Mochamad Khoirul Rifai: Sumbang Prestasi dengan Doa Orangtua

Layaknya sebuah budaya, Universitas Negeri Malang (UM) kembali meraih Juara Umum dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Regional Jawa Timur V 2018 (MTQ-MR Jatim V). Bertempat di Universitas Jember (UNEJ), MTQ-MR Jatim V dilaksanakan sejak tanggal 11-13 Agustus 2018. Di malam penutupan MTQ-MR Jatim V, UM dinobatkan sebagai Juara Umum setelah memboyong sebelas gelar juara di berbagai cabang lomba. Salah satu Kafilah UM yang mampu membawa pulang gelar juara adalah Mochamad Khoirul Rifai (Fai), mahasiswa Bidikmisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Bersama rekan setimnya, Akbar Rahmada Maulana, mereka berhasil membawa pulang predikat Juara 1 dalam bidang Karya Tulis Ilmiah Al-Quran (KTIA).

Akhir Agustus lalu (31/8) jurnalis Forum Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang (Formadiksi UM) berkesempatan untuk menguak kerasnya perjuangan Fai, mahasiswa asli kota Blitar, hingga mampu memeroleh Juara 1 bidang KTIA. Fai mulai terjun ke dunia MTQ sejak masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan bermula dari Fahmul Qur’an. Namun, dengan bertambahnya usia, Fai mulai menggali potensi dalam cabang KTI saat di kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga sampai pada jenjang kuliah.

“Saya dulu itu memang punya background MTQ sejak SMP kelas tiga, tapi bukan di cabang KTI, saya di cabang Fahmul Quran. Setelah sampai kelas tiga SMK saya berhenti karena umur saya udah ndak bisa. Sudah mentok. Akhirnya saya pindah cabang. Pindah cabangnya di KTI.”

Mahasiswa yang awalnya hanya iseng mengikuti pembinaan di Unit Kegiatan Mahasiswa Al-Qur’an Study Club (UKM ASC) sejak semester satu ini mengaku bahwa ia termasuk peserta pembinaan yang belum mempunyai prestasi dibanding dengan peserta pembinaan ASC lainnya. Namun, untuk pertama kalinya di tahun 2017, Fai mengikuti MTQ UM cabang KTIA dan langsung berhasil mendapatkan Juara 2. Bermula dari MTQ UM 17 inilah ia diketahui terus mengembangkan KTIA-nya dalam beberapa lomba di luar kota yang mengantarkannya untuk mengikuti seleksi MTQ Regional.

“Alhamdulillah di MTQ UM 17 kemarin, saya dapat Juara 2. Setelah dapat Juara 2, saya gak tahu kalau ternyata yang setiap pemenang-pemenang itu masih diawasi. Dalam istilah tanda kutip Tim Satgasnya UM. Nah, setelah dari MTQ (UM 17) itu, saya ke Cilacap membawa karya yang sama, saya kembangkan, dan itu diketahui sama Satgas UM kalau saya ngembangkan kayak saya di MTQ (UM 17) itu. Akhirnya dipanggillah saya di bulan April. Bulan April saya dipanggil, ternyata ada seleksi MTQ Regional, akhirnya digodok lagi sama teman-teman. Jadi, seleksinya itu ada 6 orang (3 perempuan, 3 laki-laki).”

Pada mulanya Fai pesimis dengan hasil seleksi menuju MTQ-MR, namun Tuhan berkehendak lain hingga ia keluar sebagai salah satu perwakilan dari UM dalam cabang KTIA yang akhirnya dipasangkan dengan Akbar Rahmada Maulana. Dalam KTIA-nya Fai dan Akbar membawa sebuah karya yang bernama Folitor (Forensik Linguistik Detector), software pendeteksi kebohongan.

Banyak cobaan yang mereka berdua hadapi dalam proses mengikuti MTQ-MR Jatim V. Banyak hal pula yang harus dikorbankan, contohnya adalah mengerahkan tenaga serta memangkas waktu liburan untuk menggarap karya.

“Akhirnya setelah bulan Juni, udah itu, karantina terus sampai satu setengah bulan. Akhirnya di bulan Agustus diberangkatkan. Dan itu sudah, apa ya istilahnya, capeknya itu udah mentok gitu. Capeknya mentok karena harus ada deadline tiap hari. Jadi di rumah itu cuma 10 hari lebaran setelah itu langsung balik ke sini (Malang-UM).  Jadi liburan itu ya ndek sini, nggak kemana-mana. Akhirnya itu nyiapkan karya, dan alhamdulillah itu kemarin dapat Juara 1, meskipun ketika finalnya sempat missed karena salah perhitungan waktu,” ucap Fai dengan selingan bahasa Jawa.

Fai yang ternyata seorang santri Pondok Al-Islah, Malang, memiliki prinsip yang ingin sekali ia tularkan pada mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang, khususnya untuk angkatan 2018.

“Ketika saya dapat beban yang berat, yang mungkin menurut sebagian orang itu mustahil untuk bisa dikerjakan, saya lebih cenderung akan bilang, saya pasti bisa, karena Allah ada di benak saya.

Di akhir wawancara pun, Fai berpesan untuk selalu percaya bahwa doa orang tua itu selalu mengiringi kemana pun anaknya melangkah, selama itu dalam hal kebaikan. Maka dari itu, perbaiki komunikasi dengan keluarga, khususnya kedua orang tua dan tak melulu perihal penting.

“Dulu ketika saya ngobrol sama orang tua dalam tanda kutip kalau penting, misal minta uang SPP atau apa, ya kayak seret. Dalam tanda kutip saya nggak bisa ngomong plong. Akhirnya teman saya di kampus itu minim, nggak banyak orang yang tahu saya. Akhirnya saya mulai dekat dengan ayah, dengan ibuk, dekat sama kakak-kakak dan sebagainya, Allah datangkan itu semua, teman datang satu per satu, yang baik-baik datang satu per satu. Tiba-tiba dikenalkan dengan dosen ini, dosen fakultas ini, Pak Rektor, Pak Syamsul, dan lain sebagainya. Saya menganggapnya tuh bukan karena saya berprestasi, tapi itu karena barokah dari orang tua saya. Ketika kita merasa sombong bahwa kita lebih pandai dari orang tua kita, ya saat itu juga kita memutuskan bahwa kita nggak punya masa depan,” tutupnya. (Amanatul Haqqil Ibad & Lucky Meidianti Darmawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *