Namaku Naila. Siswa kelas XI di SMA Negeri 4 Jakarta. Tanggal 1 Juni tahun ini jatuh di hari Sabtu, kami tetap diwajibkan masuk untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Bagi banyak siswa, ini terdengar seperti hukuman. “Serius lo, disuruh upacara di hari libur? Buat apaan sih Pancasila, kayak masih dipakai aja,” celetuk Dinda, sahabatku, sambil memainkan HP-nya.
Aku hanya mengangkat bahu, meski diam-diam aku setuju. Di kepalaku, Pancasila hanya sekadar hafalan lima baris dari SD. Di dunia nyata, apa gunanya? Kita masih lihat orang beda agama bertengkar di media sosial. Orang kaya makin kaya, yang miskin terpinggirkan. Jadi, nilai-nilai mulia itu, ada di mana?
Upacara pagi itu berlangsung dengan cepat. Tapi yang membuatku terkejut, bukan bendera atau pidato dari kepala sekolah, melainkan sesi “Cerita Pancasila” setelahnya. Beberapa siswa diminta membagikan kisah nyata tentang bagaimana mereka melihat nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama maju adalah Bimo, siswa kelas XII yang dikenal cuek. Ia bercerita tentang ayahnya yang bekerja sebagai relawan penyelamat saat banjir. Mereka menyelamatkan orang tanpa tanya agama atau asal usul. “Kemanusiaan yang adil dan beradab itu nyata, waktu kita berhenti lihat beda, dan mulai lihat butuhnya,” kata Bimo. Suaranya bergetar, tapi tegas.
Lalu Nita, siswa pindahan dari Papua, maju. Ia bercerita tentang masa awal masuk sekolah, saat ia merasa terasing karena kulitnya lebih gelap dan logatnya berbeda. “Tapi waktu aku hampir pulang ke Papua karena nggak tahan, teman sekelas mulai duduk bareng aku. Ajak ngobrol. Ngajarin pelajaran. Waktu itu aku merasa mungkin persatuan itu bukan dongeng,” katanya dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
Aku terdiam. Tak pernah aku benar-benar memikirkan bahwa teman di sebelahku mungkin merasa seperti orang asing. Tak pernah juga aku membayangkan bahwa ayah Bimo yang terlihat biasa saja adalah orang yang rela masuk rumah kebanjiran demi orang lain. Sepulang dari sekolah, aku melihat ibu sedang membagikan nasi bungkus ke pemulung di dekat warung. Ia melakukan itu setiap minggu. “Kenapa, Ma?” tanyaku. Ibu menatapku. “Kalau kita bisa berbagi, ya berbagi. Itu hak semua orang untuk makan dan dihargai.” Sejak saat itu aku menyadari bahwa di rumah, di sekolah, bahkan di jalan—Pancasila itu hidup. Bukan di podium atau spanduk, tapi dalam tindakan kecil yang menghidupkan nilai-nilai besar.
Sejak hari itu pula, aku mulai memperhatikan sekelilingku dengan cara berbeda. Aku mulai membantu Nita dalam pelajaran. Aku mulai bicara di kelas tentang keadilan, meski suara gemetar. Suara gemetar, hingga aku mulai percaya bahwa pancasila milik masa lalu, tapi cahaya yang harus terus dijaga. Ketika tiba saatnya di tanggal 1 Juni berikutnya, aku tak lagi mengeluh soal upacara. Karena aku tahu, hari itu bukan hanya tentang mengenang, tapi tentang “mengingat untuk menghidupkan”.
