain dari belajar kembali. Bahwa setiap usaha akan selalu bertemu dua jawaban pada akhirnya, berhasil, atau belajar untuk ke sekian kalinya. Bahwa kegagalan sejatinya hanya untuk mereka yang berhenti berikhtiar dan mencoba.

Karena kita tak pernah tahu kapan dan pada percobaan ke berapa Allah mengizinkan kita menyandang gelar juara maka bukankah tugas kita adalah terus mencoba dan berusaha, senantiasa mengetuk lewat jalan dan pintu mana saja, dan biarkan Allah membuka pintunya lewat jalan yang tak pernah kita duga. Sehingga, memilih menyerah dan berputus asa ketika gagal melanda adalah bentuk keputusasaan sesungguhnya. Sebab, prinsip saya, ketika kita menyerah hari ini, bagaimana mungkin kita akan tahu rencana indah apa yang telah Allah persiapkan untuk kita esok hari.

Berkiprah melalui Matematika dan Sastra

Agak aneh mungkin ya. Ketika anak jurusan eksakta, utamanya matematika, tapi seringnya ikut lomba menulis. Alhasil, saya pun sering dicap anak sastra yang nyasar di matematika. Tapi bagi saya, matematika dan sastra sama-sama memiliki keindahan tersendiri, dan saya menikmati keduanya. Bahwa ada benang merah antara keduanya atau keduanya sama-sama berkaitan dengan bagaimana kita mampu menata diksi untuk dirangkai menjadi kalimat-kalimat yang indah. Matematika dengan konsistensi logika dan bahasa serta keindahannya yang dingin. Sedangkan sastra dengan kebebasan ekspresi dan nilai yang bisa kita sampaikan melaluinya. Jadi saya tidak tersesat deh.

Namun, tanpa keluar dari marwah jurusan saya, saya juga mengikuti beberapa kompetisi di dunia matematika dan alhamdulillah juga mendapat beberapa juara. Seperti Juara 2 Olimpiade Sains Mahasiswa Bidang Matematika Tingkat Nasional di Universitas Riau Tahun 2020, Juara Harapan 2 Mathematics on Paper Himatika UNTAN Tahun 2020, Best Presentation LKTIN Mathematics Championship Himatika UNIB 2019, dan Delegasi UGM dalam Internasional Mathematics Competition for University Student Tahun 2020 beberapa waktu lalu.

Kisah Anak Pesisir Pantai Utara yang Berhasil Menginjakkan Kaki di Singapura

Kalau yang fully funded ke Singapura itu, berawal dari salah satu platform atau starp up ikutlomba.com. Di sana akan dipilih 5 orang yang akan diberangkatkan fully funded untuk mengikuti acaranya selama 3 hari di Singapura. Ada seleksi tes online, dan juga seleksi video. Alhamdulillah, sungguh kejutan yang sangat luar biasa dari Allah SWT, serta berkat doa kedua orang tua dan keluarga serta teman-teman semua, saya berkesempatan menjadi 1 dari 5 orang yang terpilih itu. Yang paling saya ingat waktu itu adalah hari terakhir pengumpulan video, dan saya belum sekalipun membuatnya. Terlebih kala itu tengah padat-padatnya kuliah, tugas, kepanitiaan, dll. Singkat cerita, sore itu saya sempat berpikir “ya sudahlah, nggak usah buat videonya”. Namun, saya ingat kembali, sampai di titik ini adalah kesempatan yang harus disyukuri. Alhasil sedari sore itu, praktis sampai tengah malam saya mengedit sendiri, dengan bahan seadanya, kemampuan editing ala kadarnya, dan terkumpullah video 5 menit sebelum deadline. Saya tak berharap apapun kala itu. Syukur saya sudah bisa menyelesaikan dan mengirim video. Namun, rencana Allah jauh lebih indah. Saya seorang anak desa dari pesisir pantai utara, tepatnya Kota Jepara, alhamdulillah berkesempatan menginjakkan kaki di Singapura. Di sana saya dan lainnya mengikuti beberapa acara seminar dan konferensi internasional, serta mengunjungi beberapa tempat ikonik. Mungkin intinya, ketika sore itu saya pada akhirnya memutuskan untuk menyerah, tidak jadi bikin video, kisah ini tak mungkin bisa saya ceritakan.

Menjadi Salah Satu Pengajar Matematika di Sanggar Genius Unggulan (SGU)

Sanggar Genius Unggulan, adalah salah satu program dari Yayasan Yatim Mandiri, dan saya menjadi salah satu pengajar matematika di sanggar tersebut sejak Maret 2019. Kegiatan anak-anak yang tergabung di sanggar adalah belajar bersama, tilawah, sholat malam bersama, olahraga, dll dibersamai saya dan rekan pengajar lainnya. Di sanggar inilah yang menjadi tempat saya melepas lelah. Melihat canda tawa mereka, bermain bersama, membersamai mereka berkompetisi di beberapa kota, dan sejatinya merekalah guru kehidupan yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Namun karena suatu hal, kelas matematika ditiadakan sejak awal tahun ini.

Pesan untuk Mahasiswa Penerima Bidikmisi

Teruntuk kawan-kawan Bidikmisi, mari terus menanam mimpi! Menyiram dan memupuknya dengan ikhtiar sepenuh hati dan doa yang tak kenal henti. Kendati kecewa kadang datang bertubi-tubi, gagal berkali-kali, dan jatuh yang tak kenal henti, namun percayalah, semesta selalu memberi akhir skenario terbaik yang indah bagi mereka yang senantiasa berikhtiar dan melangitkan doa dalam pasrah.

Nah, itu tadi liputan mengenai kisah inspiratif dari Muhammad Arinal Haq yang berhasil dirangkum oleh Reporter Formadiksi UM News. Semoga kisah perjuangan Muhammad Arinal Haq, yang juga menjadi penerima Anugerah Insan UGM Berprestasi 2019 tersebut dapat memberikan inspirasi dan menambah semangat bagi para pembaca.

Bidikmisi! Berprestasi Tiada Henti!

Reporter          : Chantika Putri Ana

Editor              : Chantika Putri Ana

4 thoughts on “Kisah Inspirasi Bidikmisi: Berprestasi melalui Sastra dan Matematika”

  1. Huwaaaa speechless bangett, inspiratif bangett, ga kebayang kalo aku yg jd reporter nya pasti udah terkagum-kagum huwaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *