Taiwan Cultural and Creative Camp : KerabaTani Bawa Mahasiswa Bidikmisi UM Singgah di Negeri Naga Kecil Asia

Malang – Prestasi gemilang kembali diukir oleh mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang (UM) dalam ajang student exchange dengan Dayeh University, Taiwan. Kali ini mahasiswa Bidikmisi angkatan 2017 bernama Austin Fascal Iskandar yang akrab disapa Fascal ini berkesempatan mengunjungi Dayeh University dalam serangkaian acara Taiwan Cultural and Creative Camp (TCCC). TCCC adalah salah satu program kerja sama (student exchange) antara UM dengan Dayeh University yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang keterampilan berpikir kreatif dan praktik berbasis bisnis dari budaya dan industri kreatif di Taiwan. TCCC berlangsung selama enam minggu terhitung sejak 6 Juli 2018 sampai 24 Agustus 2018. Dilatarbelakangi oleh motivasinya yang kuat untuk terus menggali ilmu, menguatkan passion yang dimiliki, dan startup atau produk yang perlu dikembangkan membuat Fascal berhasil mengunjungi Taiwan, hal tersebut disampaikan Fascal saat Reporter Formadiksi UM News mewawancarainya,
“Saya memiliki motivasi yang kuat untuk terus menggali ilmu yang sedalam-dalamnya dan tentunya menguatkan passion yang saya miliki. Selain itu, saat ini sedang memiliki beberapa startup yang perlu untuk dikembangkan. Oleh karena itu, kepulangan saya di tanah air, sayapun berharap agar dapat memberikan sesuatu yang baru atau impact positif kepada semua pihak khususnya pada project startup yang saya miliki. Tentunya saya mengharapkan, kerja sama dengan Dayeh University bukan hanya sekadar sebatas ceremonial, tetapi diharapkan dapat berkelanjutan.” tuturnya.
Tidak mudah untuk tiba di Taiwan, Fascal harus melalui tahapan-tahapan yang bisa dikatakan cukup ketat. Terhitung lebih dari 150 kandidat bersaing agar bisa terbang ke Taiwan. Mereka yang ingin terbang ke Taiwan harus sudah memiliki startup dan lolos seleksi berkas, wawancara serta presentasi yang dilakukan tidak hanya sekali melainkan berkali-kali.
“Langkah-langkah seleksi program ini antara lain seleksi berkas. Berkas yang dikumpulkan adalah berupa file presentasi yang sudah didesain sedemikian rupa oleh pihak panitia. Kita juga perlu mencantumkan BMC (Business Model Canvas) dari startup yang kami kembangkan. Setelah itu wawancara, kemudian presentasi. Presentasi di sini tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Karena pada saat itu, terdapat lebih dari 150 kandidat yang harus diseleksi. Dengan adanya program ini, tim startup dan saya, berharap dapat menjalin kerja sama dengan para profesor di Dayeh University untuk mengembangkan KerabaTani,” jelas Fascal.
Startup yang diajukan oleh Fascal dan timnya adalah KerabaTani yaitu sebuah aplikasi yang ramah dengan dunia pertanian. Startup KerabaTani sudah mulai dikembangkan oleh Fascal dan tim sehingga diharapkan aplikasi ini dapat memberikan kemudahan dalam investasi pada lahan pertanian. Enam minggu di Taiwan, Fascal banyak belajar untuk membuat suatu produk tidak hanya dinikmati seninya namun juga memiliki nilai guna yang tinggi (creative goods) dan bagaimana mengembangkan aplikasi game, virtual reality (VR) dan augmented reality (AR). Pengalaman tersebut diceritakannya kepada Reporter Formadiksi UM News,
“Teknologi di Taiwan sudah berkembang sangat pesat. Teknologi yang saat ini paling gencar dikembangkan di Taiwan adalah pembuatan 3D modelling dan 3D animation, pembuatan game 2D dan 3D, serta AR dan VR. Di sana saya lebih banyak belajar tentang AR dan VR. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk bisa mencoba membuat sistem tersebut dan ingin sekali rasanya untuk bisa membagikannya kepada semua teman-teman saya khususnya mahasiswa Bidikmisi. Karena pada saat ini, penerapan AR dan VR, telah marak digunakan di berbagai aspek kehidupan yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih di berbagai hal. AR dan VR merupakan topik yang saat ini masih menjadi trend di dunia dan lebih banyak bergerak di industri-industri kreatif. Di Taiwan sudah banyak industri kreatif yang memanfaatkan teknologi tersebut,” ungkap Fascal.
Di akhir wawancara, Fascal menyampaikan beberapa tips agar mahasiswa Bidikmisi UM lainnya bisa pergi ke luar negeri serta tidak takut gagal dan tidak takut keluar dari zona nyaman. Tak lupa Fascal berpesan kepada mahasiswa Bidikmisi UM agar selalu bekerja keras, berusaha untuk meraih impiannya, tekun bekerja dengan passionnya, mencoba dan berkaryalah serta selalu berdoa untuk keberhasilan usaha yang telah dilakukan,
“Pastinya selalu bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih impian. Bekerjalah sesuai dengan passion yang dimiliki. Tekuni passion dan tetaplah bertahan walaupun harus melalui masa-masa sulit. Jangan pernah takut untuk gagal, keluarlah dari zona nyaman, mulailah mencoba dan berkarya. Jangan lupa untuk diimbangi pula dengan berdoa, karena doa tanpa usaha itu kebohongan dan usaha tanpa doa adalah kesombongan. Semoga kita semua dapat meraih impian-impian kita,” tutupnya. (Khusnul Khotimah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *