Mahasiswa Bidikmisi Boyong Gelar Tiga Besar Mawapres UM

Formadiksi UM News — Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat nasional sudah berlangsung sejak 2004 dan terbukti telah memberikan banyak dampak positif. Keberlangsungan ajang Pilmapres tentu perlu dipertahankan dalam rangka memberikan motivasi berprestasi di kalangan mahasiswa dan menciptakan iklim akademik yang kondusif. Para peserta Pilmapres tingkat nasional berasal dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia. Mereka adalah mahasiswa terpilih yang sebelumnya telah berhasil membuktikan diri sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) di Perguruan Tingginya masing-masing. Oleh karena itu, Pilmapres tingkat Perguruan Tinggi juga menjadi ajang yang tak kalah menarik untuk diperbincangkan, termasuk Pilmapres Universitas Negeri Malang (UM) 2020.

Setelah serangkaian proses penilaian dalam Pilmapres UM 2020 selesai, posisi tiga besar sebagai Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Malang (Mawapres UM) 2020 pun diumumkan. Austin Fascal Iskandar, mahasiswa S1 Jurusan Teknik Elektro 2017, Fakultas Teknik dinyatakan sebagai juara pertama sedangkan Ari Gunawan, mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran 2017, Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi juara kedua, dan Sofia Ari Murti, mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris 2017, Fakultas Sastra menempati posisi ketiga. Ketiganya merupakan mahasiswa penerima Bidikmisi UM. Mau tahu lebih lanjut? Reporter Formadiksi UM News berkesempatan melakukan wawancara bersama Austin dan Sofia tentang kisah mereka selama mengikuti Pilmapres UM 2020. Yuk simak bersama!

Alasan Utama

“Hal yang membuat saya tertarik untuk mengikuti ajang Pilmapres UM 2020 ini yaitu semangat untuk berkarya. Saya ingin memperluas wawasan dan sudut pandang, menambah relasi baru, serta mencari pengalaman. Menjadi Mawapres merupakan salah satu cara untuk saya dapat mengembangkan diri karena saya ingin mendorong sekaligus meningkatkan potensi yang saya miliki, serta mencoba berbagai hal baru,” ungkap Austin selaku Mawapres Utama UM tahun ini.

Selaras dengan Austin, Sofia juga mengungkapkan alasannya mengikuti Pilmapres UM 2020. Ia ingin menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain terutama dalam hal berbagi ilmu. Namun, ada alasan menarik yang melatarbelakangi keikutsertaan Sofia dalam Pilmapres UM 2020.
“Tahun lalu, saya menempati posisi ke-3 Mawapres Fakultas Sastra 2019. Kemudian, ketika melanjutkan perjuangan ke ajang Mawapres tingkat universitas, saya harus berpuas diri dengan menempati posisi ke-5 Mawapres UM 2019. Oleh sebab itu, saya merasa tertantang untuk kembali mengikuti ajang Pilmapres UM tahun ini. Saya berpikir, apabila tahun lalu sudah bisa meraih posisi lima besar, insyaallah tahun ini saya targetkan untuk bisa mencapai posisi tiga besar. Di samping itu, menjadi Mawapres UM sudah menjadi mimpi saya sejak masih menjadi mahasiswa baru (maba),” ungkapnya.

Tantangan yang Dihadapi

“Kalau saya coba bandingkan antara Pilmapres tahun lalu dengan tahun ini, Pilmapres UM 2020 kali ini memang lebih menantang dan memunculkan banyak ‘drama’ bagi saya secara pribadi. Tahun lalu ketika ajang Pilmapres UM diadakan pada Februari 2019, saya sudah mempersiapkan diri sejak November 2018. Tahun ini waktu saya untuk bersiap mengikuti Pilmapres UM 2020 terbilang mepet, apalagi karya tulis ilmiah yang saya angkat bersifat spesifik,” tutur Sofia.

Serupa dengan apa yang disampaikan oleh Sofia, Austin juga merasakan hal yang sama di mana ia harus berjuang untuk menyusun karya tulis ilmiah miliknya. Bahkan, di tengah masa karantina Pilmapres UM 2020, dirinya sempat jatuh sakit karena terserang demam berdarah.

“Tantangan terbesar bagi saya dalam Pilmapres UM 2020 adalah ketika saya harus belajar untuk menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan benar. Saya sangat berterima kasih kepada para dosen dan para sahabat dari berbagai latar belakang yang berbeda. Berkat bimbingan mereka, saya dapat menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan benar. Selain itu, ketika masa karantina peserta, saya sempat jatuh sakit karena terserang demam berdarah. Berkat bantuan dari orang tua dan para sahabat, sakit yang saya derita tidak berlangsung lama dan saya bersyukur bisa segera mengejar ketertinggalan dalam proses karantina,” tutur Austin.

Perasaan yang Muncul

“Awalnya saya sempat merasa ragu untuk mengikuti Pilmapres UM 2020. Namun, tak berselang lama, saya mencoba untuk kembali optimis dan percaya diri. Meskipun saya merasa bahwa prestasi yang saya miliki tidak sebanyak teman-teman saya yang lain, perasaan seperti itu saya tepis dengan selalu mengingat kembali apa motivasi dan tujuan awal saya dalam mengikuti ajang ini,” ungkap Austin.

Meskipun mencoba untuk terus optimis dan percaya diri, Austin tak mengelak bahwa beberapa hal juga dapat membuat suasana hatinya menjadi buruk. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hal tersebut.
“Nah, ketika kondisi saya sedang drop dan mood saya tidak terkendali, saya mencoba mengatasinya dengan menghubungi orang tua saya untuk meminta doa restu. Saya sadar, saya juga perlu me-refresh pikiran saya. Oleh karena itu, saya juga menyempatkan diri untuk sekadar berjalan-jalan, membeli es krim atau menonton film sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada diri saya sendiri karena sudah bertahan di masa-masa sulit. Bersyukur juga menjadi cara saya untuk menghibur diri, sebisa mungkin stay positive, dan bahagia dengan tidak berkeluh kesah. Nikmati setiap proses yang dijalani,” imbuhnya.

Sedikit berbeda dengan perasaan yang diungkapkan oleh Austin, Sofia yang mengikuti Pilmapres UM untuk kali kedua pada tahun ini, mengaku bahwa dirinya merasa insecure.

“Mungkin karena tahun ini Pilmapres UM yang saya ikuti merupakan kali kedua, jadi ada sedikit beban tersendiri bagi saya. Tahun ini saya merasa lebih insecure dalam memandang ketatnya persaingan. Potensi para peserta Pilmapres UM 2020 memang lebih bagus dan hebat pada tahun ini. Semua tahap penilaian yang saya lalui juga selalu sukses membuat jantung saya berdebar,” ungkap Sofia.

“Menurut saya, apabila kita sudah memiliki persiapan yang matang, kita tidak perlu khawatir. Saya melayakkan diri untuk mengikuti ajang ini dengan melakukan banyak persiapan. Saya pribadi mempersiapkan diri dengan banyak membaca. Terutama bacaan seputar isu dan berita terkini. Begitu pula dalam mempersiapkan tahap presentasi. Sudah tak terhitung berapa banyak saya berlatih. Saya juga memperhatikan asupan makanan untuk tubuh saya. Saya menyadari bahwa perasaan insecurity muncul bukan hanya karena melihat kompetitor yang dirasa lebih unggul tetapi juga dapat muncul karena diri sendiri yang memang tidak bersiap,” tambahnya.

Saat Pengumuman

”Ketika mendekati waktu pengumuman pada akhir Maret 2020, pandemi korona meluas di masyarakat. Hal tersebut membuat saya dan para peserta lain harus bersabar untuk kembali menunggu karena pengumuman Mawapres UM 2020 ditunda sampai Mei 2020. Bayangkan, bagaimana perasaan saya ketika harus kembali menunggu hasil pengumuman selama masa penundaan yang hampir memakan waktu dua bulan lamanya. Namun, tentu saja semua ada hikmahnya. Hal tersebut membuat saya memiliki waktu untuk lebih banyak berdoa. Apalagi bulan ini adalah bulan Ramadan di mana umat Islam percaya bahwa doa yang dipanjatkan di bulan ini, insyaallah akan dijabah oleh Allah. Saya selalu berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk Pilmapres UM 2020. Ketika akhirnya diumumkan bahwa saya menjadi Mawapres UM 2020 dengan menempati posisi ke-3, saya senang sekali. Akhirnya mimpi saya terwujud dan saya bisa memberikan yang terbaik,” tutur Sofia.

Rasa bahagia yang diungkapkan Sofia juga selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Austin. Ketika sebelumnya mengalami kegagalan pada Pilmapres UM tahun lalu, Austin berhasil bangkit dan bahkan membuktikan diri sebagai Mawapres UM yang terbaik di tahun ini.

“Alhamdulillah, setelah mengalami kegagalan pada seleksi Pilmapres tahun lalu, saya merasa bersyukur dan senang bisa meraih posisi utama dalam Mawapres UM 2020. Speechless! Saya semakin bahagia ketika melihat senyuman dari orang tua saya atas pencapaian yang telah saya raih. Menjadi Mawapres UM merupakan sebuah amanah yang penting untuk saya emban dengan sebaik mungkin agar mampu memberikan manfaat bagi sesama. Di samping itu, saya juga dituntut untuk maju ke Pilmapres 2020 tingkat nasional yang menjadi sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan bagi saya,” tutur Austin.

Kesan dan Pesan

“Setelah mengikuti Pilmapres UM 2020 dan diamanahi sebagai Mawapres UM 2020, saya merasa perlu untuk menekankan beberapa prinsip penting. Pertama, saya menjadikan ajang Pilmapres ini sebagai kesempatan untuk menjalin pertemanan yang lebih luas karena connection is the key to success. Jangan takut untuk bergaul dengan siapapun tentunya dengan orang-orang yang bisa memberikan dampak positif bagi masa depan kita. Kedua, pegang teguh prinsip untuk terus berbagi ilmu. Berbagi ilmu yang dimiliki tentu akan sangat bermanfaat. Terakhir, miliki pola pikir yang terus berkembang dan terbuka terhadap berbagai masukan. Hilangkan rasa egois dalam diri,” tutur Austin.

“Dari Pilmapres UM, saya menyadari bahwa kepintaran saja tidak cukup untuk menjadi seorang Mawapres. Aspek penilaian tidak hanya dilihat dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), sertifikat yang dimiliki, dan prestasi sejenisnya. Ada faktor yang lebih penting dari semua itu, yaitu sikap atau attitude. Sikap ini meliputi apa yang kita rasakan, bagaimana kita bertindak, tutur kata kita, dan cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Kepribadian kita sangat penting dan diutamakan di dalam penilaian. Selain itu, yang juga tidak kalah penting untuk menjadi seorang Mawapres adalah bagaimana cara kita menunjukkan kepemimpinan kita di dalam masyarakat dan memberikan kontribusi tersebut,” tutur Sofia yang sudah memperoleh banyak pengalaman dari Pilmapres UM selama dua tahun berturut-turut.

Tak lupa, mereka juga menyampaikan beberapa pesan untuk mahasiswa lain, terutama mahasiswa penerima Bidikmisi.

“Bidikmisi, Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, maupun bantuan biaya pendidikan lainnya, merupakan sebuah amanah. Ketika kita mendapatkan bantuan tersebut maka kita berhutang kepada negara atau pihak yang memberikan bantuan itu. Nah, untuk membayar hutang itu, apa sih yang bisa kita lakukan? Cukup dengan tekun belajar dan meraih nilai yang baik. Sangat sederhana bukan? Justru sebagai mahasiswa, hal tersebut sudah sewajarnya untuk kita lakukan. Manfaatkan dana Bidikmisi semaksimal mungkin dan jadilah mahasiswa yang berprestasi. Namun ingat, jangan menjadikan prestasi orang lain sebagai tolak ukur prestasi kita, tetapi ciptakanlah prestasi kita sendiri. Setelah bisa menghasilkan prestasi, jangan lupa untuk berbagi tentang apa yang sudah kita dapatkan kepada orang lain agar ilmu yang kita miliki dapat bermanfaat dan ditambahkan oleh-Nya,” tutup Sofia.

“Kerja keras, kerja cerdas, dan berusaha sebaik mungkin untuk meraih impian. Sesuaikan kerja kita dengan passion yang dimiliki. Tekuni passion dan tetaplah bertahan walau harus mengalami masa sulit. Jangan pernah takut untuk gagal, keluarlah dari zona nyaman untuk mulai mencoba hal baru dan berkarya. Kita harus yakin dan percaya diri. Satu hal yang paling penting, jangan lupa untuk mengimbangi semuanya dengan tetap berdoa. Doa tanpa usaha adalah kebohongan dan usaha tanpa doa adalah kesombongan. Semoga kita semua dapat meraih impian-impian kita. Do good, do better,” tutup Austin.

Reporter : Syani Yemima Syahrul
Editor : Chantika Putri Ana

2 thoughts on “Mahasiswa Bidikmisi Boyong Gelar Tiga Besar Mawapres UM”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *