MERAWAT KEBHINEKAAN DENGAN SEMANGAT KESETIAKAWANAN

Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara menyimpan satu makna khusus bahwa diantara sekian banyak perbedaan pada bangsa ini terdapat satu tujuan. Dan untuk dapat mencapai tujuan itu dibutuhkan solidaritas. Solidaritas berarti kesamaan rasa, senasib sepenanggungan ditengah berbagai perbedaan.
Seringkali kita mendengar atau menggunakan kata “setia kawan” dalam kehidupan sehari-hari. Kata itu biasanya kita dengar dan gunakan sebagai ungkapan rasa persaudaraan, solidaritas sesama kawan. Namun tidak banyak orang yang mengetahui bahwa negara kita ternyata memiliki Hari Kesetiakawanan Sosial yang diperingati setiap tanggal 20 Desember. Bahkan secara kelembagaan di Kementrian Sosial Republik Indonesia terdapat Subdirektorat Pengembangan Kesetiakawanan Sosial, sebuah instansi khusus yang memiliki tugas dan fungsi untuk merumuskan kebijakan hingga evaluasi pelaksanaan kebijakan pengembangan nilai-nilai kesetiakawanan sosial.
Kesetiakawanan sosial pada hakikatnya merupakan suatu kemauan untuk bersatu dalam solidaritas sosial, kesamaan nasib, dan saling peduli dan berbagi yang dilandasi kerelaan, kesetiaan, toleransi, dan tidak diskriminasi dalam membangun persaudaraan masyarakat majemuk indonesia. Secara konstitusional, Undang-Undang No.11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial meletakkan kedudukan, fungsi dan nilai kesetiakawanan sosial sebagai kerangka dasar dan mandat konstitusional dalam pengelolaan kesejahteraan sosial di indonesia.
Kesetiakawanan sosial nasional diabadikan dari peristiwa sejarah pada tanggal 20 Desember 1948, sehari setelah tentara kolonial Belanda menyerbu dan menduduki Ibukota negara yang pada saat itu Yogyakarta. Pada saat itu terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat bahu membahu dalam perjuangan bersenjata untuk mengenyahkan penjajahan Belanda.
Kesetiakawanan yang tulus, dilandasi rasa tanggung jawab yang tinggi, menumbuhkan solidaritas bangsa yang sangat kuat untuk membebaskan Tanah Air dari cengkraman penjajah. Petani di desa memberikan dukungan logistik, menampung pengungsi, menyediakan rumahnya sebagai markas komando gerilya bahkan ikut serta berperang. Kelompok ibu dan gadis belia menyelenggarakan dapur umum lapangan bagi para pejuang maupun pengungsi, mendirikan pos-pos kesehatan. Apa saja yang mereka miliki dipersembahkan secara tulus ikhlas.
Pada saat ini bangsa Indonesia tidak lagi menghadapi perjuangan secara fisik seperti perang, akan tetapi dihadapkan pada berbagai masalah sosial yang ditandai dengan sejumlah gejala antara lain menguatnya semangat individualis yang berujung pada penggerusan semangat kebersamaan, serta melemahnya semangat kebangsaan dan nasionalisme. Konflik suku, antar ras dan agama (SARA), serta masalah sosial lainnya. Itulah sebabnya menanamkan kembali sikap ”kesetiakawanan” dapat dilakukan dengan cara melihat kembali budaya asli Nusantara yang adiluhung.
Upaya menanamkan kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial, harus dimulai sejak dini. Kita harus memulainya dari lingkungan sosial terdekat. Kita dapat melakukan internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan akhirnya pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Salah satu bentuk eksternalisasi dari nilai nilai kesetiakawanan sosial yang telah menjadi budaya di tengah masyarakat adalah Rewang. Rewang (dalam bahasa Jawa) merupakan suatu tradisi mengumpulkan orang-orang atau warga masyarakat dalam sebuah hajatan baik perkawinan ataupun khitanan guna menyukseskan hajatan tersebut. Setiap anggota masyarakat yang diundang untuk Rewang biasanya menunjukkan partisipasi aktif anggota masyarakat yang terlibat terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, serta remaja putra dan putri.
Meskipun tidak ada pembagian secara tertulis, setiap kelompok ini biasanya sudah mengerti bidang pekerjaan mereka. Kelompok bapak-bapak lebih banyak mengambil bagian dalam bidang yang sifatnya membutuhkan keahlian, seperti memasak nasi, membuat bangsal, dsb. Sementara itu, kelompok pemuda lebih banyak mengambil bagian dalam bidang yang membutuhkan tenaga, seperti pekerjaan angkat-mengangkat, pikul-memikul, termasuk juga mendekorasi, dsb. Dan kelompok ibuk-ibuk serta remaja putri lebih banyak mengambil bagian yang terkait dengan persoalan dapur (masak memasak), hias menghias, dsb.
Yang menarik dalam tradisi ini adalah kemampuannya untuk melibatkan banyak orang, meskipun berasal dari kelompok ekonomi yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, maupun agama dan etnis yang berbeda. Rewang juga menciptakan ikatan moril yang lebih erat, baik antar keluarga, maupun antar individu dalam masyarakat. Karena dengan adanya tradisi Rewang ini akan mampu menghubungkan ikatan-ikatan persaudaraan yang sedikit merenggang di tengah masyarakat. Tradisi Rewang telah mampu meretas lintas batas etnis, stratifikasi sosial dan status sosial yang ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, tradisi ini sifatnya egaliter dan kosmopolit. Tidak ada kesan siapa yang dieksploitasi dan siapa yang mengeksploitasi, yang ada hanyalah upaya pencapaian tujuan bersama.
Rewang menjadi sebagian kecil kearifan lokal sebagai wujud eksternalisasi nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang telah mengakar di kehidupan masyarakat dan sudah diasah lama sejak nenek moyang kita dahulu, dan terbukti dapat mempertahankan solidaritas kesetiakawanan yang tinggi di masyarakat. Nilai-nilai kesetiakawanan sangat nyata terkandung dalam tradisi Rewang, dimana masyarakat merasakan senasib sepenanggungan sehingga mereka harus saling membantu, bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan. Tradisi ini juga tidak membedakan kelompok etnis dan umur, sehingga semangat egaliterianisme sangat terlihat layaknya peristiwa 20 Desember 1948 kala itu.
Semangat kesetiakawanan bahkan jauh lebih besar daripada apa yang telah penulis sebutkan, yakni perasaan solidaritas terhadap nasib yang menimpa umat manusia. Jika kita memasuki bidang ini, tidak ada lagi pertimbangan kebangsaan, keagamaan, politik dan sosial budaya. Kita wajib berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana Tuhan telah berbuat kepada diri kita masing-masing. Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial sudah sepatutnya untuk terus dibangun dan direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan sebagai wujud nyata dalam menyikapi kehidupan yang multikultural.
Dengan semangat kesetiakawanan tersebut, kebersamaan akan bangkit karena merasa saling memiliki dan senasib sepenanggungan tanpa ada persaingan yang saling menjatuhkan. Penulis yakin bahwa kita mampu mengatasi berbagai masalah sosial dan upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 yakni mewujudkan suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dapat terwujudkan jika dilandasi semangat dan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dari seluruh elemen masyarakat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu meridhoi usaha dan membimbing kita semua. Harmony in Diversity with Solidarity. Selamat Memperingati Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional!

Karya Ade Setyawan Pratama, Ketua Formadiksi UM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *