PADA SEBUAH KAPAL

PADA SEBUAH KAPAL

Oleh: Yulia Dewi Wulandari

 

 

Hari di mana aku belum mencium bau tanah

Bahkan tidak ada bayang kehidupan sebenarnya

Hanya suara air gemercik mendamaikan jiwa

Membuaikan aku di ayunan nirwana

Hari sebelum perjanjian tiba

Dan dikirimkan sebuah nama pada rumah barunya

Seperti terjadi tiba-tiba, menjadi bagian dari hidup sang asing

 

Lalu tak lama tanah menjadi dirinya, ada suara tangis sebagai pertanda nyawa

Semakin kencang ia semakin ramah dengan semesta

Katanya, aku ini pertanda betapa pemurahnya Sang Pencipta

Katanya lagi, aku adalah hasil cinta dari mereka

Dari dua asing ini, kami menghidupi perahu keluarga

 

Nakhoda tangguh tak kenal asa,

Melalui terik dan angin menusuk rusuk hingga lelah

Kadang pergi membanting setir dan menuju padang berduri

Di lain sisi, seseorang mengurus kapal supaya masih bisa berkecukupan hingga hari datang

Padahal, penumpang hanya bisa manggut-manggut asal kenyang

 

Hari-hari panjang, kapal terus berlayar di lautan

Kadang badai, kadang tenang

Kalau hujan datang dan gelombang sedang tinggi-tingginya

Hanya lantunan doa sebagai pengharapan

Semoga kapal tidak lekas karam sebelum sampai di pelabuhan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *