Menengok ke Belakang: Kisah Inspiratif Lulusan Terbaik Nonakademik Wisuda 98

Formadiksi UM News – Gagal acap kali dipandang sebagai suatu ketidakberhasilan. Gagal juga selalu berpotensi untuk diungkit-ungkit sebagai suatu kesalahan dan menenggelamkan ‘pejuang’ dalam keterpurukan. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Anton, Anton Agus Setiawan, Wisudawan Terbaik Nonakademik Wisuda 98 Universitas Negeri Malang. Begitu keras asa perjuangan Anton untuk menuju gerbang perkuliahan. Banyak ujian yang harus ia hadapi sebelum menyandang gelar sarjana pendidikan dengan prestasi membanggakan.

 

Mengungkit masa lalu dan menengok ke belakang hendaknya selalu jadi pelajaran untuk membuka mata bagi kita yang masih berproses mencapai tujuan. Belajar dari seseorang yang telah berhasil adalah cara untuk membuat malas menjadi kerdil dan mengecil. Kali ini kita dapat belajar banyak hal dari kisah Anton Agus Setiawan yang juga merupakan Mahasiswa Bidikmisi semasa mengenyam Strata 1 (S1). Reporter Formadiksi UM News telah merangkum kisah perjuangannya berikut ini. Check it out!

 

Haru saat pengukuhan Wisudawan Terbaik Nonakademik Tingkat Universitas Wisuda 98 UM

Momen saat wisuda benar-benar sangat emosional, tak henti saya menahan haru terkadang mengusap air mata yang menetes. Selama 4 tahun perjalanan yang penuh dengan air mata, perjuangan, dan haru. Alhamdulillah bisa berakhir happy ending di atas panggung menahan air mata dan haru saat orang tua naik ke atas panggung saat pengukuhan Wisudawan Terbaik Nonakademik Tingkat Universitas Wisuda 98 UM.

 

Harapan yang menjadi benar-benar nyata bagi seorang penjual es tebu

Segala kenangan, suka duka mulai perjuangan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan diterima hingga akhirnya skripsi. Sebuah harapan yang benar-benar menjadi nyata dan tidak menduga pencapaian saya sejauh ini. Ayah saya kerjanya serabutan, seadanya pekerjaan, pernah menjadi penjual mi ayam keliling, ternak sapi/kambing, mengelola sawah orang lain, dan sekarang buruh di sebuah pabrik swasta kecil di dekat rumah. Ibu saya hanya pedagang di warung kecil, dulu saya membantu ibu saya berjualan es tebu di pinggir jalan.

 

Pernah diremehkan karena gagal masuk perguruan tinggi negeri

Dulu saya sering ditanya, dianggap remeh bahkan tak sedikit canda yang terkesan mengejek karena setahun setelah saya lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), saya belum bisa masuk PTN atau bekerja sendiri. Namun saya berusaha menjawab dengan senyum dan berdoa dalam hati. Bukan tanpa usaha, saya sudah berusaha seoptimal mungkin untuk itu. Namun apalah daya, ketika lulus SMA tahun 2014, saya mencoba Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) gagal, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) gagal, mendaftar seleksi Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) gagal, seleksi masuk Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) gagal, seleksi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) juga gagal.

 

Sempat putus asa, namun Anton tetap berjuang hingga akhirnya berlabuh dengan Bidikmisi UM

Saya sempat putus asa, maksudnya sebegitu kurang beruntungnya kah saya sehingga saya daftar ke mana-mana nggak diterima. Akhirnya dari situ saya bisa sabar terus sambil berdoa. Saya baru tahu kalau pendaftaran Bidikmisi pada tahun kedua itu masih bisa. Setelah itu saya semangat mendaftar Bidikmisi lagi karena ketika itu saya hanya bisa berkomitmen kalau misal saya nggak keterima beasiswa Bidikmisi maka saya nggak akan kuliah, karena ekonomi orang tua pada saat itu kurang mendukung. Alhamdulillah, akhirnya saya keterima di Bidikmisi UM 2015 dengan jurusan Teknologi Pendidikan (TEP).

 

Suka duka perjalanan kuliah hingga peluang mengembangkan softskill

Awal-awal saya kuliah di Jurusan TEP sedikit shock dan kaget karena memang dulu saya nggak menguasai banget keilmuan di TEP. Saya kira dulu jurusannya mengenai kurikulum. Pada saat semester 1 ada materi dasar-dasar komputer di mana materi kuliah itu tidak begitu saya kuasai karena pada saat SMA saya hanya bisa menghidupkan komputer. Nah kita harus bisa cara menemukan belajar yang efektif. Kalau pas maba (mahasiswa baru) pasti itu adalah masa senang-senangnya kuliah, nanti jika sudah semester 6 atau akhir pasti merasakan jenuhnya ketika kita belajar karena mungkin banyak permasalahan yang datang.

Intinya harus pintar manajemen diri dan waktu, sih. Tapi alhamdulillah ada dua dosen saya yang selalu mendukung mahasiswanya untuk berprestasi. Salah satu dosen saya saat menyampaikan kontrak kuliah berpesan jika ada mahasiswa yang berprestasi nasional atau internasional akan mendapat nilai plus. Dari situ saya mendapat peluang, saya nggak harus fokus kuliah saya saja, saya ingin mengembangkan diri di luar kuliah atau nonakademik. Akhirnya saya bisa mengembangkan dan meng-upgrade softskill juga.

 

Menjadi seseorang yang unik dan berbeda daripada mahasiswa lainnya

Ibarat sebuah emas. Emas itu akan kelihatan apabila ia berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun berada di timbunan lumpur, emas tetaplah emas, ia akan selalu berkilau dan bernilai. Untuk teman-teman Mahasiswa Bidikmisi UM, jadilah seseorang yang unik dan berbeda daripada mahasiswa lainnya, berbeda tidak selalu salah. Jangan takut pula dengan kegagalan karena kegagalan itu adalah sebuah bagian dari kesuksesan, jangan pula menyerah. Siapa tahu kegagalan selanjutnya akan membuka dan mengantarkan kita menuju secercah sinar kesuksesan.

Nah, sudah tahu kan bagaimana perjalanan Anton hingga menjadi Wisudawan Terbaik Nonakademik Wisuda 98 UM? Semoga selalu menginspirasi Mahasiswa Bidikmisi UM dan yakinlah kita memiliki kesempatan sukses yang sama. Anton telah membuktikan bahwa suatu keterbatasan dan kegagalan tidak menjadi sebuah penghalang untuk menjadi seseorang yang luar biasa asalkan terus berusaha, bersabar, berjuang, dan berdoa untuk menjadi seseorang yang tidak biasa-biasa saja. Semoga semakin banyak Mahasiswa Bidikmisi UM yang senantiasa menorehkan prestasi-prestasinya, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

Bidikmisi! Berprestasi Tiada Henti!

 

Reporter: Nadya Erawati

Editor: Amanatul Haqqil Ibad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *