Pesawat, Minta Uang!

Pesawat, Minta Uang!

Oleh: Alfina Sintya Nuril Hidayati

 

Tahun 20XX. Di tahun ini, sudah pemandangan yang lumrah bila pesawat mendiami langit. Para pesawat datang sekitar lima tahun yang lalu, mengusir burung gereja dan teman-temannya dari tempat mereka bermain. Awalnya, kami pun para manusia yang mendiami wilayah ini juga was-was. Apalagi jumlah pesawat itu tidak hanya tiga, empat dan terbang rendah. Hampir menyentuh pucuk bangunan-bangunan bertingkat di sini. Kapan pesawat-pesawat tersebut bisa saja melemparkan bom atom kan? Insting bertahan hidup kami memberikan sinyal untuk menyelamatkan diri, diri sendiri maksudku. Lalu kami protes pada pemerintah, gampang saja. Tinggal hebohkan media sosial, berita akan cepat tersebar sampai ke kuping para pengurus pemerintah.

“Dengan melihat iklim yang sekarang, kami memutuskan untuk menerbangkan pesawat-pesawat ke seluruh wilayah di negeri ini, yang berfungsi melaksanakan cloud seeding.” Iklim memang sudah tidak seperti dulu lagi, di mana 6 bulan penghujan dan 6 bulan kemarau. Sekarang dalam satu tahun, lamanya masa kemarau sama dengan 3 kali masa penghujan. Dengan klarifikasi tersebut, kami pun tenang kembali, beraktivitas seperti biasanya, menyampah seperti biasanya, tanpa memedulikan akan pergi ke mana residu dari kendaraan. Di mana sekarang sudah jarang ada pohon, sampah plastik juga akan lari ke mana saat sungai sudah mampet dan lain sebagainya. Tanpa sadar penyebab perubahan iklim ini karena kami sendiri.

Tetapi suatu hari, tiba-tiba langit bersih seperti dulu, tidak ada burung besi yang menutupinya. Hingga kami silau oleh cahaya mentari karena pupil kami sudah terbiasa dengan kondisi sebelumnya.

Ada apa ini? Kami kebingungan lagi. Ternyata uang pajak tidak cukup untuk membayar bahan bakar pesawat yang digunakan setiap beberapa jam dan tidak hanya tiga, empat pesawat saja. Di berita disiarkan bahwa daerah yang masih ingin merasakan hujan harus membayar pajak tiga kali lipat. Heboh! Tetapi mau bagaimana lagi? Tanpa adanya hujan, suhu semakin panas dan udara tercemar. Akhirnya dengan terpaksa kami melakukan apa yang telah diinstruksikan, membayar pajak tiga kali lipat. Aku jadi ingat tiga puluh tahun yang lalu, saat aku berusia sepuluh tahun. Aku dan teman-teman selalu meneriakkan “Pesawat, minta uang!” Saat ada pesawat terbang rendah di langit halaman sekolah kami. Tetapi sekarang, malah pesawat yang minta uang.

 

Malang, 25 November 2020, 10.21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *