Laks, The Most Inspiring Student Pilmapres Nasional 2019

Formadiksi UM News – Swiss-Belhotel Bogor menjadi saksi seleksi lanjutan hingga penganugerahan ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional yang digelar 23 hingga 25 Juli lalu. Laksamana Fadian Zuhad Ramadhan, Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Negeri Malang mewakili Universitas Negeri Malang untuk berlaga dalam ajang bergengsi tersebut. Dihadapkan dengan 14 mahasiswa berprestasi dari berbagai perguruan tinggi lainnya, Laks yang juga Mahasiswa Bidikmisi S1 Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2016 ini berhasil menyabet kategori “The Most Inspiring Student”.

 

Di balik segala gagasan dan pencapaiannya tersebut, Laks juga menyuarakan dan berusaha melakukan aktivisme sosial agar dapat menuai manfaat bagi orang banyak. Tak jauh dari hal tersebut, Laks dalam penyampaian pidato penganugerahan menyuarakan ketidaksetujuannya terkait wacana penghapusan ataupun penggantian program Bidikmisi. Hal ini tentu menggambarkan tingginya tingkat kepedulian sosial Laks di tengah-tengah padat-merayapnya aktivitas akademik maupun nonakademik yang ia lakukan. Lalu bagaimana perjalanan Laks selengkapnya? Yuk, simak liputan berikut ini.

 

Tak hanya submisi dan presentasi, Pilmapres Nasional juga uji peserta untuk mengadili kasus dan berpikir kritis terkait isu kemanusiaan

Pilmapres universitas dan nasional memiliki kesamaan, yakni submisi dan presentasi karya tulis ilmiah, tes pidato berbahasa Inggris, dan tes psikologi berupa Leader Group Discussion (LGD). Hanya saja, di event Pilmapres Nasional lebih kompleks. Terdapat tes wawasan kenegaraan yang berisi skenario apabila kita menjadi pemegang palu hakim dalam mengadili sesuatu. Contohnya, “Apakah negara dijustifikasi untuk memaksa relokasi WNI (Warga Negara Indonesia) yang bertempat tinggal di bantaran sungai?”. LGD di event Pilmapres Nasional juga lebih kompleks karena menyangkut isu kemanusiaan, seperti apa yang harus dilakukan apabila kita melihat tiga anak yang tenggelam ke dalam laut, anak mana yang harus diselamatkan terlebih dahulu sesuai skenario yang dipaparkan.

 

Laks manfaatkan ajang Pilmapres Nasional untuk mengembangkan diri dan membangun koneksi

Event Pilmapres Nasional dipenuhi dengan cendekiawan yang tidak hanya penuh dengan penghargaan, tetapi juga aktivis sosial. Maka sejak awal saya meniatkan diri untuk mengikuti ini sebagai proses pengembangan diri, membangun koneksi dengan calon peneliti mumpuni hingga negarawan.

 

Kepribadian, keseharian, dan keterlibatan aktif Laks hingga berhasil sabet kategori “The Most Inspiring Student”

Kategori ini (The Most Inspiring Student) ditentukan oleh rapat dewan juri yang tidak saya ketahui langsung kriterianya. Pada praktiknya, saya menduga juara kategori yang baru digagas tahun ini adalah dengan mengobservasi perilaku finalis di sosial media, keseharian, hingga saat tes wawancara.

– Kegigihan –

Saya menduga beberapa faktor seperti kegigihan saya saat tidak mendapat pendanaan untuk mengikuti beberapa lomba dan conference di Malaysia tetapi tetap mencari uang secara independen menjadi pertimbangan.

– Keterlibatan dalam aktivisme sosial –

Saya juga menduga keterlibatan saya dalam aktivisme sosial dengan berceramah sebagai mubalig progresif yang membawa isu gender, sains, dan lingkungan di masjid-masjid menjadi sesuatu yang unik dan jarang dilakukan kebanyakan mahasiswa sekarang.

– Usaha dalam pemenuhan finansial hingga disebut sebagai altruis menginspirasi  –

Saya juga menduga keaktifan saya dalam mencari pemenuhan finansial dengan menjadi teknisi laptop dan komputer serta menjadi translator murah bagi pergerakan riset mahasiswa menjadi acuan kenapa saya dapat disebut sebagai individu altruis yang menginspirasi.

– Video profil “Every single second matters” –

Mungkin semua itu juga karena video profil saya yang berjudul “Every single second matters (setiap detik adalah berharga)” mencerminkan pentingnya menjadi pribadi yang berguna bagi sesama, mengingat waktu kita hidup di dunia semakin sempit.

– Proyek influential –

Terlepas dari itu, masih banyak proyek influential seperti Podcast (Lak’s Talk), social-program dari Markas Prestasi yang saya pegang bersama penghuni, hingga kampanye online YouTube (Wimpy Laks).

 

Laks gagas berbagai program yang tujuan utama kesemuanya ialah aktivitas sosial, harapannya dapat berlanjut dan menginspirasi banyak orang

Saya sudah mulai merencanakan kolaborasi proyek Startup untuk penyejahteraan pengepul sampah dengan Mawapres Telkom University – Firza dan membuat rekaman Podcast untuk membahas isu sosial, teknologi, budaya di channel Spotify/iTunes bernama “Lak’s Talk/Imapres Podcast”. Saya bersama Septiana (Mawapres Diploma 2019 UM)  juga mulai merancang Episode 2 Inkubator Karya Ilmiah di mana setiap civitas akademika terpilih dapat mempresentasikan karyanya di hadapan publik untuk mendapatkan saran, kucuran dana hibah dari amal audience. Termasuk pula pengajaran Bahasa Inggris gratis bagi mahasiswa, bekerja sama dengan FMIPA. Saya harap dari sekian program yang sudah saya gagas dapat memiliki keberlanjutan dan dapat menginspirasi banyak orang untuk ikut berpartisipasi.

 

Momen berkesan Laks saat ia menyuarakan perihal keberlanjutan Bidikmisi saat pidato penganugerahan mahasiswa inspiratif

Momen berkesan muncul saat dapat menyuarakan concern saya perihal rencana penghapusan atau penggantian program Bidikmisi di hadapan Direktur Jenderal Kemahasiswaan Kemenristekdikti, sosok yang menentukan kebijakan Bidikmisi ke depan. Pada saat pidato penganugerahan mahasiswa inspiratif, saya diminta berpidato dan saya sisipkan penolakan saya terhadap rencana itu. Petisi online tidak akan mengubah keadaan dan tidak ter-blow up di media. Setidaknya saat saya disorot kamera, pesan saya dapat didengar pihak Dirjen Belmawa dan aktor penting lainnya di Kemenristekdikti.

Penolakan saya bernarasi bahwa Bidikmisi adalah forum pengembangan individu, bukan sekadar beasiswa. Saya takut kalau Bidikmisi dihapus, universitas hanya akan didominasi oleh masyarakat yang telah memiliki priviledge materi dan posisi sejak awal.

 

Sudah tahu kan bagaimana perjalanan Laks hingga penganugerahan? Nah, semoga senantiasa menginspirasi ya. Mahasiswa Bidikmisi memiliki kesempatan sukses yang sama dengan mahasiswa lainnya. Bahkan ia selalu tahu jalan menuju berbagai gerbang kesuksesan. Hanya saja harus ia sendiri yang membuka gembok dari gerbang kesuksesan tersebut. Kunci yang harus ia masukkan dalam gembok ialah bersumber dari gerak tangan, pikiran, dan kemantapan hatinya. Laks telah membuktikan bahwa Bidikmisi mampu menjadikan ia sebagai aktivis sosial dengan berbagai gagasan dan proyek nyata yang menebar kebermanfaatan bagi orang banyak. Laks telah membuktikan dengan caranya sendiri. Semoga semakin banyak Mahasiswa Bidikmisi, khususnya di Universitas Negeri Malang yang senantiasa berprestasi tiada henti.

 

Reporter          : Amanatul Haqqil Ibad

Editor              : Nadya Erawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *