Pecandu Garam

Pecandu Garam

Oleh: Gita Aprilia

          “Bunda-Bunda, lihat deh kakak itu. Habis nyium garam, langsung tidur, Bun,” ucap anak kecil di sebelahku yang ikut menyita perhatianku. Seketika pandanganku terhenti pada sosok laki-laki kurus, berambut pendek, usianya jelas jauh di bawahku yang terlihat jelas dari seragam putih biru yang dia gunakan. Tangan dan mulutnya sangat ahli dalam menghisap butiran-butiran “garam” beralaskan kertas putih dengan bantuan sebuah sedotan bekas. Senyum tenang menghantarkan matanya terlelap usai menghisap “garam” tersebut. Entah hilang akal atau bagaimana, seorang anak dengan kisaran usia 12–15 tahun melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan bocah seusianya. Terlebih di tempat umum. Sungguh hal yang begitu miris.

          “Bunda-bunda, kakak kok suka banget ya sama garam itu, adik boleh coba tidak?” tanya gadis dan lugu kepada Bundanya yang spontan dijawab dengan gelengan kepala oleh sang Bunda.

          “Tidak boleh, sayang. Garam itu tidak boleh dikonsumsi oleh siapa pun dengan sengaja,” jawab sang Bunda yang masih menyiratkan ketidakpuasan sang anak akan jawaban yang diberikan Bundanya. Kejadian siang ini cukup menyita perhatian banyak orang, hingga ada salah satu pria yang mencoba menghampiri anak yang sudah setengah sadar tersebut. Diraihlah serbuk “garam” yang beralaskan kertas putih dari hadapan sang bocah dan bermaksud untuk menghentikan tindakan bocah tersebut. Akan tetapi, hal mengejutkan terjadi di hadapanku. Bocah itu, dengan matanya yang mulai merah dan kondisi tubuh yang sempoyongan berusaha mengambil “garam” nya kembali.

          Bertubi-tubi umpatan kasar yang sungguh lantangnya ia haturkan kepada orang yang jauh lebih tua di hadapannya itu. Tendangan-tendangan meleset terus dia lakukan dengan kondisi badan yang sudah tak mampu berdiri dengan baik. Tentu hal ini menyita semua pemandangan orang yang ada di taman nan asri ini. Satu demi satu orang berdatangan menyaksikan pertunjukkan bocah pencandu “garam”. Satu persatu dari penonton kemudian berusaha untuk menasehati sang bocah, tapi yang terjadi adalah hal yang sama dialami oleh pria yang merampas “garam” tersebut. Umpatan kasar kembali beterbangan di udara menghujani seluruh mata yang hadir di sana. Bahkan, orang yang tak mendekat pun menjadi sasaran empuk dari sang bocah.

          Sungguh, “garam” yang sangat luar biasa hebatnya. Hanya karena seserbuk “garam” ini, sang bocah bisa bertindak di luar kendalinya. Amukkannya terus berkobar terus mencoba memberontak dan berusaha melukai dirinya sendiri. Dengan tanggap, salah satu orang yang ada di sana segera menghubungi petugas kesehatan agar bisa mengendalikan perilaku sang bocah.

          “Bunda-Bunda, kakaknya kok sampai teriak-teriak Bunda? Adek takut, Bun. Matanya merah sekali Bun,” rengek sang gadis mungil ke dalam pelukan sang Bunda. Mataku beralih fokus ketika mendengar bunyi sirene dari arah barat taman. Tiba-tiba terdengar suara yang meminta semua orang untuk menjauhi bocah tersebut. Semua orang mundur perlahan mengikuti instruksi dari petugas kesehatan tersebut. Perlahan petugas kesehatan mendekati sang bocah dan berusaha menenangkannya. Lagi-lagi, bocah tersebut terus memberontak dan melawan petugas kesehatan.

          “Overdosis!” Ucap salah satu rekan petugas kesehatan tersebut. Kata overdosis terus terngiang di kepalaku. Memunculkan banyak pertanyaan, bagaimana bisa bocah dengan kisaran umur 12–15 tahun sudah mengalami overdosis? Dari mana dia mendapatkan “garam” tersebut? Dengan cara apa dia bisa membeli “garam” yang harganya tak bisa dibayar dengan uang sakunya itu? Bagaimana perasaan orang tuanya akan hal ini? Aaa! Seluruh pertanyaan memenuhi kepalaku sembari melihat sang bocah telah dibawa oleh pihak kesehatan ke dalam ambulans.

          “Terima kasih karena telah menghubungi kami tepat waktu, jika telat sedikit mungkin dia bisa melukai dirinya sendiri dan juga orang di sekitarnya. Terlebih lagi dia bisa saja kehilangan nyawanya. Semoga ini menjadi pembelajaran untuk kami semua selaku orang tua untuk terus mengawasi pergaulan anak kita, terutama yang masih di bawah umur. Kasihan, masih muda sudah harus menanggung rasa sakit yang luar biasa.”

Kasihan, masih muda sudah harus menanggung rasa sakit yang luar biasa.

Ya, benar apa yang diucapkan petugas tersebut. Sangat sesuai dengan sang bocah, masih muda sudah menanggung sakit yang luar biasa.

One thought on “Pecandu Garam”

  1. Masya Allah, bagus banget karyanya
    Dengan alur cerita yang tak terduga, bahasa mudah dipahami dan amanatnya sampai ke pembaca.. Terima kasih Kak Gita atas karya yang luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *