Kurang minat baca buku? Siapa yang pantas untuk disalahkan?

Oleh Mohammad Ridho Dwi Maryadi

Ada pepatah yang mengatakan “buku merupakan jendela dunia”, hal itu bukannlah gurauan belaka. Sebab, dengan membaca buku, pikiran kita menjadi lebih terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Dengan membaca kita bisa mengetahui segala hal baru yang ada di dunia. Namun, apa jadinya jika minat membaca saja kita masih kurang? Dan siapa yang harus disalahkan jika sudah begitu?

Memang, hampir semua orang mengakui bahwa dengan membaca buku dapat menambah ilmu dan juga pengetahuan, akan tetapi yang menjadi pertanyaan kenapa masih banyak juga orang yang malas untuk membaca buku? Dalam penelitian yang dilakukan oleh Program for International Student Assesment (PISA) di tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia masih menempati urutan 62 dari 70 negara yang diteliti tingkat literasinya. Selanjutnya di tahun 2016 Central Connecticut State University (CCSU) melakukan penelitian tingkat literasi di 61 negara, dan hasilnya Indonesia hanya menempati urutan 60.

Dari kedua penelitian tersebut membuktikan bahwa tingkat literasi di Indonesia sendiri masih jauh dari harapan. Lantas, siapakah yang bersalah dalam hal ini? Apakah masyarakatnya atau dari pemerintah yang kurang memberikan fasilitas? Alasan utama yang masih rendahnya minat baca masyarakat ialah akses menuju sumber buku yang sulit. Mungkin bagi masyarakat yang ada di daerah perkotaan memiliki akses yang mudah untuk mencapai sumber buku. Akan tetapi berbanding terbalik dengan masyarakat yang ada di daerah pedesaan yang memiliki fasilitas kurang. Alasan kedua mungkin dihadapi ialah ketidakpedulian masyarakat terhadap perkembangan yang ada, seolah-olah mereka sudah memiliki pengetahuan yang banyak tanpa membaca buku. Kebanyakan dari mereka berpikir bisa melakukan segalanya tanpa mencari pengatahuan terlebih dahulu melalui buku.

Sudah seharusnya baik masyarakat maupun pemerintah saling bekerja sama dalam usaha perwujudan meningkatkan minat baca yang ada di Indonesia sendiri. Karena jika hanya mengandalkan satu pihak saja yang bergerak, rasanya sulit untuk terwujud impian tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *