Sebuah Pekerjaan

Oleh : Dewangga Andhika Yuda

Jarum jam menunjukkan sekarang sudah jam 5 sore, aku sudah duduk disini hampir selama satu jam menunggu temanku, Daisy datang. Benar-benar sebuah kesalahan memiliki janji untuk bertemu dengannya, dan selalu, aku yang datang dahulu. Tapi sungguh, aku menyukai kafe ini. Kafe yang berdiri sejak aku masih di sekolah dasar, berdiri tepat di pusat kota London, berdiri tegak diantara gedung-gedung raksasa milik kapitalis ibu kota. Kafe yang masih kental dengan aura klasiknya, di dinding nya terdapat lukisan milik pelukis-pelukis terkenal, Pablo Picasso, Leonardo da Vinci, Rembrandt dan lainnya semakin membuatku betah untuk berlama-lama disini. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang. Segalanya serba pas. Hingga tak lama aku mendengar dering lonceng pintu pertanda ada seseorang yang masuk ke dalam kafe.

“Hai, Daniel…. maafkan keterlambatanku, kau tahu jalanan sangat….” kata Daisy dengan senyum pahitnya.

“Ya tak apa, kutahu orang sibuk sepertimu sangat sulit untuk membagi waktu yakan?” kupotong kalimat nya, tidak ada gunanya mendengar pernyataan yang sama berulang kali.

“Lantas, kenapa kita disini? Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan?” kuteruskan kalimatku

“Tidak ada, tidak ada yang serius… aku hanya ingin.. kau tahu, sedikit mengeluarkan beban pikiranku…. Hahaha… aku serasa tak punya ruang dirumah” Daisy mulai melontarkan keluh kesahnya. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampirinya

“Mau minum apa kak?” tanya pelayan tersebut

“Apapun yang bisa menenangkan” jelas Daisy

Tampaknya si pelayan terlihat kebingungan, dan dengan inisiatif kujelaskan apa yang dia inginkan

“Kopi hitam tanpa gula satu ya”

Si pelayan mengangguk dan pergi menjauh

“Kau mengenalku dengan baik ya… tak salah aku mengajakmu untuk bertemu”

“Ohh aku sudah mengenalmu selama hampir 15 tahun, dan akan sangat menyedihkan bila aku bahkan tak tahu selera mu yang rendah itu” jawabku ketus

“Ayolah Dan, berhentilah menyarkas, ibu kota sudah sempit dengan kurangnya lapangan pekerjaan dan kaupun semakin memperburuk keadaan. Di rumah pun, ibu ku selalu mengungkit masa lalu ku, kenakalan dan kemalasan ku waktu sekolah, mengait-ngaitkannya dengan kehidupanku sekarang yang menyedihkan ini. Kalau memang sudah terlanjur ya apa yang bisa kulakukan?, dan yang terburuk adalah, dia terus menggebrakku untuk mencari pekerjaan… memangnya hidup semudah apa yang dia katakana, hah?” intonasi Daisy meninggi, kutahu dia sangat kesal

“Entahlah, realitanya… apa yang ibumu katakan ada benarnya, kau juga paham dengan hal itu. Hei Daisy, orang tuamu itu orang terpandang, ayahmu seorang dokter dan ibumu adalah seorang jurnalis terkenal, ditambah lagi kakakmu sudah menjadi pilot minggu-minggu ini. Kupikir sangat wajar jika mereka ingin kau memiliki karir yang cemerlang seperti mereka, keluargamu, mereka ingin kau bahagia.” jelas ku.

“Kau tahu Dan, kau sama menyebalkannya seperti dia” jawab Daisy

Aku meminum kopiku yang sudah mulai dingin, dan berkata

“Hei, ibumu itu peduli denganmu, dan kau anggap itu menyebalkan?”

“Sangat sangat menyebalkan…”

“Huh, okelah… eh tapi aku tahu lowongan pekerjaan yang bagus” aku mulai bercerita padanya.

“Kau serius?” aku melihat rona berseri di pipinya.

“Ya, tapi aku tak tahu apakah menurutmu ini konyol atahu tidak.. dimana kau harus melakukan tugasmu setiap hari, 24 jam sehari, tidak ada hari libur dan tidak digaji.” aku menjelaskan dengan jelas

“Hahaha, kau ini memang tidak bisa serius ya Dan, mungkin akan lebih baik kalau kau diam saja…. Maaf dan aku masih waras, dan lagipula, orang bodoh mana yang mau mengambil pekerjaan itu?” dia terkekeh

Disaat yang bersamaan, pelayan datang membawakan segelas kopi yang dia pesan, dan tersenyum kepada kami. Kubalas senyumannya dan dia kembali ke belakang… lantas kujawab pertanyaan Daisy barusan.

“Ada, dia adalah ibumu, dulu merawatmu setiap hari, tak digaji… bahkan setiap saat, memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padamu, memikirkan bagaimana kau bisa hidup bahagia setiap waktu… dan, itulah yang barusan kau sebut dengan orang bodoh yang mengambil pekerjaan konyol itu… sudah ya, aku ada urusan di tempat lain, semoga kau lekas menemukan pekerjaanmu” kataku

Aku keluar dari kafe tersebut, dari kejauhan. kupandang dibalik kaca bening tempat dimana kami duduk tadi, terlihat dia termenung menitikkan air mata memandangi kopi panasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *