Muliakan Guru Yang Telah Mencendekiakan Tunas Bangsa

“Berapa jumlah guru yang masih hidup?” itulah pertanyaan Kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima. Sebuah narasi yang mempunyai makna teramat dalam dari pemimpin ”Negeri Sakura”. Kaisar Jepang sadar betapa pentingnya guru untuk kebangkitan negara setelah hancur lebur terkena serangan musuh.
Sektor pendidikan tak boleh dianggap sebuah hal yang sepele karena pendidikan merupakan urusan lintas sektoral. Kebangkitan dan kemajuan sebuah bangsa tak lepas dari peran seorang guru yang berhasil mencetak generasi yang cendekia. “Seorang yang berilmu, kemudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini. Dia bagai matahari yang memberikan cahaya kepada orang lain, sedangkan dia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, dia sendiri pun harum.” Begitu kata Imam Ghazali, seorang ahli filsafat Islam yang sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup demi berkelana mencari ilmu pengetahuan. Rangkaian kalimat nan elok tersebut menggambarkan betapa guru merupakan sebuah profesi yang sangat mulia.
Setiap 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional sekaligus ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Momentum tersebut seharusnya bukan hanya sekadar annual of ceremony saja, seluruh elemen bangsa harus melakukan refleksi dan evaluasi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan yang lebih signifikan. Masalah kronis yang mengemuka setiap Hari Guru Nasional yaitu masalah kesejahteraan guru. Berdasar laporan Education Efficiency Index, Indonesia termasuk negara yang kurang mengapresiasi guru. Dari 30 negara yang masuk survei tersebut, gaji guru di Swiss merupakan yang paling tinggi dengan nilai Rp 950 juta per tahun. Kemudian diikuti Belanda, Jerman, dan Belgia. Di mana posisi Indonesia? Negara kita berada di urutan paling buncit dengan gaji Rp 39 juta per tahun. Julukan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” memang melekat pada diri seorang Guru namun sebuah tanda tanya besar bagaimana seorang guru bisa mencendekiakan tunas bangsa jika kehidupan sehari-hari bahkan kebutuhan sekolah anaknya tidak terurus dengan maksimal.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 merupakan angin segar bagi para pahlawan tanpa tanda jasa, dengan adanya program sertifikasi dengan tujuan peningkatan kompentensi guru dan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan yang memenuhi kualifikasi. Akan tetapi secara normatif, pelaksanaannya terjadi banyak penyimpangan dan untaian kata indah bagi guru honorer/bantu khususnya di daerah 3T ( Terdepan, Terluar & Tertinggal). Untuk menyambung hidup, guru honorer, utamanya yang belum disertifikasi harus mengajar dari satu sekolah ke sekolah yang lain, memberi jasa les/privat, menjadi pedagang gorengan, tukang ojek, dan sebagainya. Jika dihitung secara matematis, jumlah upah yang diterima mereka sangat tidak rasional. Bahkan ada seorang guru honorer membiayai hidupnya dengan jumlah honor hanya sebesar Rp200 ribu saja perbulan.
Menuju Pendidikan Abad 21, profesionalisme guru juga semakin diuji. Beban tugas yang semakin bertambah serta tuntutan kompetensi akan penguasaan teknologi menjadi keharusan apabila guru tak ingin tertinggal dengan peserta didiknya. Perbedaan generasi, tak jarang membuat peserta didik lebih menguasai materi daripada Sang Guru. Peran Guru yang tidak hanya mengajar, termaktub dalam UU No. 14 tahun 2005, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Tantangan pendidikan di era informasi saat ini, mengharuskan Guru untuk lebih kreatif, inovatif, dan inspiratif dalam mendesain kegiatan pembelajaran yang bermutu untuk menyongsong generasi emas Indonesia Tahun 2045. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, menjadikan Guru sebagai kunci utama keberhasilan sumber daya manusia yang tidak hanya produktif tetapi juga unggul dan religius. Sudah saatnya guru diberikan kesempatan untuk mengembangkan konsep life long education dengan mempertimbangkan konsep desentralisasi pendidikan.
Sebagai penutup, Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa “Education is the most powerfull weapon which you can use to change the world” bagaimana mungkin pendidikan Indonesia akan bisa bersaing dengan Negara-negara lain jika urusan kesejahteraan guru belum terselesaikan. Orang yang hebat bisa melahirkan beberapa karya yang bermutu, tapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang yang hebat. Teruslah mengabdi demi mencendekiakan tunas bangsa. Selamat Hari Guru 25 November 2018!

Oleh Anton Agus Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *