TRADISI GELAR BUDAYA “PETIK LAUT” DUSUN PARSEAN-KARANG ANYAR KABUPATEN PROBOLINGGO

TRADISI GELAR BUDAYA “PETIK LAUT” DUSUN PARSEAN-KARANG ANYAR KABUPATEN PROBOLINGGO

Oleh:

Suci Setiya Rahayu 180751641509

Program Studi S1 Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Malang

E-mail: sucisetiyarahayu@gmail.com

 

ABSTRAK

Keberagaman budaya di Indonesia merupakan salah satu warisan bangsa. Kegiatan yang mencerminkan keberagaman budaya harus selalu diterapkan, karena demi tetap lestarinya budaya bangsa Indonesia. Kebudayaan di setiap daerah berbeda-beda. Dengan demikian, budaya di setiap wilayah memiliki keunikan masing-masing, mulai dari pembawaan acara, isi acara, prosesi kegiatan dari awal sampai akhir, hingga makna yang terkandung. Artikel ini mengkaji tentang gelar budaya salah satu wilayah Dusun Parsean-Karang Anyar Kabupaten Probolinggo, yaitu Gelar Budaya “Petik Laut” yang dilaksanakan pada setiap acara perayaan hasil tangkapan warga Desa Parsean-Karang Anyar, Kabupaten Probolinggo. Demi tetap lestarinya budaya tersebut maka setiap tanggal 14 bulan Muharam warga sekitar selalu berpartisipasi dalam acara Gelar Budaya “Petik Laut” tersebut. Gelar Budaya “Petik Laut” ini juga diadakan dengan tujuan adanya perwujudan rasa syukur atas rezeki melimpah yang telah diberikan kepada warga sekitar pantai pesisir ini.

Kata kunci: keberagaman, kebudayaan, budaya, Petik Laut, Gelar Budaya

 

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki banyak keberagaman. Keberagaman di Indonesia mulai dari suku, ras, agama, bahasa, etnis, adat istiadat, dan budaya. Keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan sebagian akibat dari jumlah pulau di Indonesia yaitu sekitar lebih dari 17.000 pulau dan hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni. Secara astronomis terletak di antara dua benua dan samudra, yaitu Benua Amerika dan Benua Australia serta Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia juga terletak tepat pada jalur khatulistiwa sehingga beberapa alasan itu menjadi penyebab keberagamannya. Oleh sebab itu, Indonesia memiliki semboyan pemersatu yaitu Bhineka Tunggal Ika yakni “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, memiliki makna keberagaman bukan menjadi masalah untuk tidak menyatukan aspirasi bangsa, sebab perbedaaan merupakan sebuah hiasan untuk mempersatukan bangsa dan tidak terpecah belah.

Keberagaman budaya di Indonesia merupakan salah satu warisan bangsa. Kegiatan yang mencerminkan keberagaman budaya harus selalu diterapkan karena demi tetap lestarinya budaya bangsa Indonesia. Kebudayaan di setiap daerah berbeda-beda. Budaya merupakan suatu cara hidup yang terbentuk dari banyak unsur yang rumit (agama, poltik, adat istiadat, bahasa, seni, dan lain-lain) serta berkembang pada sebuah kelompok orang atau masyarakat –dikutip dari laman (https://www.literasipublik.com) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 19.06 WIB. Dengan demikian, budaya di setiap wilayah memiliki keunikan masing-masing mulai dari pembawaan acara, isi acara, prosesi kegiatan dari awal sampai akhir, hingga makna yang terkandung. Artikel ini mengkaji tentang Gelar Budaya salah satu wilayah Dusun Parsean-Karang Anyar, Kabupaten Probolinggo, yaitu Gelar Budaya Petik Laut.

Gelar Budaya Petik Laut merupakan salah satu bentuk keberagaman budaya di salah satu wilayah Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo. Acara ini biasanya selalu diadakan oleh warga sekitar Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo setiap satu tahun sekali, yaitu pada tanggal 14 Muharam, tahun Hijriah sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Pencipta atas hasil tangkap nelayan selama bekerja. Pada acara Gelar Budaya Petik Laut ini dilaksanakan dalam beberapa prosesi mulai dari Pawai Budaya yang menampilkan berbagai bentuk pertunjukkan masing-masing perwakilan dusun. Hadrah yang memiliki keunikan, bapak-bapak menggunakan kostum seperti ibu-ibu, becak hias, kendaraan hias, dan masih banyak lagi. Prosesi yang paling menarik dalam Gelar Budaya Petik Laut yaitu Larung Sesaji. Setiap prosesi acara Gelar Budaya Petik Laut di Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo diikuti oleh setiap warga sekitar dan kepala desa wilayah tersebut. Dalam setiap tahunnya diharapkan sesi acara demi acara memberikan kesan menarik bagi yang berpartisipasi maupun tidak sehingga kritik dan saran dalam setiap acaranya selalu ada untuk mengembangkan Gelar Budaya Petik Laut di tahun-tahun berikutnya.

Topik pembahasan dalam artikel ini yaitu bagaimana bentuk keunikan-keunikan dalam acara Gelar Budaya Petik Laut Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo sehingga mampu mengenalkan budaya lokal ini kepada setiap masyarakat di wilayah Indonesia yang sebelumnya masih asing dengan budaya ini.

 

PEMBAHASAN

  1. Metode

Metode atau langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan artikel ini adalah dengan menggunakan studi pustaka/studi literatur. Topik mengenai budaya lokal dalam pembuatan artikel ini ditentukan sendiri, sedangkan sistematika berikutnya mulai dari pembuataan judul, abstrak, inti pendahuluan, hingga pembahasan menggunakan literatur baca mulai dari e-book, jurnal, artikel, makalah, laporan penelitian terdahulu, karya ilmiah, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lainnya. Dalam pembuatan artikel ini juga terdapat sistem mengumpulkan seluruh informasi yang terpercaya (relevan) dengan topik yang sudah ditentukan dari pembahasan sebelumnya. Metode studi pustaka ini dilakukan dengan mempelajari dan membaca beberapa literatur-literatur yang berkaitan dengan topik permasalahan yang menjadi objek pembahasan di dalam artikel.

  1. Gelar Budaya Petik Laut Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo

Gambar 1. Upacara Larung Saji

Sumber: www.google.com

 

Gelar Budaya Petik laut merupakan salah satu bentuk keberagaman budaya di salah satu wilayah Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo. Acara ini biasanya selalu diadakan oleh warga sekitar Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo setiap satu tahun sekali, yaitu pada tanggal 14 Muharam tahun Hijriah sebagai bentuk rasa syukur kepada sang Pencipta atas hasil tangkap nelayan selama bekerja. Pada acara Gelar Budaya Petik Laut ini dilaksanakan dalam beberapa prosesi mulai dari pawai budaya yang menampilkan berbagai bentuk pertunjukkan masing-masing perwakilan dusun. Hadrah yang memiliki keunikan bapak-bapak menggunkan kostum seperti ibu-ibu, becak hias, kendaraan hias, dan masih banyak yang lainnya lagi. Prosesi yang paling menarik dalam Gelar Budaya Petik Laut yaitu larung sesaji. Kepala Desa Tamansari Bapak Misnawi menyatakan bahwa Acara Gelar Petik Laut ini sebenarnya sangat rutin diadakan setiap tahunnya sebagai wujud rasa syukur warga atas rezeki yag telah mereka dapatkan dari Allah SWT., yang berupa ikan dan pertanian berupa bawang. Berikut beberapa penjelasan mengenai susunan acara yang dilaksanakan pada acara Gelar Budaya Petik Laut Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo antara lain:

  1. Pawai Budaya

Gambar 2. Pawai Budaya Petik Laut

Sumber: https://jatimtimes.com

Pawai budaya merupakan salah satu bentuk keragaman budaya Indonesia. Pelaksanaan pawai budaya bukan hanya ada di acara-acara besar  seperti Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) saja pada setiap tahunnya, melainkan juga pada acara-acara kecil yang diadakan oleh dusun, desa, maupun kota. Pawai budaya merupakan iring-iringan sekelompok orang yang biasanya dilakukan di jalan raya, umumnya dilakukan dengan menggunakan kostum unik ciri khas budaya, diiringi musik dalam suatu upacara ataupun acara tertentu –dikutip dari laman (https://id.wikipedia.org), diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 19.23 WIB. Pawai budaya yang dilakukan oleh warga sekitar pada saat acara Gelar Budaya Petik laut di Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo dengan menampilkan beberapa aneka pertunjukkan dari perwakilan masing-masing dusun. Rute pada saat acara Pawai Budaya yaitu mengelilingi Desa Tamansari. Banyak warga desa sekitar yang tidak berpartisipasi dalam acara ikut memeriahkan dengan menonton di bahu-bahu jalan desa. Dalam pawai budaya ini setiap warga perwakilan dusun yang berpartisipasi harus mempersembahkan berbagai sesaji dari hasil bumi setempat yang pada prosesi akhir nantinya akan dilarungkan di laut.

 

  1. Hadrah

Kesenian hadrah selalu dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian dalam agama Islam yang dalam prosesi pelaksanaannya diiringi dengan rebana (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair pujian ataupun zikir yang dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hadrah dikenal sebagai media khotbah, wirid, dan pembacaan Al-Qur’an. Hadrah yang dilaksanakan pada acara Gelar Budaya Petik laut di Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo yaitu dengan keunikan menampilkan bapak-bapak yang menggunakan kostum seperti ibu-ibu, memainkan alat musik untuk mempertunjukkan salah satu ciri khas budaya wilayah tersebut.

 

  1. Becak Hias dan Kendaran Hias

Gambar 3: Kapal Mesin Hias Petik Laut

Sumber: www.beritametro.news

 

Becak hias merupakan salah satu bentuk prosesi acara yang dilakukan pada saat Gelar Budaya Petik laut di Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo. Becak Hias pada acara Gelar Budaya Petik laut ini memiliki keunikan, di mana becak dihias dengan berbagai macam pernik-pernik untuk menarik penonton dibuat sesuai dengan kreativitas pemilik becak tersebut. Misalnya pernak-perniknya, yaitu bunga-bunga, buah-buahan, dan sayuran hasil bumi, serta pernik yang lainnya. Selanjutnya yaitu kendaraan hias. Kendaraan hias yang biasa diikutkan dalam acara ini yaitu mobil pick up dan kapal mesin yang dihiasi dengan hasil bumi mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, ikan, dan lain sebagainya.

 

  1. Larung Sesaji

Gambar 4. Prosesi Larung Saji Probolinggo

Sumber: www.timesindonesia.co.id

 

Larung sesaji juga salah satu bentuk prosesi acara yang dilakukan pada saat Gelar Budaya Petik laut di Dusun Parsean-Karanganyar, Kabupaten Probolinggo. Larung sesaji ini dilaksanakan pada akhir prosesi acara. Pada larung sesaji ini dilakukan dengan mengarak sesaji mengelilingi desa, kemudian warga menggunakan kapal besar untuk melarungkan sesaji dengan isi seluruh hasil bumi mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, ikan, hewan ternak, dan lain sebagainya ke tengah laut. Kapal yang digunakan adalah milik nelayan warga desa sekitar Dusun Parsean-Karang Anyar bertindak sebagai tuan rumah.

Gambar 5. Kirab Kapal untuk Dilarungkan

Sumber: www.Tribunnews.com

 

KESIMPULAN

Kesimpulannya yaitu keberagaman budaya merupakan salah satu warisan bangsa yang harus di jaga dan tetap di lestarikan. Keberagaman budaya pada setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Salah satu keberagaman budaya yang saya temui yaitu Gelar Budaya Petik Laut di Dusun Parsean-Karang Anyar Kabupaten Probolinggo. Dengan prosesi acara yang menarik dari awal hingga akhir. Prosesi acara mulai dari Pawai Budaya yang menampilkan berbagai bentuk pertunjukkan masing-masing perwakilan dusun, Hadrah yang memiliki keunikan bapak-bapak menggunkan kostum seperti ibu-ibu, Becak Hias, Kendaraan Hias, dan Larung Saji. Tiap-tiap prosesi acara memiliki pesan yang tersirat dan bermakna.

Kita sebagai salah satu penerus bangsa harus tetap melestarikan setiap budaya lokal yang ada di sekitar kita, berani menyuarakan pendapat demi mengenalkan budaya lokal kepada yang lainnya sehingga budaya yang ada di sekitar kita tetap lestari sampai keturunan yang berikutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Karmadi, Agus Dono. 2007. Budaya lokal sebagai warisan budaya dan upaya pelestariannya.

Dari laman (https://core.ac.uk) diakses pada tanggal 7 Desember 2019.

Mayasari, Ratna. 2012. Eksistensi Kesenian Dolalak Sebagai Kebudayaan Daerah di Desa Mlaran Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Dari laman (https://digilib.uns.ac.id) diakses pada tanggal 7 Desember 2019.

Mubah, A. Safril. 2011. Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi: Jurnal Unair 24 (4), 302-308. Dari laman (https://journal.unair.ac.id) diakses pada tanggal 7 Desember 2019.

Ritual Petik Laut, Persembahan Bentuk Rasa Syukur: KOMPAS TV dipublikasikan pada tanggal 13 September 2019, dari laman (https://www.youtube.com) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 21.13 WIB.

Hadrah Al Banjari Nurul Hidayah Probolinggo: Pondok Pesantren Nurul Jadid dipubilkasikan pada 17 November 2018, dari laman (https://www.youtube.com) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 21.24 WIB.

Dari laman (https://kumpara.com) di akses pada tanggal 6 Desember 2019, pukul 23.46 WIB.

Dari laman (https://media-abpedsi.com) di akses pada tanggal 6 Desember 2019, pukul 23.47 WIB.

Dari laman (https://www.timesindonesia.co.id) diakses pada tanggal 6 Desember 2019, pukul

23.47 WIB.

Dari laman (https://www.beritametro.news) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 00.22 WIB.

Dari laman (https://1001indonesia.net) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 19.41 WIB.

Dari laman (https://www.literasipublik.com) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul

19.41 WIB.

Dari laman (www.timesindonesia.co.id) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 22.01 WIB.

Dari laman (www.google.com) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 21.37 WIB.

Dari laman (https://jatimtimes.com) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 21.45 WIB.

Dari laman (www.beritametro.news) diakses pada tanggal 7 Desember 2019, pukul 22.00 WIB.

One thought on “TRADISI GELAR BUDAYA “PETIK LAUT” DUSUN PARSEAN-KARANG ANYAR KABUPATEN PROBOLINGGO”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *