Temanku, Yulia

Temanku, Yulia

Dia adalah temanku, namanya Yulia. Rumah kami hanya berjarak taman kecil berisi satu pohon dan beberapa tanaman bunga. Pohon itu menghubungkan kamarku yang berada di lantai dua dengan kamar Yulia.

Sering kulihat saat tengah malam Yulia duduk di tangkai yang menjalar di dekat jendelanya. Bagaimana aku bisa tau? Apakah aku selalu tidur larut malam?

Pertama kali aku melihat Yulia seperti itu adalah dua tahun yang lalu. Siangnya ibuku bilang bahwa ada tetangga baru yang pindah ke rumah sebelah yaitu keluarga keluarga Pak Rama. AkuAku lumayan kaget karena Pak Rama adalah pemilik gedung apartemen yang bisa kulihat dari halaman belakang rumahku karena gedungnya sangat tinggi.

Kulihat dari rumahku, keluarga Pak Rama tiba dengan mobilnya. Terdiri dari seorang wanita dan lelaki paruh baya namun tak lama kemudian aku juga melihat anak perempuan yang terlihat seumuran denganku. Baiklah mungkin mulai besok kami bisa berteman.

Malam itu entah kenapa aku perutku tidak enak, kurasa masuk angin kemudian aku mencari kotak obat dan sialnya tadi sore kutinggal di balkon kamarku. Mau tak mau aku harus mengambilnya. Saat aku membuka pintu aku benar-benar kaget. Bagaimana tidak dipohon itu kulihat kuntilanak sedang duduk di salah satu tangkai pohon.

Tapi tunggu dulu,
Hei apa aku tidak salah lihat? Itu adalah anak perempuan yang tadi siang kulihat. Oh..itu adalah anak Pak Rama. Apa yang dia lakukan tengah malam begini? Apakah dia berinteraksi dengan hantu? Oh tidak, aku merinding sendiri.

Sejak saat itu aku salalu penasaran apa yang dilakukan anak Pak Rama. Aku menyetel alarm setiap jam dua belas malam untuk melihatnya.

Esoknya aku mulai berkenalan dengan Yulia. Dia adalah gadis yang pendiam, irit bicara dan matanya selalu tajam ketika mengamati sesuatu.

“Apa kau sudah kuliah atau masih SMA?” tanyaku dengan hati-hati. Aku takut dia tersinggung atau entahlah. Kalian pasti paham ketika mencoba untuk mengenal lebih dalam pada seseorang yang pendiam.
“Kuliah”
…………………………………………………..
Sudah, itu saja jawabannya.

Percayalah setelah 2 tahun sejak perkenalan itu, Yulia dekat denganku. Sering kali pulang kuliah kami berjalan-jalan di taman kota atau ke perpustakaan kota untuk bercerita bagaimana kuliah hari ini.

Namun hingga saat ini aku belum pernah bertemu keluarganya. Belum pernah ke rumahnya. Belum pernah mendengar dia tertawa. Yulia saat ini masih sama dengan Yulia yang aku ajak kenalan waktu itu.

Sekarang pukul dua belas tepat. Kusibak gorden jendelaku untuk melihat Yulia seperti biasanya. Tapi aneh, apakah Yulia sudah mengakhiri kebiasaannya duduk di pohon tengah malam? Kutengokkan kepalaku ke bawah.

Oh tidak apa yang kulihat?!
Aku ingin berteriak meminta tolong.
Aku ingin menutup mata dan tidak ingin melihat di bawah sana. Tapi aku tidak bisa sekadar menggerakkan jariku.

Kulihat Yulia bersama dengan seorang wanita berambut pirang yang menodongkan pisau padanya.
Oh Tuhan, ini tidak mungkin.
Tidak, tidak mungkin itu adalah ibuku.

Tiba-tiba Yulia menatapku dan tersenyum sangat cantik. Apa Yulia tersenyum?
Ini pertama kalinya Yulia tersenyum seperti itu.

KemudianKemudian kulihat wajah ibu. Namun aku menyesal. Mengapa ibu tega menusuk Yulia. Aku benar-benar lupa cara bernafas. Dadaku sesak. Pikiranku tidak fokus.

Entah bagaimana caranya ibu sudah berdiri di hadapanku memegang pisau yang digunakan menusuk Yulia.

Ibu mendekatiku. Dengan sangat pelan beliau menyayat pergelangan tanganku.

Tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi.

Tapi tunggu, kenapa aku tidak merasakan sakit. Justru ini nikmat, sangat nikmat. Aku merasa aku hidup.

“Lagi,” pintaku pada ibu. Ibu menggoreskan pisau di lenganku kali ini. Aku merasa semakin nikmat.

Kuminta lagi dan lagi hingga kedua lenganku penuh dengan sayatan.

Oh Tuhan. Ini sangat nikmat. Perlahan aku menutup mataku. Meresapi kenikmatan yang ku rasakan. Hingga aku menyadari sesuatu. Ya, Yulia tidak pernah ada. Ia hanya teman yang ku ciptakan sendiri. Jika Yulia pergi maka aku harus menyusulnya agar aku tidak kesepian lagi. Terakhir kudengar suara pintu yang didobrak bersamaan dengan suara wanita yang berteriak. Kemudian aku merasa kosong dan hampa.

~o0o~

Breaking News:
“Seorang remaja ditemukan tewas di rumahnya sendiri yang diduga bunuh diri. Setelah diotopsi terdapat narkoba yang dikonsumsi sekitar satu jam sebelum meninggal. Ibu korban mengaku bahwa dua tahun sejak beliau bercerai dengan suaminya anaknya menjadi pendiam. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa korban sudah mengonsumsi narkoba sejak lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *