Rumah

Oleh: Mangesti Tiara Lestari

Matahari pagi mulai mengintip dari jendela, mengganggu ku yang sedang asyik berpetualang di dalam alam mimpi. Seperti biasa, ku mulai hari dengan mengutuk datangnya sinar sang surya yang menandakan bahwa masih ada hari yang harus kulewati. Bukan, bukan berarti aku membenci sang surya. Namun, lebih tepatnya aku membenci hari ku yang selalu diisi dengan perdebatan hebat didalam rumah. Namaku Dio, seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun, aku sekarang duduk di bangku kelas 6 sebuah sekolah dasar ternama di kota ku. Aku lahir sebagai anak terakhir dari dua bersaudara.

Hari-hariku selalu dimulai dengan menyaksikan pertengkaran antara kedua orangtua ku. Sedangkan kakak ku, kurasa dia juga mulai lelah dengan keadaan di dalam rumah. Dia jarang berdialog denganku, sekalinya berdialog dia hanya mampir dan mencari-cari kesalahan terhadap segala sesuatu yang ku lakukan. Satu-satunya yang dapat menjadi tempatku berkelukesah hanyalah mama. Namun, mama jarang memiliki waktu senggang tanpa air mata, sehingga aku harus berpikir dua kali apabila ingin menyampaikan gundahku kepada mama.

Tapi aku bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Setidaknya aku punya alasan untuk mengalihkan pikiranku dari keadaan rumah yang kacau. Di sekolah aku termasuk anak yang cukup berprestasi. Aku sering memenangi beberapa perlombaan baik di tingkat kota maupun provinsi. Meskipun aku berprestasi di bidang akademik, aku tidak pandai dalam bersosial dengan orang lain. Aku mulai kehilangan kepercayaan terhadap orang lain sehingga aku tidak pernah memiliki keinginan untuk berinteraksi lebih dalam lagi dengan orang lain. Keadaan tersebut cukup menyiksaku, kesepian selalu datang dan membayangi di setiap hariku.

Hari ini, adalah hari yang besar dimana namaku akan dipanggil di depan seluruh murid untuk diberikan penghargaan atas prestasiku yang berhasil mendapat nilai terbaik pada ujian lalu. Aku telah mempersiapkan senyum terbaik dalam penerimaan penghargaan nanti. Ketika upacara bendera selesai dilaksanakan, kepala sekolah berjalan menuju mic dan mulai berbicara hingga pada ujung pidatonya, beliau menyebutkan namaku dan memintaku untuk maju dan menerima sebuah piala kecil sebagai pertanda bahwa aku berhasil menjadi siswa denga nilai terbaik dalam ujian beberapa minggu yang lalu. “Selamat ya, nak” ucapnya sembari menyalamiku. Aku mendengar gemuruh tepuk tangan dari seluruh peserta upacara, juga mendapatkan ucapan selamat dari guru-guru yang berada dibelakang kepala sekolah dan hanya kubalas dengan senyuman terbaikku.

Bel berbunyi, menandakan sekolah telah usai dan aku harus kembali ke rumah. Biasanya aku menyambut suara bel pulang dengan perasaan kecewa. Namun hari ini berbeda, dengan sedikit berlari aku segera beranjak pulang menuju rumah. Di jalanan dekat rumah aku mendengar suara barang-barang pecah dari rumahku, tanpa dikomando langkahku melambat dan aku melihat papa membanting pintu dengan kerasnya. Aku berhenti terdiam untuk sementara waktu, papa yang mengetahui keberadaanku, hanya menatapku dengan dingin dan kemudian pergi entah kemana dengan mobilnya.

Aku berjalan memasuki rumah, terlihat beberapa vas pecah dan mama sedang terduduk diam di sofa dengan mata yang sembab. “Mama kenapa?” tanyaku. Tidak ada jawaban dari mulut mama, ia hanya menatap kosong ke arah foto keluarga yang terpajang diatas meja. Mungkin mama masih membutuhkan waktu untuk berpikir, aku pun meninggalkannya sendirian dan mengurungkan niatku untuk membanggakan prestasiku kepadanya.

Di kamar, aku langsung meletakkan piala di meja belajarku kemudian merebahkan diri diatas kasur. Niat ku untuk tidur siang terurungkan, saat kakak memasuki kamar untuk mencari barangnya yang hilang. Perhatiannya teralihkan kepada pialaku, melihat keadaan tersebut secara refleks aku berkata, “Tadi ada penghargaan siswa dengan nilai ujian terbaik loh kak disekolah, dan Dio menang, hehe”. Seolah tidak didengarkan, ia langsung mengalihkan pandangannya dan hanya merespon “oh”. Hmmm, sejujurnya aku tidak terkejut apabila respon yang diberikan tidak sesuai ekspektasi. Karena aku mulai memahami bahwa hubunganku dengan saudaraku tidak seperti hubungan kakak beradik pada umumnya.

Malam telah tiba, aku menghampiri mama yang sepertinya keadaan hatinya mulai membaik.

“Ma, Dio tadi menang loh” ujarku memulai percakapan.

“Oh ya, menang apa nak?”

“Dio dapet nilai terbaik pas ujian kemaren, dan Dio dipanggil pas upacara tadi, keren nggak?” jelasku, dengan ekspresi bangga

“Wah, selamat ya nak. Mama bangga sama kamu” ujarnya sembari mengelus rambutku

Malam ini, senyuman itu kembali menghiasi wajah mama yang mulai keriput. Senyum yang sudah jarang, bahkan tidak pernah  nampak belakangan ini. Malam ini aku bisa tidur dengan perasaan bangga, karena bisa kembali menorehkan senyum di wajah mama.

Esoknya aku bangun dengan gembira, dan segera bergegas untuk pergi ke sekolah. Seperti biasanya, aku harus menemui mama terlebih dahulu untuk berpamitan dan mencium tangannya. Setelah kutelusuri seluruh penjuru rumah, aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mama. “Mungkin sedang ke pasar, aku berangkat dulu deh keburu telat” gumamku. Aku pun berangkat tanpa berpamitan kepada mama.

Aku duduk dipojok paling belakang tanpa ada seseorang pun yang menemani. Aku memandang keluar jendela, dan melihat murid-murid yang lain saling bercengkrama dan bermain dengan ceria di lapangan. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, sebenarnya aku juga ingin memiliki kehidupan sosial seperti mereka. Namun aku tidak tahu bagaimana caranya untuk memposisikan diriku di kehidupan mereka. Aku tersadar dari lamunanku ketika Bu Ika, guru matematika ku, memasuki kelas dan memulai pelajaran hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 13.30, bel berbunyi. Di perjalanan pulang, aku melihat seekor kucing betina yang sedang menggigit seekor ikan mentah, yang kemudian dibagikan kepada anak-anaknya. Membuatku teringat oleh sesosok mama yang sedang menunggu kehadiranku dirumah. Aku pun mempercepat langkahku untuk segera bertemu dengan mama. “Assalamualaikum, ma” ucapku sambil melepas sepatuku. Tidak ada sahutan, aku kembali menyusuri seluruh penjuru rumah, kondisinya masih sama seperti tadi pagi, tidak ada yang berubah. Tidak ada keberadaan mama di rumah. Dengan kecewa aku memasuki kamarku, dan tertidur hingga beberapa jam. Suara adzan membangunkanku, kulihat jam menunjukkan pukul 14.45, aku segera turun dan memeriksa keberadaan mama. Dan hasilnya tetap sama, mama belum pulang. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, papa pulang dengan wajah gusar, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi. “Pa, mama kemana?” tanyaku, ia tidak mendengarkanku dan langsung menuju kamarnya.

Hari demi hari telah berlalu, mama juga tidak kunjung pulang. Keadaan di rumah tidak ada yang berbeda. Yang berbeda hanyalah rasa kesepian ini semakin besar ditambah mama, satu-satunya teman dalam hidupku, sudah pergi meninggalkanku. Kakak ku sudah tidak pernah pulang ke rumah, karena sering dipukuli oleh papa, yang akhir-akhir ini tidak bisa mengendalikan emosinya. Keadaan ini membuatku semakin terpuruk, prestasiku mulai menurun, dan aku gagal dalam ujian akhir sekolah sehingga aku harus mengulang dan tidak dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Ketika aku pulang membawa hasil ujian ku, papa marah besar. Aku dipukuli hingga terdapat luka memar di punggungku. Setelah puas memukuliku, ia membanting pintu dan masuk ke dalam kamar. Aku hanya bisa menangis kesakitan. Tapi anehnya, aku tidak merasa kecewa terhadap hasil ujianku, menurutku rasa kecewaku terhadap mama yang pergi meninggalkanku begitu saja, lebih besar daripada hanya sekedar tidak lulus dalam ujian akhir. Seolah-olah aku sudah tidak memiliki harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Bagaimana tidak? satu-satunya rumah yang membuatku merasa nyaman telah pergi meninggalkanku, dan aku tidak tahu harus kemana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *