Pahit dan Manis di 1965

Usyri Tis atin Al Fayni

Pukul 16.00, hari telah beranjak sore. Sinar matahari mulai bersembunyi dibalik gedung musholla kecil di pojok desa, menghasilkan bayangan hitam teduh disertai semilir angin sore yang sejuk. Waktu anak-anak desa untuk mengaji telah tiba. Namun seperti biasa, ustadz Ahmad, pengajar mengaji di musholla itu sudah berangkat terlebih dahulu.

Membuang kebosanan, ustadz Ahmad membuka-buka buku di rak kayu yang lama, sampul-sampul serta kertas bukunya pun telah usang. Berubah menjadi warna agak kekuningan. Namun begitu, bagi ustadz Ahmad, buku-buku itu adalah hiburannya. Beliau begitu senang membaca mereka entah sudah ke berapa kalinya.

Sampai tiba pada satu bendel kertas yang membuatnya termenung. Kertas itu berisi lembaran foto-foto hitam putih antara dirinya dan kawan desanya saat ia masih kecil dahulu.

Ia masih ingat betul, dirinya yang paling kecil diantara semua kawan mengajinya saat itu. Dirinya disayang dan diajari oleh mereka dengan senang hati, terutama oleh Rohman. Karena Rohman sepupunya sendiri, dia paling menjaganya. Hingga semua kawannya meninggalkannya, tepat malam setelah pengambilan gambar itu.

Malam tanggal 30 September 1965.

—–

Flashback

Kamis, 30 September 1965

Musholla Desa

17.30 WIB

Ahmad, anak berusia 8 tahun itu mengikuti langkah seorang remaja yang membawa banyak buku serta Al Qur’an di pelukannya. Dengan celoteh khas anak kecil yang suka bertanya, Ahmad berbicara pada remaja itu tanpa henti.

“Mas Rohman nanti aku ikut sampeyan ya buat melekan ngaji sama mas-mas yang lain, aku kan juga sudah besar.”

Rohman yang berjalan didepannya  menghentikan langkahnya. Dirinya tersenyum jumawa, namun seketika berwajah datar.

 

“Nggak boleh Mad, kamu itu masih kecil, nanti kalau melekan malam masuk angin, nanti ibumu khawatir, aku kasihan melihat beliau yang sudah kerja keras menggarap sawah bersama orang tuaku, juga makin susah harus merawatmu yang kena masuk angin.”

Ahmad memasang ekspresi tidak terima. Dia merasa sudah besar, sudah sekuat fisiknya mas Rohman.

“Nggak-nggak mas, Ahmad kuat kok, kemarin saja waktu ikut ibu pengajian akbar nggak masuk angin kok.”

Rohman malah tertawa, “Iya nggak masuk angin, tapi pilek sampek seminggu, bikin bu lek harus ke pak mantri dan nggak bisa bekerja ke sawah karena ngurus kamu Mad.”

Ahmad terdiam, kepalanya menunduk, dirinya sudah terpojok. Padahal dia ingin sekali ikut  melekan malam pada hari kamis dengan kawan-kawannya yang di bimbing oleh Kyai Besar Masjid di pusat kota yang hanya pada hari Kamis malam Jumat itu saja berkunjung ke desa.

Sampai suara ibunya yang muncul dari belakang tubuhnya membuatnya melonjak senang.

“Nggak apa-apa Man, kamu ajak saja Ahmad, nanti bu lek bawakan jaket tebal biar nggak masuk angin, kamu rawat ya adekmu ini, bu lek minta tolong.”

Akhirnya Rohman mengangguk menyetujui, kalau ibunya saja membolehkan, kenapa dirinya masih melarang.

Dengan gerakan halus, Rohman mengelus rambut Ahmad. “Yawis, sekarang kamu bisa ikut Mas, tapi tenanan ya ngaji, jangan begejekan sama mas-mas yang belakang.”

Ahmad memekik senang, “Matur suwun Ibu, mas, aku janji.”

Dan akhirnya Ahmad mengikuti langkah Rohman ke arah musholla desa.

——-

Malam sudah mulai larut, jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ahmad mulai mengantuk.

Tapi seketika kantuknya hilang begitu pak Kyai bilang akan melakukan foto bersama.

“Jadi anak-anak, Bapak bulan depan mau naik haji menemani istri, jadi tidak bisa mengajar, bapak ingin punya kenangan bersama kalian semua, bocah-bocah sregep lan ajeg mencari ilmu agama, kebetulan ponakan bapak ini kuliah di Luar negeri, punya alat untu memoto, jadi buat barisan biar segera di foto.” ucap Beliau sembari tersenyum lebar.

Keponakannya yang sedari tadi duduk di belakang pun berdiri. Mengatur barisan hingga mirip grup paduan suara. Pak Kyai berdiri ditengah. Meskipun sudah malam, fotonya tidak gelap sekali karena lentera di masjid sangat banyak.

Mereka tertawa senang begitu selesai berfoto dan melihat hasilnya.

“Ya Allah aku kelihatan guanteng yo Man.” remaja yang berdiri disamping Rohman, sebut saja namanya Anto, berucap dengan percaya diri.

Namun Ahmad yang berdiri disisi lain Rohman langsung menyela dengan bercanda, “Nggak lah mas, sampeyan kalah ganteng sama Mas Rohman yang ada.”

Anto berdecak, “Kamu itu memuji Rohman amergo Rohman sepupumu, padahal ganteng aku tekan ngendi-ngendi.”

Dan Rohman hanya tertawa mendengar celotehan mereka berdua yang berdebat, apalagi Anto. Lucu saja sudah besar masih saja perduli dengan ucapan anak kecil. Dasar Anto!

Setelah puas melihat hasil foto, mereka akhirnya melanjutkan mengaji lagi, keponakannya pak Kyai sudah pulang, katanya ada urusan di rumah.

Sistem mengaji disini hafalan. Kebetulan tadi sudah hafalan Hadist, sekarang hafalan Al Qur’an. Semua harus setor satu persatu ayat yang sudah dihafal selama seminggu sebelumnya. Dan setelah semuanya selesai mereka mengulang bersama-sama diakhiri dengan dzikir bersama.

Ahmad sudah setengah mengantuk pun bersandar kepada Rohman yang duduk disampingnya.

Rohman pun membiarkan saja. Dirinya paham saat kecilnya dulu juga seperti itu jika mengaji, mudah mengantuk. Apalagi ini sudah larut sekali.

Melirik ke arah jam yang sudah hampir menunjuk angka 12 malam.

Tiba-tiba suara banyak hentakan kaki datang terdengar jelas. Rohman tersentak dan langsung melapor kepada pak Kyai.

“Maaf pak Kyai, kenapa ada suara kaki datang banyak pak Kyai, apa ada yang kebakaran?”

Pak Kyai langsung menghentikan memimpin dzikirnya. Menatap Rohman dengan bingung, semua yang mengaji juga memberi atensi pada Rohman, hingga kemudian ketika suara hentakan kaki keras makin jelas, disusul pintu musholla yang didobrak keras, semuanya terlonjak.

Banyak orang-orang membawa celurit, mata mereka memandang mereka marah dan beringas.

Sontak Rohman reflek memeluk Ahmad yang disampingnya, masih tertidur menyandar padanya.

 

“Kalian harus mati!” teriak seorang lelaki yang berada pada barisan depan. Sontak Rohman langsung berlari ke arah pintu belakang masjid  disana ada lemari besar.

Pikirannya ketika melihat celurit, hanya satu. Menyelamatkan Ahmad dari mereka. Ahmad masih kecil, tidak boleh melihat kekejaman yang akan terjadi.

Salah satu anggota mereka menatap Rohman sengit. Rohman yang sadar hal itu langsung berlari ke belakang, membawa Ahmad untuk disembunyikan.

Sedang yang lain sudah tidak karu-karuan. Al-Qur’an, buku Hadist, Kitab-kitab pelajaran mengaji mereka di cacah.

Remaja yang mengajipun sudah banyak yang tak bernyawa. Wajah dan tubuh mereka telah bersimbah darah oleh kekejaman mereka. Orang-orang komunis yang kejam.

Rohman berpikir keras, dimana dia bisa menyembunyikan Ahmad. Sampai matanya menatap pada almari usang, dengan lubang kecil-kecil, berada disamping bangunan musholla. Dia langsung bergegas. Memasukan ahmad beserta kitab-kita yang ada diluar.

Mengunci Ahmad. Karena dia sadar Ahmad bisa bernapas didalam meski terkunci.

Melempar sembarang kuncinya dan bernapas lega. Namun tak sampai disitu tiba-tiba orang-orang komunis itu menyergapnya dari belakang.

Menusuknya dengan celurit, tanpa belas kasihan.

Namun Rohman tersenyum dalam ajalnya. Mengucap dengan tanpa ragu kalimat syahadat. Rohman menghembuskan napas terakhirnya.

Ahmadㅡ bocah yang terbangun mendengar kegaduhan diluar almari bingung. Menatap luar dari lubang kecil sekali. Dan hampir menjerit ketika melihat kakak sepupunya ditikam oleh orang komunis. Bahkan parahnya lagi setelah meninggal kakak sepupunya di kuliti dan dibuat sangat menjijikan.

Ahmad ingin muntah, tapi juga menangis.

Kakaknya, melindunginya. Dan dalam hati berdoa kepada Allah untuk menempatkan kakaknya disisinya.

End of Flashback

——

 

Siti gadis kecil berusia 7 tahun yang baru datang untuk mengaji melihat pak ustadz Ahmad melamun didepan rak buku, pun akhirnya memilih memanggilnya dengan keras.

“Pak Ustadz! Kok ngelamun, ngelamunin apa hayo…”

Ustadz Ahmad tersadar. Tersenyum lebar ke arah muridnya.

“Penasaran ya Sit?”

Siti mengangguk semangat, “Iya pak ustadz, ngelamunin apa sih sampek diam seperti itu, ngelamunin mangganya pak Rosyid yang ada disamping rumah pak ustadz ya, saya juga kok pingin mangga itu, nanti kita minta pak Rosyid ya pak.”

Ahmad tertawa mendengar ucapan lugu muridnya.

Dan mengangguk saja, karena dijelaskan pun Siti belum mengerti.

Setelah semua muridnya datang, Ahmad membuka kegiatan mengajinya. Namun di akhir mengaji hari ini, ustadz Ahmad bertanya.

“Hari ini tanggal berapa hayo?”

“Tanggal 30 September pak.” Jawab Hafis dengan semangat karena merasa bangga dia tahu.

Ahmad mengangguk mantap, “Betul Hafis, Hafis pintar sekali.”

Kemudian Ustadz kembali bertanya, “Apakah kalian tahu hari ini diperingati hari apa?”

Semua muridnya diam. Akhirnya ustadz Ahmad menjelaskan. “Hari ini adalah hari diperingatinya Gerakan 30 September, dimana hari itu semua orang beragama di Indonesia dibantai oleh orang Komunis. Bahkan Jenderal besar pun banyak yang dibunuh dengan kejam. Oleh karena itu kalian sebagai generasi Indonesia harus bersyukur, Indonesia sekarang sudah damai, tidak ada perang, tidak ada pembantaian, semuanya karena perjuangan para pahlawan kita  sekarang tugas kalian harus terus rajin belajar, menuntut ilmu agama dan juga dunia. Mengerti?!

“Mengerti Pak.”

Dan Ahmad tersenyum lebar melihat semangat anak-anak muridnya.

Tidak terasa umurnya sudah 61 tahun, peristiwa yang akan selalu diingatnya itu telah terjadi 54 tahun lalu.

Disini Ahmad hanya bisa berdoa,

Semoga semua yang telah meninggalkan kita akan diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa. Semoga semua perjuangan para Pahlawan terdahulu tidak sia-sia. Semoga Indonesia tetap damai dan akan jaya. Meskipun diterpa badai topan, semoga Indonesia kuat dan akan terus bangkit. Aamiin.

—–END—-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *