Sebuah Mantra Wibawa

Sebuah Mantra Wibawa

Oleh: Indigirka Agung Wulandari

Wasit arena pencak silat kewalahan saat aku menghajar lawan tandingku sampai babak belur. Melampiaskan amarah panas dari hatiku. Aku menjadi-jadi. Seperti neraka sedang membakar tubuhku, mengaliri nadiku pada setiap pukulan tangan dan tendangan kakiku. Puas rasanya menjadi manusia terkuat. Aku telah mencederai beberapa peserta, bahkan satu orang di antaranya dinyatakan kritis saat ini. Di usiaku yang ke-15 tahun, jurusku terlalu keji mengalahkan remaja yang tiga tahun lebih tua dariku, dalam sekali tekuk.

Ketika aku turun dari arena, pelatihku, Bang A‘an segera menghampiriku. Ia berbisik padaku, bahwa aku tak diberikan izin olehnya untuk mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat se-Jawa Timur. Ini semua dikarenakan diriku yang terlalu lemah dalam mengontrol emosi saat pertandingan. Aku tahu, aku tak punya ampun pada lawan-lawanku, tapi mengatakanku ‘lemah’, kemudian mengirimku berlatih pencak silat ke kampung terpencil adalah hal yang konyol. Kampung itu, merupakan tempat tinggal dari guru pencak silat yang mengajari Bang A‘an sejak kecil.

Kulepas kacamata hitamku dengan angkuh, di sana keluasan langit biru dan liku perbukitan membawaku pada pesona. Bibit-bibit padi yang tumbuh makmur seolah permadani raja yang tergelar lebar. Seketika, angin sejuk meniup poni rambutku. Tanaman dan pengairan yang begitu bening, nampak jelas ikan-ikan kecil di bawah air yang hidup bahagia.

Aku menghirup atmosfer segar yang sama dengan burung pipit yang berkicau di atas sarangnya, dan burung bangau putih yang terbang lepas bersama kawanannya. Aku merasa masuk dalam dimensi natural yang jauh berbeda dari tempat tinggalku biasanya. Indah. Satu kata yang menggambarkan semua yang kulihat barusan.

Aku menarik ranselku dan hendak memasuki sebuah rumah pondok tua. Bang A‘an menitipkanku pada seorang kakek yang dipanggilnya Aki Toyo. Ketika Bang A‘an sedang ngobrol panjang bersama Aki Toyo, aku buru-buru memasuki kamar yang disiapkan kakek itu untukku. Tanpa sepatah salam pada pemilik rumah, maupun salam akan berjumpa kembali pada Bang A’an. Pokoknya aku ingin semua ini segera berakhir. Dan aku malas bicara pada siapapun, sebelum tugasku di sini selesai.

Kamar ini seperti bukan kamar. Hanya terdiri dari ranjang bambu tanpa alas yang empuk, berlantaikan tanah, aku memandang langit-langit kamar, tampaknya atap bisa bocor sewaktu-waktu jika ada hujan badai. Heeh, apalagi dengung nyamuk di mana-mana. Tangan dan kakiku kutepuk-tepuk hingga serangga penyedot darah itu penyet di permukaan kulitku. Ini bukan kamar namanya, ini gudang!

Aku meletakkan ranselku di samping ranjang. Aku mengeluarkan handphone yang menyala sejak satu jam yang lalu. Ibu meneleponku berkali-kali, namun aku sengaja tidak mengangkatnya. Aku sudah bilang ada tambahan di luar kota, tapi kecemasan ibuku serba berlebihan, aku dilarangnya pergi. Jadi aku kabur saja.

Aku menyandarkan punggungku ke dinding bercat putih dari anyaman bambu. Saat memperhatikan ventilasi udara di atas rumah, terdengar suara “Kreeeek” di balik punggungku, ternyata dinding anyaman bambu itu sobek, karena tak bisa menahanku. Ini pasti akan merepotkan!

Pada sebuah pertandingan di kampung, sehabis Magrib, menjelang malam

Bagus Dwi namanya, laki-laki yang bersalaman denganku. Sejak pertama menatapnya, aku tak suka caranya beramah-tamah, karena terlalu basa-basi! Heh, pada akhirnya nanti, dia akan menyerah di bawah ketiakku!

Salah seorang kawan Bagus bertindak sebagai wasit, ia melangsungkan pertandingan antara Bagus dan diriku. Aku dengan kuasa langsung maju dan menggores cakarku di lengannya. Anak kampung yang kulawan ini…

“Nyalinya saja yang besar, tetapi lemah!” Ujarku kasar. Bagus tetap berusaha mengelak dari tendanganku, namun ia kubanting berkali-kali.

Teman-teman yang menyaksikan bergidik melihat aksiku. Mereka memanggil kakek tetua pencak silat untuk memisahkan perkelahian yang berat sebelah. Akan kubuktikan, Bang A‘an sudah salah menilaiku, aku bukan laki-laki lemah. Murid pencak silat di mana pun pasti tak sepadan dengan kemampuan yang kumiliki!

“Cukup!” Pandanganku teralihkan pada aba-aba dari Kakek Toyo yang mendekatiku. Tiba-tiba kakek itu mengangkat kakinya dan menjejalkannya ke arahku. Aku membentuk pertahanan di depan wajah. Terkejutnya, tendangan Kakek Toyo bukan ditujukan untukku. Melainkan mendarat di muka orang yang berpakaian hitam di belakangku. Orang itu rupanya telah mengawasi kedatanganku kemari.

“Mau apa dia?” Batinku.

BRUK! Laki-laki yang menyimpan pisau di sebelah tubuhnya itu, terpelanting. Ia tepar di tanah dengan wajah bercap kaki milik kakek, dan sebilah pisau tajam beracun tergeletak. Pisau itu hampir saja menembus perutku. Secara tak terduga, beberapa penyusup yang berpakaian serba hitam bermunculan. Mereka melakukan penyerangan pada murid-murid pencak silat yang ada di sana. Suasananya begitu kacau, sampai suara bariton keras, menjeda.

“DIAAAAAM…!!!”

Raja dari geng penyusup itu keluar dari kegelapan malam. Aku menyadari sosok itu adalah Karam, orang yang pernah menanggung malu setelah kukalahkan di suatu pertandingan pencak silat. Ia datang dengan wajah beringas dan aura pekat yang menyeramkan. Ia akan memenuhi sumpahnya untuk menjadi malaikat mautku. Aki, tanpa kuminta, berusaha untuk melindungiku.

“Cih, masa aku mau melawan tua b*ngka sepertimu?!” Seru Karam tanpa sopan santun.

“Maaf saja, di padepokan ini, kau tidak bisa lewat tanpa seizinku,” ucap Aki tanpa rasa takut.

“Kalau begitu kau sedang berhadapan dengan kuburanmu!” Seringai Karam pada Aki. Ia kemudian menoleh padaku. “Setelah ini kau yang akan kuremukkan!” Ujarnya menunjukku, lalu mengepalkan tangannya tinggi-tinggi. Ia melempar puntung rokok yang masih memerah ke lututku. Aku menghindar.

Pria jangkung bernama Karam itu, berdiri di lapangan. Keheningan malam berubah. Denyut adrenalin mengalir dari setiap nadi murid-murid pencak silat yang ada di pinggir arena. Untuk menghentikan bertambah banyaknya korban, Aki memutuskan bertanding satu lawan satu antar pemimpin kelompok.

Ki Toyo menyalakan obor di empat sisi sebagai penanda batas arena. Panas dan terbakar. Seperti itulah isi hati pemuda bertubuh raksasa yang bermulut serigala menyalak. Bibir hitamnya tersenyum hina pada maha guru pencak silat kampung ini. Ia meludah ke tanah, sekali lagi mengatakan ancaman, “dalam sekali serang… kau akan habis di tanganku!”

Ki Toyo tak menunjukkan tanda-tanda terpikat amarahnya. Ia tenang, setenang air. Membaca mantra perlahan di bibirnya. Mantra yang biasa ia ucapkan setelah sembahyang di musala. Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallahu allahu akbar. Raksasa itu maju menyerang Ki Toyo bertubi-tubi. Tendangan kaki besinya yang cepat tak terlihat mata, dihujamkan berkali-kali ke perut Aki. Seperti batu, perut Aki sama sekali tak terluka ataupun cedera. Ki Toyo menunggu saat yang tepat. Setelah Karam kehabisan tenaga untuk menghajar Aki, di situlah ia merasakan titik kelemahan Karam.

Aki kemudian menahan serangan tangan dan kaki Karam, lalu dengan cepat menekan syaraf-syaraf tubuh Karam, sehingga persendian lelaki itu lumpuh sementara. Terakhir, Ki Toyo menapakkan tangannya di depan tubuh lelaki raksasa itu, secara ajaib terpental tubuh besar Karam, tanpa disentuh. Karam menabrak tiang kayu di sudut arena, seketika menghancurkan kayunya, dan ia terjerembap kasar ke tanah, tanpa daya.

Pertandingan sengit itu kemarin telah usai. Semua murid Aki bisa kembali pulang dengan bernafas lega. Aku menemui Aki di pondok tuanya. Aku menyesali segala sikapku yang penuh keremehan padanya. Sekaligus berniat menjadi murid setia. Iris mata Aki yang legam menatapku. Kharismanya membuatku tertunduk.

“Ki, apa rahasianya menjadi sekuat Aki?”

“Pulanglah!” Katanya dengan suara tua yang pelan, tapi terdengar menyimpan wibawa.

“Saya ingin serius belajar pada Aki,” pintaku pada Aki.

“Pulanglah Arjun! Mohon restu orang tuamu,” tutur Aki sembari menepuk bahuku. Tiba-tiba aku merasa sangat merindukan sesuatu, yakni senyuman ayah dan ibu saat aku mengecup tangan mereka.

SEKIAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *