Liga Bangsa-Bangsa (LBB): Keberhasilan yang Pernah Dicapai

Liga Bangsa-Bangsa (LBB): KEBERHASILAN YANG PERNAH DICAPAI

Uskuri Lailal Munna

Program Studi Pendidikan Sejarah

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

uskurilaila@gmail.com

Abstrak: Liga Bangsa-Bangsa atau disingkat LBB merupakan sebuah organisasi internasional yang dibentuk dengan tugas berupa menjaga perdamaian dunia internasional, melenyapkan perang, mengadakan diplomasi secara terbuka, dan menaati hukum internasional maupun perjanjian internasional yang dibentuk setelah berakhirnya Perang Dunia I. Semasa bertugas, ada beberapa keberhasilan-keberhasilan yang pernah dicapai oleh LBB, meskipun akhirnya LBB harus dibubarkan karena gagal dalam menjalankan tugasnya.

Kata Kunci: LBB, gagal, keberhasilan-keberhasilan, tugas.

 

Abstract: The League of Nations or abbreviated LBB is an international organization that is formed with the task of maintaining international peace, eliminating war, conducting diplomacy openly, and obeying international law and international agreements formed after the end of World War I. During his duty , there are some successes that have been achieved by the LBB, although eventually the LBB must be dissolved because it failed in carrying out its duties.

Keywords: LBB, failed, assignments, successes.

 

Dengan diadakannya perjanjian Perdamaian Versailles pada tahun 1919, menandakan bahwa Perang Dunia I telah berakhir. Hal tersebut kemudian disusul dengan dibentuknya organisasi internasional yaitu Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Organisasi LBB dibentuk pada tanggal 10 Januari 1920. Organisasi ini dibentuk atas usulan dari seorang tokoh penting dari Amerika Serikat yaitu Presiden Woodrow Wilson. Organisasi ini sendiri bekedudukan atau bermarkas di Jenewa, Swiss.

Dalam mendirikan organisasi ini, Presiden Wilson merumuskan 14 butir/pasal pikirannya. Keempat belas pasal tersebut sebelumnya telah didiskusikan dengan negara sekutu dan diterima sebagai bukti atau dasar dari perdamaian yang telah disepakati bersama.

Menurut Siboro (2012:79), bahwa 14 pasal buah pikiran Presiden Wilson (Wilson’s Fourteen Points) tersebut tidak dapat dikatakan buah pikiran yang sempurna tanpa ada yang dapat diperdebatkan. Harus diakui, bahwa pandangan dan tuntutan Wilson tentang penyelesaian Perang Dunia I khususnya negarawan-negarawan dari pihak sekutu.

Hubungan internasional di antara negara-negara di dunia telah membawa banyak perubahan ke arah yang lebih positif. Kerja sama secara bilateral maupun multilateral yang memberikan jaminan terhadap kepentingan, membuat hubungan antarnegara menjadi semakin pesat (Mulyana & Handayani, 201: 247). Dari konsepsi tersebut dengan dibentuknya organisasi LBB, apa yang diharapkan untuk keamanan dan kesejahteraan dunia benar-benar tercapai.

Keberhasilan yang Pernah Diraih LBB.

Keberagaman merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan pergesekan-pergesekan dalam masyarakat. Untuk menghindari pergesekan atau pergolakan seperti sebelumnya yang memungkinkan terjadinya perpecahan dalam masyarakat global, maka pada tahun 1919 dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa (LBB) untuk membantu menjaga perdamaian dunia (Pertiwi, 2019).

Dapat diketahui dalam pembentukan organisasi LBB ini, Presiden Wilson bersama negara-negara sekutu melakukan banyak perjanjian sebagai bentuk bukti perdamaian mereka yaitu berupa perjanjian perdamaian pertama (Perjanjian Versailles) yang ditandatangani pada tanggal 28 Juni 1919 dan perjanjian terakhir (Perjanjian Sevres) yang ditandatangani pada bulan Agustus 1920 (Siboro, 2012:81). Dalam perjanjian-perjanjian tersebut, Wilson berupaya untuk meyakinkan kepada semua pihak akan pentingnya pembentukan organisasi LBB guna menjamin perdamaian dan keadilan.

Organisasi ini sendiri pada dasarnya tidaklah dibentuk dengan maksud sebagai pemerintahan nasional ataupun sebuah parlemen dunia, melainkan sebuah organisasi yang dibentuk guna mengembangkan kerja sama antar negara-negara dalam menjaga perdamaian. Menurut Easton dalam Siboro (2012), tujuan dibentuknya LBB yang dijelaskan dalam piagam pendirian (Covenant) yaitu “…to promote international cooperation and to achieve international peace and security by the acceptance of obligations not to resort to war…”, (Terjemahannya: “…meningkatkan kerja sama internasional dan mencapai perdamaian dan keamanan international dengan penerimaan kewajiban untuk tidak menempuh jalan perang…”).

Dalam melaksanakan tugasnya, LBB pernah mencapai keberhasilan-keberhasilan. Keberhasilannya dalam mengatasi maupun menyelesaikan masalah yang berupa (Pramuatmaja, 2012):

  1. Menyelesaikan persengketaan-persengketaan kecil, misalnya di Silesia Hulu. Wilayah yang semula menjadi sengketa antara Jerman dan Polandia tersebut akhirnya menjadi milik Polandia.
  2. Menyelesaikan daerah-daerah mandat. Daerah ini perwaliannya diserahkan kepada negara tertentu untuk kemudian satu demi satu diberi pemerintahan sendiri.
  3. Menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat darurat, misalnya membangun kembali perekonomian Eropa yang hancur dalam masa antarbellum (antarperang).

Sedangkan persoalan-persoalan yang mampu ditangani LBB yaitu (Najmiatun, 2014):

  1. Diadakan berbagai konferensi internasional yang sangat bermanfaat baik mengenai masalah ekonomi, perdagangan maupun kesehatan.
  2. Di bidang pembinaan liga berhasil mengumpulkan, mendaftar, menyusun, dan mengumumkan perjanjian-perjanjian internasional.
  3. Di bidang kemanusiaan liga berhasil memberi bantuan kepada para korban perang, menggulangi perdagangan wanita dan anak-anak.

Bentuk bukti dari hasil-hasil yang telah dicapai oleh LBB yaitu:

a.) Masalah Kepulauan Aland, Finlandia.

Permasalahan yang pernah terjadi di Kepulauan Aland ini pernah diselesaikan oleh LBB. Permasalahan ini bermula ketika yang awalnya penduduk yang bertempat tinggal di Kepulauan Aland ini adalah sebagian besar dari bangsa Swedia. Namun, di sini penduduk dari bangsa Swedia tersebut ingin bergabung dengan Swedia atas nama Kepulauan Aland. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, LBB akhirnya mengambil keputusan bahwa Kepulauan Aland tetaplah daerah bagian Finlandia dengan status otonomi.

b.) Masalah Wina, Lithuania.

Wina sendiri merupakan ibu kota dari Lithuania. Pada tahun 1918 Wina pernah direbut oleh Rusia. Di sini, Lithuania meminta bantuan dari Negara Polandia untuk mengusir Rusia. Akhirnya Rusia berhasil diusir oleh kedua negara tersebut. Namun, tak disangka Polandia malah mengambil alih kekuasaan di Wina. Lithuania yang merasa dikhianati oleh Polandia, melaporkan masalah tersebut kepada LBB. Namun, LBB tidak mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa LBB gagal dalam melaksanakan tugasnya karena tidak mampu bertindak tegas pada Polandia.

c.) Masalah Mosul, Turki.

Permasalahan ini timbul ketika Turki dengan Mesopotamia menentukan batas antara keduanya. Mesopotamia sendiri setelah Perang Dunia I menjadi wilayah mandat dari Negara Inggris. Di sini, Turki dengan Inggris mengalami perselisihan, karena Turki menginginkan Mosul untuk menjadi daerahnya. Akan tetapi Mosul telah menjadi daerah mandat Inggris. Meskipun penduduk Mosul sendiri ingin bergabung dengan Turki, namun LBB memutuskan bahwa Mosul tetaplah daerah milik Inggris. Dari sini, dapat diketahui bahwa LBB mulai menjadi alat dari negara-negara besar.

d.) Masalah Manchuria, Cina.

Pada tahun 1931 Manchuria pernah diduduki oleh Jepang. Manchuria sendiri merupakan daerah yang ada di Cina. Jepang menduduki daerah tersebut beralasan untuk menegakkan keamanan dan ketertiban akibat kekacauan yang ditimbukal oleh para bandit Cina. Manchuria sendiri di sini dijadikan Jepang sebagai daerah merdeka di bawah kekuasaan Kaisar Pu-Yi. Cina melakukan protes pada LBB, meminta agar Jepang mengembalikan Manchuria pada Cina. Jepang yang tidak mau mengembalikan daerah tersebut kepada Cina, akhirnya pada tahun 1933 resmi keluar dari keanggotaan LBB. Di sini LBB sekali lagi tidak berbuat apa-apa.

e.) Masalah Abessynia, Ethiopia.

Pada tahun 1935, Abessynia pernah diserang oleh Italia. Abessynia sendiri merupakan anggota dari LBB. Atas serangan yang dilakukan oleh Italia tersebut, Kaisar Haile Selassi dari Abessynia melakukan protes kepada LBB. LBB akhirnya menetapkan Italia sebagai negara agresor (negara yang menyerang pihak lain) dan memberikan sanksi-sanksi ekonomi pada Italia. Namun, di sini Italia bahkan tidak memedulikan sanksi yang diberikan kepada mereka sama sekali dan keluar dari keanggotaan LBB pada tahun 1937. Sekali lagi LBB tidak berbuat apa-apa atas konflik tersebut.

Dari beberapa keberhasilan yang telah dicapai oleh LBB, ternyata tugas yang harus dilaksanakannya belum sepenuhnya berhasil yang pada akhirnya perang dunia kembali terjadi.

Simpulan.

LBB merupakan sebuah organisasi yang dibentuk pasca Perang Dunia I untuk tujuan yang paling utama yaitu menjaga perdamaian dunia. LBB pada dasarnya merupakan organisasi yang dibentuk juga untuk mengembangkan kerja sama dengan negara-negara lainnya, karena organisasi ini sendiri dibentuk bukan untuk sebagai pemerintah nasional ataupun sebuah parlemen dunia. Semasa mengemban tugas, LBB juga banyak mencapai keberhasilan-keberhasilan, namun keberhasilan tersebut harus diruntuhkan oleh gagalnya LBB pada saat itu juga dalam mengatasi maupun menjalankan tugasnya.

Daftar Rujukan

 

Mulyana, I. & Handayani, I. 2015. Peran Organisasi Regional dalam Pemeliharaan Perdamaian dan Keamanan Internasional dalam Jurnal Cita Hukum, 3 (2), 247-268.

Najmiatun, A. 2014. Liga Bangsa-Bangsa. Dari https://www.academia.edu/11314243/Liga_Bangsa-_Bangsa.

Pertiwi, N. D. 2019. Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. Dari https://www.researchgate.net/publication/330279022_Peran_Indonesia_dalamPerdamaian_Dunia.

Pramuatmaja, E. 2012. Pengenalan Liga Bangsa-Bangsa. Dari https://www.academia.edu/7804755/Liga_Bangsa-Bangsa.

Siboro, J. 2012. Sejarah Eropa: Dari Masa Menjelang Perang Dunia 1 Sampai Masa Antarbellum. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *