Memaknai Lebih Dalam Hari Pahlawan Bersama Dr. Mu’arifin, M.Pd.

MALANG, Formadiksi UM News – “Aku Pahlawan UM” menjadi kalimat terkutip dalam penyampaian amanat Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. A. H. Rofi’uddin, M.Pd. selaku Pembina Upacara Peringatan Hari Pahlawan tahun 2019 di Universitas Negeri Malang, Senin (11/11/2019). Kalimat terkutip tersebut merupakan perpanjangan dari tema Hari Pahlawan tahun 2019, yakni “Aku Pahlawan Masa Kini”. Upacara dilaksanakan di Lapangan Graha Rektorat Universitas Negeri Malang sejak pukul 07.15 WIB sampai 08.00 WIB. Upacara diikuti oleh seluruh civitas akademika Universitas Negeri Malang, termasuk mahasiswa yang diwakili oleh Mahasiswa Bidikmisi angkatan 2019 dan Pengurus Forum Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang (Formadiksi UM).

Menilik beberapa poin penting dalam amanat upacara yang disampaikan oleh Prof. Dr. A. H. Rofi’uddin, M.Pd. tersebut, Reporter Formadiksi UM News berkesempatan untuk mengulik lebih dalam lagi poin-poin tersebut melalui wawancara langsung dengan Dr. Mu’arifin, M.Pd. selaku Wakil Rektor III Universitas Negeri Malang. Apa saja hasil tilik wawancara kali ini? Apa kaitan hikmah kepahlawanan dengan kegiatan akademik mahasiswa? Apa makna lebih dalam dari tagline “Aku Pahlawan Masa Kini” pada tema peringatan Hari Pahlawan tahun ini? Nah, langsung check it out ya!
Foto wawancara Reporter Formadiksi UM News dengan Dr. Mu’arifin, M.Pd., Wakil Rektor III Universitas Negeri Malang.

Terdapat hikmah-hikmah di balik sebuah peringatan, termasuk peringatan Hari Pahlawan

Yang namanya peringatan itu kan kita mengingat kembali. Semua ceremonial yang nuansanya peringatan itu untuk mengingat kembali, bahwa kita jangan lupa 10 November itu adalah peristiwa dalam rangka hari pahlawan. Mempertahankan kemerdekaan, mempertahankan harga diri di bawah tekanan dari “lawan yang nampaknya lebih besar”, sedangkan kemampuan kita kecil. Akan tetapi karena tekadnya sudah bulat, akhirnya kita bisa mempertahankan. Itu artinya apa? Dalam hal peringatan itu ada hikmah-hikmah yang nampaknya penting untuk kita hayati, untuk kita pahami sebab sekaligus untuk modal kita untuk menjalankan sesuai dengan hikmah itu tadi.

Upacara peringatan Hari Pahlawan merupakan salah satu sarana untuk membangkitkan kembali daya juang dalam mencapai suatu tujuan

Value-nya adalah value kepahlawanan. Value kepahlawanan antara lain daya juang, effort, berusaha keras apapun yang terjadi, karena tujuannya jelas pada konteks 10 November itu mempertahankan kemerdekaan. Nah, konteks kekiniannya berbeda. Anda (mahasiswa) tujuannya mempertahankan niat Anda dalam rangka mencapai tujuan hidup Anda. Anda adalah pahlawan diri Anda sendiri yang akan nampak pada effort Anda. Nah itu, Mahasiswa Bidikmisi kelihatannya memiliki kelebihan dalam hal itu. Di balik, di samping punya kelemahan dalam hal yang lain, tetapi di semuanya memiliki kelebihan-kelebihan. Nah itu dimiliki oleh semua Mahasiswa Bidikmisi. Kenapa kami mengundang Anda? Ini dalam rangka membangkitkan kembali effort, membangkitkan kembali daya juang, mencapai etos kerja kita, mencapai tujuan Anda. Anda ke sini tujuannya apa? Menyelesaikan studi, menjadi mahasiswa yang cerdas dan kompetitif..

Pahlawan masa kini dalam tagline “Aku Pahlawan Masa Kini”, yakni pahlawan yang peka terhadap dinamika, ruang, dan waktu

(Yang perlu dipahami) kepahlawanan itu peka terhadap ruang dan waktu. Artinya harus sensitif terhadap dinamika yang terjadi. Pahlawan zaman dulu itu mungkin karakternya berbeda dengan pahlawan zaman sekarang. Temanya kan “Aku Pahlawan Masa Kini”, ‘kini’ kan berbasis waktu, ruangnya di Indonesia, waktunya milenial sekarang ini. Oleh karena itu, mari kita ciptakan pahlawan-pahlawan yang sesuai dengan zamannya. Pahlawan yang sesuai dengan zamannya adalah pahlawan yang peka terhadap dinamika, pahlawan yang peka terhadap kebutuhan saat ini, bukan kebutuhan kemarin, bahkan kemungkinan kebutuhan nanti sudah kita antisipasi saat ini. Itulah pahlawan-pahlawan yang sesuai dengan zamannya.

Pahlawan masa kini adalah pahlawan yang bisa memimpin dirinya sendiri maupun orang lain

Pahlawan kita itu tidak harus seorang pemimpin yang memimpin orang lain. Terhadap diri sendiri kan juga harus bisa memimpin. Kita punya panca indra, itu harus kita pimpin. Kita harus jadi pahlawan untuk diri kita sendiri. Artinya apa? Mampu kah kita mengendalikan apa yang kita punya untuk kita fokuskan dalam pencapaian tujuan kita tadi itu? Niat mencapai tujuan. Karena ada orang yang tidak bisa mengendalikan diri, sehingga maunya mencapai tujuan dikarenakan ada pola pikir, pola sikap, pola tindak yang salah, yang menyimpang, akhirnya tidak bisa mengendalikan diri. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, apa yang terjadi? Kemungkinan  besar adalah tidak efektif, artinya apa? Tujuannya tidak tercapai. Kalau toh tujuannya tercapai, tidak efisien. Sudah membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang banyak. Harapannya, pahlawan masa kini adalah pahlawan yang bisa memimpin dirinya sendiri dan memimpin orang lain. Memimpin dirinya sendiri adalah dalam rangka memfokuskan dirinya sendiri agar giat bekerja, semangat bekerja, pantang menyerah dalam rangka mencapai tujuan sehingga kegiatan yang dilakukan bisa berjalan dengan efektif dan efisien, termasuk saat memimpin orang lain.

Makna akademik di balik ungkapan Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Secara akademik itu maunya hari ini adalah merupakan dari rujukan hari kemarin. Dalam konteks historis kan begitu. Kita belajar sejarah itu dalam rangka apa? Mempelajari peristiwa-peristiwa yang lalu dalam rangka untuk mengerti values apa yang penting, sehingga harapannya adalah agar hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin dengan melihat peristiwa-peristiwa yang kemarin.

Penting untuk selalu belajar agar tidak terperosok dalam lubang yang sama, supaya hidup menjadi lebih baik

Saya yakin adik-adik juga paham ya, kita sudah mengalami berbagai peristiwa. Kita cari hikmahnya, yang jelek ayo kita perbaiki. Peristiwa yang baik, harus kita lebih baiki lagi. Jangan sampai mengulang sesuatu yang jelek sebanyak dua kali. Wong keledai saja tidak akan terperosok pada lubang yang sama sebanyak dua kali, apalagi kita yang punya daya nalar, hati nurani yang bagus. Saya pikir dalam konteks historis seperti itu. Mempelajari peristiwa-peristiwa yang kemarin dalam rangka untuk membuat hidup ini lebih baik. Kemudian kita bisa menyiapkan kebutuhan-kebutuhan di masa yang akan datang.

Suatu tujuan harus dibarengi dengan pengamalan nilai-nilai dan hikmah-hikmah kepahlawanan

Dengan momentum pahlawan, saya pikir kita sudah tau ada nilai-nilai baik yang bisa kita pelajari dari kepahlawanan, peristiwa 10 November dan lain sebagainya sehingga kita bisa ambil hikmahnya. Nilai-nilai yang masih relevan, ayo kita pakai terus dalam rangka mencapai tujuan kita masing-masing, seperti tadi tujuan Anda sebagai pribadi maupun sebagai komunitas. Tujuan Anda sebagai individu, merambah ke yang lebih luas seperti organisasi, kemudian juga harus ingat bahwa ada yang lebih luas, yakni Anda sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Reporter          : Zainur Roziqin

Editor              : Nadya Erawati dan Nanda Ayu Luthfi Khofifah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *