Surat Kecil Untuk Ayah

Oleh: Kiki Maritasari

            Ayah adalah sosok seorang laki-laki yang paling dekat dalam hidupnya. Ayah adalah sosok laki-laki yang paling menyanyangi putri kecilnya ini, yang tak pernah ingin putri kecilnya disakiti oleh siapapun. Ayah adalah sosok laki-laki yang tegas dan bijaksana, yang memanjakan putri kecilnya ini tapi tak selalu memanjakan terkadang ayahpun selalu mencoba untuk mendidik putri kecilnya ini menjadi sosok perempuan yang mandiri dan tangguh.

Kala itu, di sebuah ruangan ditengah rintik hujan dan langit yang sudah amatlah gelap, datang lah sosok laki-laki dengan keadaan baju yang basah dengan wajah yang amatlah terlihat lelah. Ia menghampiri putri kecilnya dengan mengucapkan salam “Assalmuallaikum,” lalu tersenyum dan mengelus rambut putri kecilnya sambil menayakan “Sudah makan nak? Bagaimana dengan harimu di hari ini? Ayo ceritakan ke ayah.”

Selelah apapun laki-laki itu, ia tetap menjadi sosok laki-laki yang berusaha untuk selalu dekat dengan putrinya yang selalu ingin tahu apa saja yang sudah dilalui oleh putri kecilnya itu selama ia berada di luar untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga.

Lambat laun putri kecilnya beranjak menjadi seorang putri yang dewasa, cantik, murah senyum, dan ramah kepada orang-orang di sekitarnya ataupun orang yang baru ia kenal. Tanpa putri itu sadari sosok laki-laki terdekatnya juga semakin menua, uban-pun semakin memenuhi rambutnya. Iya “AYAH” sudah mulai menua tidak segagah dulu saat aku kecil dan tanpa kusadari aku belum bisa membanggakan beliau seperti mimpiku dan janjiku pada beliau. Aku pun belum bisa membalas jasa beliau selama ini bahkan mungkin tidak mungkin bisa akan membalas jasa beliau yang amatlah luar biasa tapi aku tidak pernah berhenti berusaha dan terus berjuang untuk bisa membuat beliau bangga dengan putri kecilnya ini walaupun aku tahu ayah tidak pernah menuntut hal itu kepadaku.

Ayah kulitmu semakin gelap terkabar panas matahari. Menua akibat udara luar rumah yang tak menentu kadang diterpa panas matahari kadang juga diterpa derasnya hujan. Belum lagi debu-debu dan kabut asap jalanan yang menghinggapi kulitmu yang dulu cerah. Kulitmu yang sewaktu muda tak sekeras ini. Kau bekerja keras demi kebahagianku. Katamu kau tak ingin aku merasakan hal pahit yang kau rasakan sewaktu muda.

Ayah kau sudah banyak berkorban untuk putrimu ini sudah selayaknya kau mendapatkan sebentuk senyuman diusiamu yang tak lagi muda. Aku ingin menjadi anak yang membuatmu bahagia yang selalu menjadi obat penghilang lelahmu. Ayah aku mencintaimu, jika ada malaikat selain Ibu di dunia ini dia lah Ayah, seseorang yang tanpa pernah lelah memperjuangkan hidupku. Terima kasih ayahku yang luar biasa dari putri kecilmu yang masih belum bisa membanggakanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *