Usaha Tak Mengkhianati Hasil : Inilah Ketiga Pemenang LKTI Mahasiswa Bidikmisi Tingkat Nasional Formadiksi UM 2018

Malang – Penantian para grand finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mahasiswa Bidikmisi Tingkat Nasional Formadiksi UM akhirnya berakhir dengan diumumkannya para jawara bersamaan dengan Seminar Bidikmisi Bersyukur pada hari Sabtu (25/08) kemarin. Dari total 15 grand finalis terpilihlah 5 tim yang berhasil membawa pulang trophy untuk almamaternya.

TOP (Teleath Of Pronalis) : Solusi Pencegahan dan Pengelolaan Penyakit DM melalui Aplikasi Berbasis Telehealth adalah judul karya tulis yang berhasil meraih juara pertama. “(Saya) kaget sekali karena awalnya tak menduga (akan memenangkan kompetisi ini). Kita lihat (persaingan) peserta sangat ketat sehingga kami juga sempat pesimis. Ini sangat surprise sekali tapi Alhamdulillah, Qodarullah (saya) mendapatkannya.” Ujar Asep Sholahuddin selaku ketua tim. Mahasiswa bidikmisi asal Universitas Padjadjaran ini juga memberi pesan kepada para finalis yang belum memenangkan kompetisi ini untuk tetap semangat karena masih banyak peluang di kompetisi lain dan inovasi dari para finalis sangatlah luar biasa. “Tetap semangat, mungkin bukan di sini jalannya. Tapi semoga kedepannya masih banyak peluang dan potensi untuk mengikuti lomba lagi. Dan saya lihat dari inovasi – inovasinya (sangat) luar biasa dan dapat diterapkan.”

Selain mendapat hadiah sejumlah uang tunai, para pemenang juga mendapat voucher beasiswa dari Enter English di seluruh Indonesia. Semua itu tidak semerta merta mereka dapatkan dengan mudah. Pasti telah banyak yang mereka korbankan, misalnya waktu, seperti yang dikatakan oleh Muhammad Sotya Ajisewoko selaku ketua tim Universitas Gadjah Mada yang berhasil menduduki posisi ke tiga. ”Kami mempersiapkan untuk LKTI ini dalam 2 bulan. Sedangkan untuk hambatannya hanya masalah waktu karena kesibukan kami seperti kuliah, kepanitiaan, dan proyek lainnya juga butuh waktu.” ujarnya.

Kesulitan demi kesulitan juga dialami oleh sang runner up demi mendapat hasil data yang akurat, ” Ini kan kita sudah melakukan pengujiannya, kita juga mengalami kendala seperti contohnya kita mengambil kayak data pijakannya itu menunggu sekitar jam 7 sampai jam 9 malam. Kita menunggu berapa kendaraan yang lewat disitu, itu benar-benar butuh usaha yang sangat keras dan Alhamdulillah usaha tidak akan mengkhianati hasil dan mendapat juara dua.” tutur Fajar. Kedepannya, tim ini akan terus mengembangkan inovasinya agar bermanfaat bagi masyarakat. “Untuk harapan dan targetnya tentu kita akan mengembangkan inovasi ini karena sudah mendapat masukan dari para juri-juri yang hebat dan kita akan lebih mengaplikasikan inovasi ini sehingga inovasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat yang ada di Indonesia”. (Iftah Maulidiya dan Siska Amalia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *