Kuliah dan Narkoba

oleh: Reghie Wisnu Pradana

 

Sepatu cats berwarna hitam putih itu siap menemani pemiliknya berjalan seharian menuntut ilmu di kampus. Setelah mengunci kamar kos, Rama berjalan menuju kampus yang tak jauh dari tempat kosnya. Kemeja kotak berwarna abu-abu dan rambut klimis berpomade membuat Rama terlihat segar. Siapa menyangka Rama, laki-laki berbadan kekar idaman mahasiswi kampus ini adalah seorang pemakai narkoba.

Sudah tiga bulan lamanya, Rama menjadi seorang pecandu narkoba. Tak ada yang tahu bahwa Rama adalah pemakai, termasuk pacar dan orang tua Rama. Yang mereka tahu, Rama adalah laki-laki yang hobi fitness dan berolahraga. Sudah tiga bulan pula Rama tak pulang ke rumah dengan alasan tugas kuliah menumpuk.

Semua berawal dari teman nongkrong Rama yang membujuknya untuk mencoba narkoba yang dibawanya. Dari coba-coba itulah Rama mulai menjadi pemakai narkoba. Sekarang, sabu sudah menjadi bagian dalam hidup Rama yang tak bisa di pisahkan. Rama sudah tak bisa hidup tanpa sabu, sehari tak memakai sabu, dirinya malah akan merasa kesakitan.

Saat tiba di depan kelas, Terdengar suara menyebut nama Rama.

“Pagi Rama,” sapa gadis cantik bernama Nikita yang tak lain adalah kekasih Rama.

Nikita dan Rama sudah menjalin hubungan sejak SMK, sejak SMK hubungan asmara mereka berjalan positif saja. Keduanya saling support dan berjuang bersama sehingga mereka berdua dapat diterima di universitas bergengsi seperti saat ini. Mereka memang satu fakultas namun berbeda jurusan.

“Pagi Niki,” balas Rama dengan senyum hangatnya.

Tanpa berkata lagi, Nikita menempelkan secarik note kecil ke dahi Rama. Setelah itu, Nikita berlari kecil meninggalkan Rama. Rama mengambil note yang menempel di dahinya dan membacanya

“Minggu depan UAS, jangan lupa belajar!” isi tulisan yang ada di note itu. Rama tersenyum tipis.

Nikita dan Rama jarang terlihat bersama karena keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Nikita dengan organisasinya dan yang Nikita tau Rama sibuk dengan aktivitas olahraganya.

***

Ujian akhir semester telah usai, dan nilai pun sudah dapat dilihat. Biasanya IPK Rama dan Nikita selisih sedikit, dan mereka berdua terkesan beradu IPK.

Tapi saat Nikita dan Rama duduk bersama untuk membuka nilai mereka, Nikita terkejut. Bagaimana bisa IPK Rama menurun sangat banyak.

“Kamu ada masalah?” Tanya Nikita, namun Rama melamun dengan tatapan kosong sehingga tak mendengar pertanyaan Nikita. Sontak Nikita memukul pelan pundak Rama, sehingga membuat rama terkejut.

“Ehm, nggak kok. Nggak ada apa-apa, memang mata kuliah semester ini sulit,” jawab Rama.

Nikita mulai merasa curiga dengan perubahan sifat Rama.

Libur semester tiba, disaat seperti ini biasanya Rama dan Nikita akan pulang bersama. Tapi kali ini Rama menolak dengan alasan dia masih banyak urusan kampus. Kecurigaan Nikita pada Rama semakin besar, namun Nikita memilih untuk tetap diam.

Satu bulan berlalu, Rama tak kunjung pulang. Diam-diam Nikita mengikuti Rama. Dari mulai Rama keluar kos sampai kemanapun Rama pergi. Tiba-tiba saja Nikita melihat Rama keluar dari kos dengan tergesa-gesa, ia berlari ke arah gang yang tak jauh dari kos. Dan datanglah seorang pria berjaket merah maroon dan bertopi hitam, terlihat mereka berdua sedang membicarakan sesuatu. Pria berjaket merah itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Rama. Saat pria berjaket merah itu pergi, Nikita melihat Rama membuka sesuatu yang diberikan oleh pria berjaket merah dengan tergesa-gesa. Rama menghirup sesuatu berwarna putih. Saat itulah Nikita tau bahwa pacarnya adalah seorang pemakai narkoba.

Nikita bergegas menghampiri Rama di gang itu. Dengan cepat Nikita mengambil sabu yang ada di samping Rama, sontak Rama terkejut dengan kedatangan Nikita. Dengan air mata yang sudah menetes deras, Nikita memaki-maki Rama. Namun bukannya perhatian, Rama malah memukul Nikita dan mengambil sabu yang diambil oleh Nikita.

“Maaf Nik, ini sumber kehidupanku untuk saat ini,” kata Rama.

Sakit fisik tak seberapa, tapi hati Nikita benar-benar hancur mengetahui Rama yang sebenarnya ditambah lagi dengan pukulan Rama padanya. Nikitapun pergi meninggalkan Rama.

Dua bulan berlalu badan Rama mulai terlihat perubahannya. Yang semula kekar berisi, kini kurus kering. Tak tahan melihat kelakuan Rama, akhirnya Nikita memutuskan untuk mengadukan Rama pada mamanya. Karena Nikita merasa tak sanggup jika harus menghadapi semuanya sendiri.

Setelah berunding bersama, kedua orang tua Rama memutuskan untuk membawa Rama ke tempat rehabilitasi. Mereka mencari momen di mana mereka bisa melihat langsung Rama pada saat mengkonsumsi narkoba. Kedua orang tua Rama dan Nikita menghampiri kos Rama. Pintu kamar sudah diketuk berkali-kali namun tak ada sahutan dari Rama, saat mencoba membuka ternyata pintu tidak dikunci. Tiba di dalam kamar, Mereka tak menemukan Rama. Ternyata Rama sedang berada di kamar mandi dengan keadaan basah kuyub. Tubuhnya menggigil kedinginan. Rama sedang sakau berat, ia meringkuk kesakitan karena stok sabu yang dimilikinya habis. Tangis Mama Rama dan Nikita pecah melihat kondisi Rama. Papa Rama dengan sigap membopong Rama ke dalam mobil dan segera membawa ke rumah sakit rehabilitasi.

Dan pada akhirnya Rama harus menjalani proses rehabilitasi. Dengan sangat terpaksa ia harus berhenti kuliah tanpa batas waktu yang ditentukan untuk memulihkan kondisinya. Karena tak mungkin dengan keadaan seperti itu Rama bisa berkonsentrasi belajar. Nikita dan kedua orang tua Rama tak henti-hentinya menjenguk Rama untuk memberikan dukungan agar Rama semangat untuk sembuh. Meskipun kadang mereka harus ikut merasakan pilu saat Rama mengalami sakau. Sekarang Rama harus merasakan sakitnya rehabilitasi. Kuliah Rama juga harus tertinggal sehingga pasti kelulusannya juga akan tertunda.

Mereka sadar, bahwa dukungan dari orang terdekat dapat membantu penyembuhan seorang pecandu narkoba. Tidak selalu disalahkan, mereka juga adalah korban meskipun mereka yang berulah sendiri. Sejatinya seorang pemakai narkoba bukan dipenjarakan, namun rehabilitasi adalah solusinya. Meski begitu, tetaplah berhati-hati dalam bergaul karena bagaimana hidupmu tergantung dengan siapa kamu bergaul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *