Angin sore berhembus pelan di halaman kampus. Spanduk bertuliskan “Peringatan Hari Sumpah Pemuda” terbentang di depan aula. Mahasiswa lalu-lalang dengan wajah lelah, sebagian datang hanya untuk absen, sebagian lagi sibuk membuat vlog bertema kebangsaan untuk lomba kampus.
Di antara keramaian itu, Raka, mahasiswa semester tiga jurusan Pendidikan Sejarah, duduk di tangga taman kampus sambil menatap bendera merah putih yang berkibar malas di ujung tiang.
“Lucu, ya,” gumamnya pelan. “Kita masih memperingati Sumpah Pemuda, tapi kayaknya udah nggak ngerti maknanya.”
Di sampingnya, Dita, teman satu kelas yang sedang memegang segelas es kopi, tersenyum miring. “Iya, Rak. Sekarang orang lebih sibuk debat di media sosial. Kadang cuma beda logat aja udah diributin. Padahal dulu mereka rela berdebat buat nyatuin bangsa.”
Raka mengangguk pelan. Sebagai mahasiswa sejarah, ia merasa heran melihat teman-temannya mulai abai pada nilai-nilai yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Beberapa hari kemudian, kelas mereka mendapat tugas dari dosen Kewarganegaraan.
“Buat proyek mini tentang Semangat Persatuan di Era Digital,” kata dosen itu tegas. “Gunakan kreativitas kalian, tapi jangan lupa maknanya.”
Awalnya semua tampak berjalan lancar, sampai grup diskusi mereka berubah jadi arena perdebatan.
“Ngapain sih repot-repot ngomongin persatuan? Fokus aja sama nilai, nggak usah sok nasionalis,” tulis salah satu anggota kelompok di grup chat.
Yang lain malah menimpali dengan candaan soal logat daerah dan asal kampung.
Raka menatap layar ponselnya lama. Ia tidak marah, tapi kecewa. Ia merasa sumpah tentang satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa kini hanya tinggal teks dalam buku pelajaran.
Hari demi hari berlalu. Ketika kelompok lain sibuk membuat video dengan efek dan musik heroik, Raka justru memilih ide sederhana. Ia dan Dita mewawancarai beberapa mahasiswa dari berbagai daerah di kampus. Ada yang dari Aceh, Manado, Kalimantan, hingga Papua. Mereka diminta berbicara dalam bahasa Indonesia, menceritakan bagaimana rasanya hidup dan belajar di kota besar, jauh dari rumah.
Salah satu mahasiswa Papua berkata dengan mata berbinar, “aku jauh dari rumah, tapi di sini aku belajar kalau Indonesia itu bukan cuma tempat lahirku. Indonesia itu tempat di mana orang-orang mau jalan bareng tanpa lihat asalnya.”
Kalimat itu membuat Raka diam lama. Ia merasa itulah makna sejati dari Sumpah Pemuda, bukan sekadar hafalan, tapi kesadaran.
