Kisah Sumbang Dalam Muara Akhir Perjalanan Citaku di Bumi Cakrawala

“Berbeda, tak sama. Langkahku dulu tak seindah cerita dan berita terlemparnya toga dan diterimanya ijazah di Graha Cakrawala, seperti kawan-kawan lainnya. Aku hanya bisa meyakini ikhtiar perjalananku tidak lain dan tidak bukan adalah karena mereka dan untuk-Nya. Bukan disampaikan sebagai teladan dan percontohan, namun hanya sebagai selingan penguat moral untuk adik-adikku Bidikmisi agar senantiasa menilik sebab di balik cerita dan mengambil hikmah di balik sumbangnya kisah.”

Tidak berbeda, sama.

Sama seperti saat ini, kala itu Mahasiswa Bidikmisi juga mendapatkan tempat dan perbincangan terbaik di kalangan pejabat. Mahasiswa yang notabene tidak mampu dalam ekonomi ini, selalu disanjung-sanjung memiliki semangat dan daya juang tinggi dalam menempuh perkuliahan. Tidak sedikit kawan-kawan, kakak tingkat, bahkan adik tingkat yang baru saja masuk Gerbang Surabaya seminggu lalu sudah memboyong piala dan penghargaan di masing-masing bidangnya. Hidup susah memang tempaan terampuh untuk menghasilkan manusia-manusia tangguh dan unggulan.

            Rupanya sebutan semangat dan daya juang tinggi tidak terpatok bagi mereka yang mampu membawa nama almamater ke ranah regional hingga internasional saja. Para aktivis dari Mahasiswa Bidikmisi juga disalutkan kecakapannya dalam berorganisasi, begitu pula para mahasiswa akademis yang Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya selalu tinggi. Katanya, “Berjuang pada kemampuan dan bidangnya masing-masing”. Aku sendiri lebih fokus untuk mengikuti perkuliahan di kelas. Walhasil IPK-ku cukup memuaskan, sangat memuaskan bahkan kata kawan-kawanku. Puas tidak puas memang relatif, namun aku selalu berfokus pada ilmu yang aku dapatkan. Bagiku tidak seberapa nilai IPK itu, dibandingkan dengan keberkahan ilmu yang diberikan oleh bapak ibu dosen.

            Masih sama, masih tidak berbeda.

            Aku menjalani perkuliahan dengan alunan yang normal, layaknya kawan-kawan lainnya. Akan tetapi itu hanya bertahan hingga semester keduaku di Bumi Cakrawala. Peristiwa besar membawa duka mendalam di perjalananku semester tiga. Ibundaku tercinta harus berpulang ke haribaan-Nya. Aku kehilangan satu inspirator dalam hidupku. Di luar itu, beliaulah yang selalu memberikan uang tambahan untuk biaya sehari-hariku di Malang. Tidak memungkiri 600 ribu rupiah tidak dapat mencukupi biaya hidup selama satu bulan. Selepas kepergian beliau, aku mencari uang sendiri sebagai tambahan. Sebab penghasilan ayah hanya cukup untuk makan di rumah, maka tak mungkin aku meminta pada beliau.

            Sedikit berbeda, cukup tak sama.

            Perjalananku hingga semester delapan kulalui dengan bekerja, dengan ritme kuliah-kerja kuliah-kerja. Sesekali aku membuat antologi puisi dan novelku sendiri yang hingga kini aku masih menyenangi kegiatan sastra itu. Ketika itu, segalanya kujalani senantiasa dengan berdasarkan pada hati yang ikhlas. Sebab aku tahu, bahwa berkah tidak akan mengikuti seseorang yang langkahnya diliputi marah, malas, dan ketidakikhlasan. Aku juga yakin bahwa Allah akan selalu bersama hamba-Nya yang ikhlas. Oleh karenanya, aku bertahan dengan keadaan yang ada hingga datang suatu masa di mana aku benar berbeda. Bukan berbeda dari diriku yang sebelumnya, namun aku berbeda dengan kawan-kawanku yang lainnya.

            Akhirnya aku berbeda, aku tak sama.

            Dengan masa perkuliahan yang akan berakhir, ketaksamaan muncul di diriku di antara kawan-kawan lainnya. Kembali muncul ujian dari Allah atas dua pilihan yang benar-benar harus aku tentukan. Keduanya adalah penentu masa depan dan masa saat itu bagiku sekaligus bagi keluarga di rumah. Skripsi sebagai sepak terjang gelar sarjana dan ijazah strata satuku, akhirnya menjadi satu pilihan pelik di antaranya. Begitu pula keterbatasan ekonomi ikut serta menjadi latar belakang atas ujian ini. Penyelesaian skripsi yang membutuhkan biaya, tak mungkin menjadi alasanku untuk meminta uang pada ayah. Memungkinkan, namun ayah pasti akan berutang untuk memenuhi kebutuhanku. Akan tetapi, apabila aku tidak menyelesaikan skripsi, pastilah tidak kudapat ijazah untuk dibawa pulang ke kampung halaman.

            Sama sekali berbeda dan aku hanya bisa pasrah.

            Atas persetujuan dari ayah, aku memilih untuk pulang tanpa ijazah. Kucukupkan ilmu yang telah kutimba selama empat tahun silam. Dengan hati yang seberat-beratnya, aku meninggalkan hiruk pikuk perempatan Veteran, kuhempaskan bayangan tawa bersama dalam Cakrawala untuk menerima sebuah ijazah, dan aku benar memutuskan pulang ke kampung halaman untuk menemani ayah mencari nafkah. Membuka usahaku sendiri, menciptakan peluang penghasilanku sendiri, dan berharap bahwa inilah jalan yang benar-benar diridhoi Allah.

            Masih berbeda, tapi mungkin mendekati kembali sama.

            Akhir perjalanan citaku di muara Bumi Cakrawala berbeda dengan kawan-kawan lainnya. Bahkan tak akan pernah sama jika diceritakan dalam bentuk apapun. Namun aku meyakini satu hal bahwa kesamaan takdir setelah keputusanku dengan kawan-kawan yang telah berijazah di sana akan perlahan memiliki rupa yang sama. Kami akan sama-sama menempuh hidup di luar Cakrawala. Tinggal tekad dan semangat yang harus diperkuat, tentunya dengan ibadah yang didekap dengan taat.

            Pada akhirnya sama.

            Samalah perasaanku ketika harus meninggalkan skripsi, salah satu bukti masa tempuh sarjanaku: berat. Tidak ingin meninggalkan apa yang seharusnya jika memang tidak sepelik itu kejadiannya. Aku mahasiswa normal, Mahasiswa Bidikmisi yang sama memiliki cita tinggi untuk menuntaskan segalanya. Keinginan itu ada, namun keadaan yang memaksa dan menciptakan cerita berbeda, kisah sumbang di dalamnya. Kisah sumbang itu kemudian perlahan menuntunku untuk berkata pada adik-adikku Bidikmisi yang masih menempuh masa studi di Learning University bahwa, “Kepada kalian yang mendengar kisah sumbang, janganlah seketika memberikan adopsi judgement yang sama dengan mereka yang memang beri’tikad untuk putus kuliah. Ingatlah bahwa ada kisah dan beraneka sebab atas mata yang sembab atau pipi yang mengembang tegas. Mantapkan empat tahun menimba ilmu di perguruan tinggi ini. Persiapkan segala macam kebutuhan untuk menyelesaikannya sebelum apa yang tidak kalian kehendaki menghampiri. Jadilah Mahasiswa Bidikmisi yang menghargai arti ilmu dan waktu. Tetap semangat dan senantiasalah mendekap taat.”

(Kisah ini merupakan kisah nyata tanpa dibuat-buat dengan wawancara pada narasumber pada 24 Desember 2019 . Semoga dapat menginspirasi dan bermanfaat.)

Reporter          : Amanatul Haqqil Ibad

Editor              : Nadya Erawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *