KEBENCIAN PEMBAWA BERKAH
Oleh : Eka Dwi Putri
Bel masuk berbunyi pertanda bagi semua siswa untuk masuk ke kelasnya masing-masing. Hari ini adalah hari pertama di mana tahun ajaran baru dimulai. Jadi pada pertemuan ini guru yang mengajar hanya melakukan perkenalan saja tanpa ada pemberian tugas. Tak biasanya, kelas X IPS 1 tampak hening. Hampir semua siswa-siswi terlihat kecewa, sedih, dan tidak bersemangat. Begitu juga dengan Senja, seorang gadis yang duduk di kursi paling belakang. Ia hanya diam dan melamun ketika guru sedang memperkenalkan diri. Meskipun beberapa guru melontarkan guyonan untuk mencairkan suasana di kelas itu, tetap saja Senja tidak merasa senang. Semua basa-basi maupun motivasi baginya seperti hembusan angin yang cepat berlalu di telinga. Anehnya bagi Senja waktu terasa begitu sangat lambat. Pergantian jam dari satu mapel –mata pelajaran– ke mapel lainnya bagaikan menanti buah dari pohon yang baru berkecambah. Ia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan mengadu kepada orang tuanya.
Sesampainya di rumah, Senja ngedumel dan memohon kepada ibunya untuk pindah jurusan. Bagaimana tidak, hasil tes jurusan ternyata membawa gadis yang sangat menyukai mata pelajaran IPA itu masuk ke jurusan IPS, jurusan yang paling dibencinya terutama mata pelajaran sejarah.
“Ibu, besok pindahin aku ke jurusan IPA yaa, aku gak mau masuk IPS,” ucap Senja sambil merengek. Sudah menjadi kebiasaannya jika apa yang didapat tidak disukai maka ia akan kecewa dan merengek kepada ibunya.
“Sudahlah nduk, mau masuk jurusan IPA atau IPS itu sama aja. Yang penting itu niat buat sekolah, belajar, nuntut ilmu sama usahamu. Toh nanti juga sama-sama sukses kalo kamu sungguh-sungguh.”
“Tapi aku kan gak suka IPS buk…”
“Halah itu kan cuma masalah waktu, lama-lama kamu juga bakal suka di jurusan IPS. Jalani aja apa yang ada dengan semangat baru, nduk. Jangan lupa ibadahnya juga. Lillahi Ta’ala” timpal ibu dengan sabar.
Mendengar jawaban dari ibunya yang tidak sesuai dengan ekspektasi, Ia merasa semakin kesal. Akhirnya Senja masuk kamar meninggalkan ibunya yang berada di ruang keluarga dan menangis sendirian di dalam.
Tak terasa satu bulan telah berlalu tapi Senja tetap tidak bersemangat ketika sekolah. Apalagi saat ia tau bahwa kedua temannya dipilih oleh Bu Westy (wali kelas Senja) menjadi perwakilan untuk mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Surabaya. Senja semakin merasa bahwa dirinya sangat tidak berbakat masuk jurusan IPS. Semangatnya pun semakin surut. Sembari melihat temannya itu, ia berbincang-bincang dengan Cece, teman sebangkunya dengan nada bicara putus asa.
“Eh, Ce gimana ya nanti? Sekarang kamu udah suka gak masuk jurusan ini?” tanya Senja kepada Cece.
“Yaa gitu deh. Mau gimana lagi. Suka gak suka ya tetep aja dijalanin. Jujur aja ya, sampe sekarang aku masih gak ridho’ masuk ini jurusan.” Jawab Cece dengan nada pasrah dan agak kesal.
Beberapa hari kemudian Senja dipanggil ke ruang BK –Bimbingan Konseling– untuk menghadap wali kelasnya, Bu Westy. Dengan badan gemetaran ia pun berjalan menuju ruang BK. Dalam hati ia bertanya-tanya tentang apa kesalahannya, “Perasaan aku gak pernah buat masalah deh. Aduh ada apa ya? Kok tiba-tiba aku dipanggil sih.” Ketika sudah sampai di depan ruang BK, Senja mengumpulkan niat dan memberanikan diri untuk masuk.
“Assalamu’alaikum, Bu Westy.” Ucap Senja dengan ketakutan.
“Waalaikumussalam. Oh iya, sini Senja ayo duduk di sini. Gimana kabarnya?” jawab Bu Westy dengan ramah tanpa ada tanda-tanda ingin memarahi Senja.
“Alhamdulillah, baik bu. Maaf sebelumnya saya dipanggil kesini ada apa ya bu? Apa ada peraturan sekolah yang telah saya langgar?”
“Oh nggak, kok. Kamu sama sekali tidak pernah ada catatan melanggar tata tertib di sekolah ini. Jadi gini, alasan ibu panggil kamu kesini itu karena 2 minggu lagi kan bakal ada olimpiade ekonomi secara beregu. Satu regu itu ada tiga orang. Nah kakak kelasmu itu mau ikut tapi kurang satu anggota. Kamu mau ya ikut jadi satu tim dengan kakak kelas? Soalnya kalo diliat-liat nilai ekonomimu itu paling menonjol dari teman-teman satu angkatanmu.”
“Saya bu???” jawab Senja dengan terkaget-kaget. Seketika ia merasa senang, terkejut, takut, semua campur aduk menjadi satu.
“Ya iyalah, kan kamu yang ibu panggil.”
“Kok bisa saya bu? Padahal saya benci semua mata pelajaran IPS. Saya sangat tidak suka masuk di jurusan ini bu.”
“Hmm, iya aneh ya. Dari awal kamu memang sudah bilang mau pindah jurusan. Tapi kan hasil tes nya nunjukin kalo bakat dan kemampuan kamu itu ada di bidang IPS. Buktinya nilai IPS (ekonomi, geografi, dan sosiologi) kamu bagus semua. Terus letak bencimu itu di mana?”
Mendengar tanggapan dari Bu Westy tersebut membuat Senja secara spontan bercerita tentang permasalahan mengenai keberadaannya di jurusan IPS, “Jadi gini Bu Westy, selain kebencian saya terhadap pelajaran IPS ada juga faktor lain yang membuat saya gak mau masuk jurusan ini. Sebenarya Saya malu bu, masuk jurusan IPS. Dari dulu jurusan ini dipandang sebelah mata, dianggap jurusan yang isinya anak-anak nakal alias gak bener. Bahkan kebanyakan orang bilang kalo anak pinter itu masuknya pasti di jurusan IPA. Makanya saya dari dulu ingin pindah jurusan bu. Saya takut di cap sebagai anak berandalan seperti anggapan orang-orang. Saya juga merasa iri dengan teman-teman yang masuk IPA.”
Seakan mengerti situasi dan perasaan Senja, Bu Westy pun menanggapinya dengan menceritakan pengalaman serta perjuangan di masa lalunya yang penuh kegagalan hingga bisa berdiri sampai di titik sekarang ini. Bu Westy menjawab, “Ooh jadi itu alasan kamu ngotot pindah jurusan dan melawan hasil tes ya? Untuk masalah persepsi atau omongan orang-orang tentang IPS ternyata kamu juga ikut terpengaruh yaa. Yah memang stigma buruk tentang anak IPS itu susah dibasmi. Tapi ingat, bukan berarti semua anak IPS akan menjadi berandalan. Kamu tahu Senja? Dulu ibu juga mengalami hal yang sama. Jadi dulu ibu itu sangat membenci pelajaran matematika. Saking bencinya, ibu juga tidak suka dengan guru matematikanya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Ibu malah menjadi murid kesayangan guru matematika itu. Banyak hal tak terduga ketika ibu mulai belajar menyukai apa yang dibenci. Terasa sulit memang tapi kalo kamu berusaha kamu pasti bisa. Cobalah untuk beradaptasi.”
Setelah lama berbincang-bincang membahas ini dan itu, Bu Westy juga memberi Senja wejangan. Dengan wajah tersenyum Bu Westy berkata, “Ingat Senja, jangan membenci sesuatu yang kita sendiri tidak tahu baik-buruknya dengan jelas. Bisa jadi apa yang kamu benci justru menjadi ladang berkah bagimu.” Seketika Senja terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Ia kagum dengan wali kelasnya yang terbuka dan tidak malu untuk menceritakan masa sulit hidupnya tanpa dibuat-buat.
Sejak saat itu Senja sadar untuk tidak menilai atau melihat sesuatu hanya dari sisi buruknya. Kini Senja kembali semangat dalam menjalani kehidupannya. Ia juga berjanji untuk selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mengahdapi tantangan maupun menyelesaikan masalah seperti apa yang telah dilakukan oleh Bu Westy, wali kelasnya.
